ISTAF Bebaskan Tujuh Pemain Thailand dari Proses Disipliner Terkait Insiden Final Piala Dunia

ISTAF Bebaskan Tujuh Pemain Thailand dari Proses Disipliner Terkait Insiden Final Piala Dunia
Sekjen ISTAF yang juga Presiden ASTAF Datuk Halim Kader (kiri) bersama Pengurus PB PSTI Dadang Rachmat (kanan) saat berada di Jakarta, belum lama ini. (Foto: istimewa)

SUDUTPANDANG.ID – Federasi Sepak Takraw Internasional (ISTAF) memutuskan untuk membebaskan tujuh pemain tim nasional sepak takraw Thailand dari proses disipliner terkait insiden yang terjadi pada partai final TM ISTAF Sepaktakraw World Cup Kuala Lumpur 2026 pada 24 Mei lalu.

Keputusan tersebut diumumkan pada Rabu (24/6/2026) setelah Komite Eksekutif dan Komite Disiplin ISTAF menelaah banding serta penjelasan yang diajukan oleh Takraw Association of Thailand (TAT) yang dipimpin Presiden Thana Chaiprasit dan Sekretaris Jenderal Dr. Srihasak Arirachakaran.

Dalam pernyataannya, ISTAF menyampaikan apresiasi atas dukungan TAT terhadap proses disipliner yang sedang berlangsung serta komitmennya untuk bekerja sama penuh dalam memastikan seluruh fakta dan keadaan terkait insiden tersebut dapat dipaparkan secara utuh.

Setelah meninjau kasus tersebut, ISTAF menyimpulkan bahwa tujuh pemain dari Regu Pertama dan Regu Kedua Thailand tidak akan menghadapi proses disipliner karena keterlibatan mereka dinilai sangat terbatas dalam peristiwa yang berujung pada terhentinya pertandingan final.

BACA JUGA  Sudan Butuh Damai, Jamaah Muslimin Serukan Pemerintah RI Bergerak Proaktif

Sebagai pengganti proses disipliner, ketujuh pemain tersebut akan menerima peringatan resmi dan diwajibkan menandatangani surat pernyataan yang menegaskan kembali komitmen mereka terhadap sportivitas, penghormatan kepada perangkat pertandingan, serta kepatuhan terhadap Konstitusi, Peraturan, dan Regulasi ISTAF.

Menurut ISTAF, para atlet dari Regu Pertama dan Regu Kedua telah menyelesaikan pertandingan masing-masing dan hanya memiliki keterlibatan kecil dalam insiden yang sedang ditinjau. Federasi menilai tidak adil dan tidak tepat untuk memasukkan individu yang tidak terlibat langsung dalam pokok perkara ke dalam proses disipliner utama.

Namun demikian, proses disipliner terhadap lima pemain dari Regu Ketiga Thailand, beserta pelatih dan manajer tim terkait, akan tetap berlanjut sesuai dengan ketentuan disipliner yang berlaku di ISTAF.

ISTAF menyatakan bahwa proses tersebut bertujuan untuk mengungkap fakta dan menentukan tanggung jawab melalui mekanisme yang independen dan tidak memihak.

Meski proses disipliner masih berlangsung, federasi menegaskan bahwa insiden tersebut tidak seharusnya mengurangi reputasi Thailand sebagai salah satu negara paling berpengaruh dalam sejarah perkembangan sepak takraw.

BACA JUGA  Potensi Cuaca Ekstrem Masih Tinggi, Kepala BNPB Minta Pemda Tingkatkan Kewaspadaan

Selama beberapa dekade, Thailand telah memainkan peran penting dalam perkembangan olahraga ini dengan melahirkan generasi pemain, pelatih, dan ofisial berkelas dunia yang turut mengangkat standar sepak takraw internasional serta menginspirasi pertumbuhan olahraga tersebut di berbagai negara.

Masa Depan Sepak Takraw Thailand

Sekretaris Jenderal ISTAF Datuk Abdul Halim Kader mengatakan, federasi tetap menaruh kepercayaan terhadap masa depan sepak takraw Thailand. Menurutnya, satu insiden tidak dapat mendefinisikan sebuah negara yang memiliki rekam jejak panjang dalam olahraga tersebut.

“Thailand adalah negara besar dalam sepak takraw dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari keluarga besar sepak takraw dunia. Satu insiden yang tidak diharapkan tidak menentukan masa depan sebuah negara yang telah memberikan kontribusi begitu besar bagi olahraga ini,” kata Abdul Halim dalam keterangnnya.

Ia menambahkan, meskipun disiplin merupakan prinsip penting dalam olahraga, ISTAF juga percaya pada pendidikan, pembinaan dan kesempatan kedua.

BACA JUGA  Polrestabes Surabaya Berhasil Sita Narkoba Senilai 127 Miliar Selamatkan 881 Ribu Jiwa

“ISTAF percaya pada penegakan disiplin ketika diperlukan, tetapi kami juga percaya pada pendidikan, rehabilitasi, dan kesempatan kedua. Kami yakin Thailand akan bangkit lebih kuat dari pengalaman ini dan terus menginspirasi dunia melalui semangat, prestasi, dan komitmennya terhadap sepak takraw,” ujar Abdul Halim.

Ia menyatakan bahwa proses disipliner terhadap pemain, pelatih dan ofisial tim yang masih menjadi subjek penyelidikan hingga kini terus berjalan.

“ISTAF berkomitmennya untuk menjaga integritas olahraga sepak takraw sekaligus memastikan prinsip keadilan, due process, dan penghormatan terhadap seluruh pihak yang terlibat tetap terjaga,” tegasnya.(red)