JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID – Meningkatnya minat masyarakat terhadap dunia trading diiringi dengan maraknya penawaran investasi dan edukasi yang menjanjikan keuntungan besar dalam waktu singkat.
Kondisi tersebut membuka peluang munculnya berbagai modus penipuan atau scam trading, terutama yang menyasar para pemula dengan minim pengalaman di pasar keuangan.
Trader sekaligus edukator Jafar Tri Maulana atau yang dikenal dengan nama Japsku mengingatkan masyarakat agar tidak mudah tergiur dengan janji keuntungan instan yang banyak beredar di media sosial.
Menurutnya, pola pikir yang menganggap trading sebagai jalan pintas untuk menjadi kaya menjadi celah yang kerap dimanfaatkan oknum tidak bertanggung jawab.
Jafar mengatakan, saat ini banyak konten di media sosial yang menampilkan keuntungan fantastis dari aktivitas trading.
Namun, masyarakat perlu memahami bahwa apa yang ditampilkan belum tentu menggambarkan kondisi sebenarnya.
Ia menilai, budaya memamerkan keuntungan tanpa menjelaskan proses, risiko, maupun strategi yang digunakan dapat membentuk persepsi keliru, khususnya bagi mereka yang baru mengenal dunia trading.
“Industri ini butuh kepastian memang. Tidak masalah kalau ada yang memamerkan profit trading besar, tetapi harus punya pikiran bahwa profit instan bukan berarti benar-benar instan. Tidak ada profit instan, rata-rata profit instan akan habis dalam semalam,” kata Jafar dalam keterangan tertulisnya, Selasa (4/8/2026).
Menurut pemilik akun Instagram @japsku, calon trader harus memiliki sikap kritis terhadap berbagai promosi yang menawarkan keuntungan tinggi dalam waktu singkat. Sebab, karakteristik pasar keuangan pada dasarnya selalu mengandung risiko sehingga tidak ada keuntungan yang benar-benar dapat dijamin.
Jafar juga mengingatkan agar masyarakat tidak mudah percaya kepada seseorang hanya karena sering memperlihatkan hasil keuntungan besar di media sosial.
“Logika sederhananya, seorang guru yang benar-benar guru tidak akan memamerkan keberhasilannya kepada murid yang baru mulai belajar,” ujarnya.
Ia menilai edukator yang baik seharusnya lebih banyak membagikan pemahaman mengenai proses belajar, pengelolaan risiko, serta cara mengambil keputusan di pasar dibanding sekadar menunjukkan keuntungan.
Menurut Jafar, langkah pertama untuk menghindari scam trading adalah membangun fondasi pengetahuan sebelum mulai bertransaksi.
Pemahaman mengenai analisis teknikal, analisis fundamental, dan manajemen risiko menjadi bekal utama yang harus dimiliki setiap trader.
Ia menegaskan bahwa trading bukanlah aktivitas yang dapat menghasilkan keuntungan secara konsisten tanpa proses belajar yang panjang.
“Belajar basic yang ingin digeluti seperti teknikal, fundamental dan penerapan risk management sambil mengumpulkan modal. Untuk bertahan, jangan hanya mengandalkan trading,” tutur pria yang juga memiliki akun TikTok @japsku.com.
Selain itu, Jafar menyarankan agar masyarakat tidak menjadikan trading sebagai satu-satunya sumber pendapatan. Diversifikasi penghasilan dinilai penting untuk mengurangi tekanan psikologis ketika menghadapi fluktuasi pasar.
Dalam keterangannya, Jafar juga menyoroti fenomena fear of missing out (FOMO) yang semakin sering terjadi di kalangan investor maupun trader pemula.
Banyak orang, menurutnya, memutuskan masuk ke pasar hanya karena melihat orang lain memperoleh keuntungan, tanpa memahami mekanisme maupun risiko yang menyertainya.
Akibatnya, keputusan investasi sering kali diambil berdasarkan emosi, bukan hasil analisis yang matang.
Jafar menilai faktor psikologis justru menjadi penyebab terbesar kegagalan seorang trader. Ia memperkirakan sebagian besar kerugian bukan disebabkan oleh strategi yang buruk, melainkan karena ketidakmampuan mengendalikan emosi saat menghadapi pergerakan pasar.
“Rata-rata orang rugi di trading bukan karena teknikalnya, tetapi karena dirinya sendiri. Jangan ganti strateginya, tapi ganti pola pikirnya dan terapkan money management,” katanya.
Karena itu, ia mendorong setiap trader memiliki jurnal evaluasi yang berisi catatan transaksi, keuntungan, kerugian, hingga alasan di balik setiap keputusan yang diambil.
Menurutnya, kebiasaan tersebut dapat membantu trader mengevaluasi kesalahan, memperbaiki strategi, serta menghindari keputusan impulsif yang berpotensi menimbulkan kerugian lebih besar.
Jafar juga menilai citra negatif dunia trading selama ini muncul karena banyak pihak lebih fokus mempertontonkan keuntungan dibanding memberikan edukasi yang benar kepada masyarakat.
Kondisi tersebut membuat banyak pemula mudah terbawa euforia, kemudian masuk ke pasar tanpa bekal pengetahuan yang memadai.
Ketika mengalami kerugian, mereka kemudian menganggap seluruh aktivitas trading identik dengan penipuan.
“Industri ini sudah rusak citranya karena banyak yang memamerkan profit, bukan ilmunya. Pemula akhirnya FOMO dan berujung rugi karena kesalahan tersebut,” ujarnya.
Ia mengingatkan masyarakat agar lebih selektif dalam memilih mentor, komunitas, maupun sumber belajar.
Calon trader sebaiknya memastikan materi yang dipelajari berfokus pada edukasi, pengelolaan risiko, serta pemahaman pasar, bukan sekadar janji keuntungan cepat.
Di akhir keterangannya, Jafar kembali menegaskan bahwa keberhasilan dalam trading tidak dapat diraih secara instan. Dibutuhkan proses belajar yang berkelanjutan, disiplin menerapkan manajemen risiko, kemampuan mengendalikan emosi, serta kesabaran dalam menghadapi dinamika pasar.
Menurutnya, masyarakat yang memahami prinsip-prinsip tersebut akan memiliki peluang lebih besar untuk menghindari berbagai modus scam trading sekaligus membangun kemampuan berinvestasi secara sehat dan berkelanjutan.
Dengan meningkatnya literasi keuangan, diharapkan semakin banyak masyarakat yang mampu membedakan antara edukasi yang kredibel dan promosi yang hanya menjanjikan keuntungan tanpa dasar yang jelas. (09/AGF).




