BOGOR-JABAR, SUDUTPANDANG.ID – Lembaga konservasi satwa liar eksitu (dii luar habitat alami) yang juga objek wisata nasional Taman Safari Indonesia (TSI) Bogor, Jawa Barat, Selasa (9/6/2026), memperkenalkan kepada publik, bayi dan juga induk betina panda raksasa ((Ailuropoda melanoleuca), setelah lebih kurang enam bulan bayi panda yang diberi nama oleh Presiden Prabowo dengan Satrio Wiratama lahir, dan menandai keberhasilan program konservasi panda di Indonesia.
Kegiatan perdana diperkenalkannya bayi panda yang karib disebut Rio itu, dihadiri Direktur Konservasi Spesies dan Genetik, Kementerian Kehutanan (Kemenhut), Dr. Ahmad Munawir, S.Hut, M.Si mewakili Menhut, Atase Kebudayaan Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok di Indonesia, Wang Siping Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (Kementan) Dr. drh. Agung Suganda M.Si, dan Bupati Bogor, Rudy Susmanto, serta trio pendiri TSi Group, Jansen Manansang, M.Sc, Frans Manansang, dan Tony Sumampau.
Hadir dalam acara ini adalah Kementerian Kehutanan yang diwakili oleh Bapak Dr. Ahmad Munawir, S.Hut, M.Si., Direktur Konservasi Spesies dan Genetik, Perwakilan Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok Wang Siping, Atase Kebudayaan Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian RI Dr. drh. Agung Suganda M.Si, dan Bupati Bogor Rudy Susmanto
“Taman Safari Indonesia hari ini menegaskan kembali capaian penting dalam pengelolaan konservasi panda raksasa melalui perkembangan positif Rio (Satrio Wiratama), panda raksasa yang lahir di Indonesia pada 27 November 2025 dan dibesarkan di Istana Panda Indonesia, Taman Safari Indonesia, Bogor” kata Jansen Manansang.
“Pada usia 190 hari, Rio dinyatakan berada dalam kondisi sehat berdasarkan hasil pemeriksaan kesehatan menyeluruh dan menunjukkan pertumbuhan yang optimal sesuai standar pemantauan konservasi internasional,” tambahnya.
Rio lahir pada 27 November 2025 dari pasangan panda raksasa Hu Chun dan Cai Tao. Pada usia 190 hari, dengan berat badan mencapai 12 kilogram.
Ia menjelskan panda muda ini telah menunjukkan pencapaian yang melampaui standar rata-rata untuk kelasnya. Rio mendemonstrasikan kemampuan berjalan mandiri, memanjat, serta aktivitas interaksi dengan lingkungan yang terus meningkat. Perkembangan gigi dan fungsi seluruh indra Rio berjalan normal, menunjukkan vitalitas dan adaptabilitas yang optimal dalam iklim tropis Indonesia.
Jansen menyatakan bahwa kKeberhasilan pengembangbiakan panda raksasa di Indonesia merupakan pencapaian besar yang membuktikan kapasitas dan komitmen Indonesia dalam konservasi spesies langka tingkat global.
Prosesnya, kata dia, memerlukan pemantauan reproduksi cermat, nutrisi presisi, dukungan tim dokter hewan, ahli reproduksi, dan animal keeper berpengalaman, semuanya dilakukan dengan mengacu pada standar internasional serta panduan dari China Wildlife Conservation Association (CWCA) dan China Conservation and Research Center for the Giant Panda (CCRCGP).
Dalam memperkenalkan Rio kepada publik, TSI menempatkan kesejahteraan satwa sebagai prioritas utama. Seluruh proses dirancang dengan mempertimbangkan prinsip kesejahteraan satwa (animal welfare), termasuk pengaturan area pandang, arus kunjungan, tingkat kebisingan, dan waktu observasi yang optimal.
Dikemukakannya bahwa tim kesehatan profesional TSI terus melakukan pemantauan intensif setiap hari untuk memastikan kesehatan, pertumbuhan, dan perkembangan perilaku Rio.

Sementara itu Vice President (VP) Life Science TSI, drh. Bongot Huaso Mulia, dalam laporannya pihaknya terus melakukan pemantauan secara intensif atas kondisi bay panda itu.
“Kami terus mengembangkan kemampuan Rio melalui program pelatihan terstruktur yang disesuaikan dengan kebutuhan perkembangannya. Rio tidak hanya sekedar panda yang sehat, tetapi representasi nyata dari komitmen ilmiah dan dedikasi dalam konservasi,” katanya.
Pasangan induk panda bernama Hu Chun dan Cai Tao tiba di Indonesia pada 2017 sebagai bagian dari “Panda Diplomacy” bilateral, merayakan enam dekade hubungan diplomatik antara Indonesia dan Tiongkok.
Penempatan pasangan panda ini di Taman Safari Indonesia merupakan hasil perjanjian kemitraan konservasi selama 10 tahun yang ditandatangani oleh kedua pemerintah, menjadikan kelahiran Rio sebagai bukti nyata kolaborasi konsisten kedua negara dalam upaya pelestarian keanekaragaman hayati global.
Nama “Satrio Wiratama,” yang berarti “pejuang pemberani dan mulia” dalam bahasa Jawa, dipilih oleh Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, menekankan pentingnya konservasi spesies yang terancam punah dan nilai-nilai mulia dalam upaya pelestarian alam.
Kehadiran Rio telah menarik perhatian jutaan masyarakat Indonesia, khususnya anak-anak dan generasi muda. Panda muda ini tidak hanya menjadi daya tarik wisata edukasi berkualitas, tetapi juga sarana pembelajaran mengenai konservasi satwa liar, pentingnya perlindungan habitat, dan nilai kerja sama internasional dalam menjaga spesies terancam punah.
Sedangkan Direktur Operasional PT Taman Safari Indonesia, Esther Manansang, menambahkan kerja-kerja kolaboratif konservasi satwan telah menunjukkan keberhaasilan yag optimal
“Rio adalah bukti nyata bahwa ketika standar ilmiah, dedikasi tim, dan kemitraan internasional berjalan secara terpadu, pencapaian yang luar biasa menjadi mungkin. Taman Safari Indonesia memikul tanggung jawab ini dengan sepenuh komitmen bukan semata sebagai lembaga konservasi, melainkan sebagai mitra strategis Indonesia dalam menjaga warisan hayati dunia,” katanya.
Keberhasilan ini menunjukkan bahwa konservasi dan pengembangbiakan panda raksasa dapat dilakukan secara berhasil di negara beriklim tropis melalui penerapan standar kesejahteraan satwa yang tinggi, dukungan ilmu pengetahuan, penelitian terapan, dan komitmen jangka panjang dari berbagai pihak, kata Esther Manansang.
Bupati Bogor Rudy Susmanto menyebut kemunculan perdana Rio menjadi momen bersejarah karena merupakan panda raksasa pertama yang lahir di Indonesia.
Ia menilai kelahiran Rio menjadi warisan penting bagi upaya pelestarian satwa langka sekaligus menunjukkan komitmen Indonesia dalam mendukung konservasi global.
“Kami memberikan warisan terbaik untuk bumi, yaitu lahirnya baby giant panda pertama di Republik Indonesia,” demikian Rudy Susmanto. (Red/02)
.





