JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID – Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) mencatat peningkatan signifikan dalam hasil tes kebugaran wasit berlisensi C1 dan C2 yang bertugas di kompetisi Liga 3, Liga 4, Elite Pro Academy (EPA), hingga Soreatin Cup musim 2026/2027.
Peningkatan tersebut dinilai menjadi sinyal positif bagi kualitas perangkat pertandingan di level kompetisi kelompok umur dan liga bawah. Ketua Komite Wasit PSSI Yoshimi Ogawa menyebut tingkat kelulusan tes kebugaran wasit mengalami lonjakan dibandingkan musim sebelumnya.
“Wasit C1 dan C2 yang bertugas di kelompok umur dan liga bawah, tingkat kelulusan mereka meningkat pesat. Itu adalah sinyal positif yang sangat baik untuk masa depan,” kata Yoshimi Ogawa dalam acara Refereeing Workshop for Media di Jakarta, Kamis.
Berdasarkan catatan Komite Wasit PSSI, tingkat kelulusan tes kebugaran wasit yang bertugas di Liga 3 atau Nusantara ke bawah pada musim 2026/2027 mencapai 91,2 persen.
Angka tersebut meningkat tajam dibandingkan musim kompetisi sebelumnya yang berada di level 68,5 persen. Dengan demikian, terdapat peningkatan sebesar 22,7 poin persentase dalam tingkat kelulusan wasit.
Peningkatan juga terjadi pada kelompok asisten wasit. Tingkat kelulusan tes kebugaran asisten wasit meningkat dari 74,3 persen pada musim sebelumnya menjadi 97,8 persen pada musim 2026/2027.
Menurut Ogawa, hasil tersebut menunjukkan semakin banyak wasit yang memahami pentingnya menjaga kondisi fisik. Kebugaran menjadi salah satu aspek utama yang harus dimiliki seorang wasit sebelum dipercaya memimpin pertandingan.
Ia menjelaskan, tes kebugaran yang diberikan kepada wasit bukanlah ujian yang mudah. Salah satu rangkaian tes mengharuskan wasit melakukan lari sejauh 75 meter dalam waktu maksimal 15 detik, kemudian dilanjutkan berjalan sejauh 25 meter dalam waktu 18 detik.
Rangkaian lari dan jalan tersebut dilakukan secara berulang hingga mencapai 40 kali. Tes itu dirancang untuk mengukur kemampuan wasit dalam menjaga intensitas gerak selama pertandingan.
Selain itu, peserta juga menjalani tes sprint sejauh 40 meter sebanyak enam kali. Dalam tes tersebut, setiap peserta harus mampu menyelesaikan lari dengan batas waktu maksimal 6,0 detik.
Wasit juga menjalani tes kelincahan atau agility. Pengujian dilakukan dengan pola perubahan arah, termasuk bergerak 10 meter ke samping sebelum dilanjutkan dengan sprint.
“Tes wasit itu tidak mudah,” ujar Ogawa.
Ia menegaskan, kebugaran fisik merupakan fondasi utama bagi seorang wasit. Kondisi fisik yang prima diperlukan agar wasit mampu mengikuti jalannya pertandingan dan mengambil keputusan secara tepat sepanjang laga.
Menurut Ogawa, wasit yang tidak memenuhi standar kebugaran tidak akan ditugaskan untuk memimpin pertandingan.
“Tanpa kebugaran yang prima, mereka tidak akan kami tugaskan,” katanya.
Komite Wasit PSSI juga mendorong para pengadil pertandingan untuk menerapkan pola hidup layaknya atlet profesional. Hal tersebut dilakukan karena tuntutan fisik seorang wasit selama pertandingan cukup tinggi.
Ogawa mengatakan, para wasit kini mulai menyadari pentingnya latihan rutin dan asupan nutrisi. Mereka dituntut memahami jenis makanan yang perlu dikonsumsi untuk menunjang kebugaran serta makanan yang sebaiknya dihindari.
Pemahaman mengenai nutrisi dinilai penting karena kondisi tubuh sangat memengaruhi kemampuan wasit dalam menjalankan tugas di lapangan. Karena itu, pembinaan tidak hanya dilakukan melalui latihan fisik, tetapi juga melalui edukasi mengenai pola konsumsi.
Komite Wasit PSSI memberikan pengarahan kepada para wasit agar mendisiplinkan diri dalam menjalankan program latihan. Mereka juga diminta menjaga pola makan dan menerapkan kebiasaan hidup sehat secara konsisten.
“Mereka harus menjadi atlet, karena rata-rata dalam satu pertandingan 90 menit, mereka bergerak sejauh 11 hingga 12 kilometer,” jelas Ogawa.
Tuntutan tersebut menunjukkan bahwa profesi wasit membutuhkan kesiapan fisik yang tidak kalah penting dibandingkan pemain. Wasit harus mampu mempertahankan konsentrasi dan mobilitas selama 90 menit pertandingan.
Peningkatan tingkat kelulusan tes kebugaran wasit PSSI di Liga 3 dan kompetisi di bawahnya menjadi salah satu indikator positif dari proses pembinaan perangkat pertandingan.
Dengan tingkat kelulusan yang mencapai 91,2 persen untuk wasit dan 97,8 persen untuk asisten wasit, PSSI berharap kualitas perangkat pertandingan semakin merata di berbagai jenjang kompetisi.
Komite Wasit PSSI pun akan terus mendorong para wasit untuk menjaga kebugaran, meningkatkan disiplin latihan, serta memperhatikan pola nutrisi.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kualitas perwasitan Indonesia secara berkelanjutan. (09/AGF).











