Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) Dorong Transformasi Pendidikan yang Adaptif di Era Digital

Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) Dorong Transformasi Pendidikan yang Adaptif di Era Digital
Kegiatan Pembinaan Komunitas Belajar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pasuruan. (Foto: Dok. Disdikbud Kota Pasuruan)

PASURUAN-JATIM|SUDUTPANDANG.ID – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Pasuruan kembali melanjutkan kegiatan Pembinaan Komunitas Belajar (Kombel) yang berlangsung di Aula Ki Hajar Dewantara. Pada hari kedua, Selasa (23/6/2026), materi yang disampaikan berfokus pada Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) sebagai bagian dari upaya transformasi pendidikan untuk menjawab tantangan perkembangan teknologi di abad ke-21.

Kegiatan menghadirkan narasumber Rahadia Wiyos Hastono, Pengembang Teknologi Pembelajaran Ahli Muda dari BBGTK Provinsi Jawa Timur yang memiliki pengalaman dalam berbagai pelatihan, di antaranya Pelatihan Bakal Calon Kepala Sekolah (BCKS), Pembelajaran Mendalam, serta Koding dan Kecerdasan Artifisial.

Kegiatan Disdikbud diikuti oleh kepala sekolah, pengawas sekolah, serta perwakilan ketua dan sekretaris MGMP SMP se-Kota Pasuruan.

Dalam pemaparannya, Rahadia Wiyos Hastono menjelaskan bahwa Koding dan Kecerdasan Artifisial bukan sekadar penguasaan teknologi, melainkan sarana untuk membangun kemampuan berpikir komputasional, pemecahan masalah, kreativitas, kolaborasi, serta literasi digital yang dibutuhkan murid di masa depan.

Oleh karena itu, implementasi KKA di sekolah perlu dipahami sebagai bagian dari transformasi pendidikan yang mempersiapkan generasi muda menghadapi perkembangan dunia yang semakin terdigitalisasi.

Narasumber menegaskan bahwa kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) telah hadir dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari, mulai dari mesin pencari, aplikasi penerjemah, sistem rekomendasi, hingga berbagai platform pembelajaran digital.

BACA JUGA  Pemkab Sidoarjo Gelar Upacara Peringati Hari OTDA ke-29

Karena itu, sekolah perlu memberikan pemahaman yang tepat kepada murid agar mampu memanfaatkan teknologi secara bijak, bertanggung jawab, kreatif, dan produktif.

Dalam kegiatan tersebut, narasumber juga menjelaskan bahwa implementasi Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) di satuan pendidikan dirancang secara fleksibel sesuai dengan regulasi pendidikan yang berlaku.

Sekolah diberikan otonomi untuk menentukan model pelaksanaan yang paling sesuai dengan kondisi, kebutuhan, dan sumber daya yang dimiliki. KKA dapat diterapkan melalui tiga skema, yaitu sebagai mata pelajaran mandiri, terintegrasi dengan mata pelajaran lain, atau melalui kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler.

Pada skema pertama, KKA dapat diselenggarakan sebagai mata pelajaran mandiri atau pilihan dalam struktur kurikulum sekolah. Model ini memungkinkan pembelajaran berfokus secara khusus pada pengembangan literasi digital, algoritma, berpikir komputasional, dan pemrograman. Implementasi ini sangat ideal bagi sekolah yang telah memiliki sarana laboratorium komputer yang memadai serta didukung oleh guru Informatika atau TIK yang kompeten.

Skema kedua adalah integrasi KKA ke dalam mata pelajaran yang telah ada. Pada mata pelajaran Matematika, misalnya, konsep koding dapat digunakan untuk memperkuat kemampuan pemecahan masalah, logika, dan berpikir sistematis.

Sementara pada mata pelajaran IPA, pemanfaatan algoritma dan teknologi digital dapat membantu murid dalam melakukan pemodelan, simulasi, maupun analisis data hasil pengamatan.

BACA JUGA  Andhara Early Curhat Sudah Pisah dengan Bugi Ramadhana

Pendekatan ini sejalan dengan konsep Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) karena membantu murid menghubungkan pengetahuan dengan konteks nyata secara lebih bermakna.

Adapun skema ketiga adalah melalui kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler. Dalam model ini, KKA dapat diwujudkan dalam bentuk klub robotika, ekstrakurikuler coding, pengembangan aplikasi sederhana, maupun proyek berbasis teknologi lainnya.

Melalui kegiatan tersebut, murid memiliki ruang yang lebih luas untuk berkreasi, berinovasi, dan mengembangkan keterampilan abad ke-21 tanpa terbatas pada pembelajaran di dalam kelas.

Dengan fleksibilitas tersebut, setiap sekolah memiliki kesempatan yang sama untuk mengimplementasikan KKA sesuai kesiapan masing-masing. Yang terpenting bukanlah kecanggihan perangkat yang dimiliki, melainkan komitmen sekolah dalam membangun budaya berpikir komputasional, kreativitas, kolaborasi, dan literasi digital sebagai bekal murid menghadapi tantangan masa depan.

Dalam sesi diskusi, peserta memperoleh pemahaman mengenai pentingnya integrasi KKA dalam pembelajaran lintas mata pelajaran. Koding tidak harus dipahami sebagai kemampuan membuat program yang kompleks, tetapi sebagai proses melatih pola pikir logis, sistematis, dan terstruktur dalam menyelesaikan masalah.

Sementara kecerdasan artifisial dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, memperkaya sumber belajar, serta mendukung diferensiasi pembelajaran sesuai kebutuhan murid.

Selain itu, peserta diajak memahami bahwa penggunaan kecerdasan artifisial harus tetap berlandaskan nilai-nilai karakter, etika, dan kemanusiaan. Teknologi bukan untuk menggantikan peran guru, melainkan menjadi alat yang membantu menciptakan pembelajaran yang lebih efektif, personal, dan relevan dengan kebutuhan zaman.

BACA JUGA  Museum Kepresidenan Balai Kirti Bogor Gelar Pameran Digdaya Wastra

Melalui kegiatan Pembinaan Komunitas Belajar ini, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pasuruan menunjukkan komitmennya dalam memperkuat kapasitas pendidik menghadapi era transformasi digital.

Diharapkan para guru mampu menjadi penggerak inovasi pembelajaran yang memanfaatkan teknologi secara bijak, sehingga lahir generasi yang tidak hanya cakap digital, tetapi juga berkarakter, kreatif, adaptif, dan siap menghadapi tantangan masa depan.

Kegiatan berlangsung interaktif dan mendapat antusiasme tinggi dari peserta. Melalui penguatan kompetensi Koding dan Kecerdasan Artifisial, sekolah diharapkan semakin siap mewujudkan pendidikan yang relevan, inklusif, dan berorientasi pada kebutuhan murid di era digital.(ACZ)