Pameran Lukisan Anwar Rosyid Usung Pesan Sosial dan Refleksi Publik

Pameran Lukisan Anwar Rosyid Usung Pesan Sosial dan Refleksi Publik
Irjen Pol (Purn.) Dr Susilo Teguh Raharjo, M.Si., (kanan) saat menyampaikan sambutan di acara pameran lukisan karya pelukis Anwar Rosyid yang dihadiri Komjen Pol (Purn.) Dr. Chryshnanda Dwilaksana, M.Si., di Balai Budaya, Jakarta Pusat, pada Jumat (22/5/2026).(Foto: istimewa)

JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID – Pameran lukisan bertema “Li Bi Do Re Mi Fa Sol La Si Do” karya pelukis Anwar Rosyid di Balai Budaya, Jakarta Pusat, pada Jumat (22/5/2026), menghadirkan pesan sosial sekaligus ruang refleksi publik terhadap berbagai persoalan yang terjadi di tengah masyarakat.

Melalui karya-karya bergaya visual kartun dengan perpaduan warna kontras dan garis-garis tegas, Anwar Rosyid mengangkat beragam isu sosial, mulai dari ketimpangan ekonomi, persoalan urban, hingga polarisasi sosial.

Pameran tersebut mendapat apresiasi dari Kepala Satuan Tugas Pusat Studi Ilmu Kepolisian Irjen Pol (Purn.) Susilo Teguh Raharjo yang menilai karya seni dapat menjadi medium efektif untuk menyampaikan kritik sosial secara lebih humanis dan komunikatif.

BACA JUGA  GOR Ki Mageti Jadi Lokasi Digelarnya Final Livoli Divisi Utama

“Karya seni memiliki kekuatan untuk menyampaikan kritik sosial dengan cara yang lebih mudah diterima masyarakat, sekaligus mengajak publik untuk merenung,” ujar Susilo dalam keterangan yang diterima, Senin (25/5/2026).

Menurutnya, pendekatan visual yang digunakan Anwar Rosyid mampu menyampaikan pesan serius tanpa terkesan menggurui. Humor yang ditampilkan dalam karya-karya tersebut dinilai efektif untuk membangun kesadaran publik terhadap berbagai persoalan sosial.

Susilo mengatakan, penggunaan simbol-simbol sosial dalam lukisan juga membangun narasi yang kuat tentang realitas kehidupan masyarakat modern.

“Penggunaan simbol sosial yang terpadu membuat karya ini tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki kedalaman makna,” katanya.

Ia menambahkan, teknik campuran yang digunakan dalam lukisan memperkuat pesan yang ingin disampaikan. Fragmen-fragmen visual yang tampak saling bertabrakan dinilai menggambarkan dinamika sosial yang kompleks di tengah masyarakat urban.

BACA JUGA  Listrik Padam, 20 pasien, Termasuk 6 Bayi Meninggal di RS Al-Shifa Gaza

Pameran tersebut merupakan bagian dari implementasi community policing yang menggandeng komunitas seniman sebagai mitra dalam membangun keteraturan sosial melalui pendekatan budaya dan seni.

Susilo menilai keterlibatan komunitas seniman penting karena karya seni mampu menjadi ruang dialog publik sekaligus menjembatani aspirasi masyarakat.

Turut hadir dalam pembukaan pameran itu Ketua Pusat Studi Ilmu Kepolisian Komjen Pol (Purn.) Prof Chryshnanda DL serta sejumlah seniman senior di Jakarta.

Ke depan, Susilo berharap pameran seni semacam ini terus digelar untuk melahirkan lebih banyak seniman yang aktif berkarya sekaligus memperkaya khazanah budaya bangsa.

Selain itu, ia berharap karya seni dapat terus menjadi media yang mampu menyuarakan kritik sosial secara kreatif, konstruktif, dan menyentuh kesadaran publik.(red)