Pencarian Pendaki Dukono Terkendala Erupsi

Kolom abu berwarna putih kelabu kehitaman dari erupsi gunung api Dukono terlihat dari Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Dukono di Desa Mamuya, Kecamatan Galela, Halmahera Utara, Maluku Utara, Sabtu (9/5) pukul 07.44 WIT. (Foto: Pos PGA Dukono).
Kolom abu berwarna putih kelabu kehitaman dari erupsi gunung api Dukono terlihat dari Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Dukono di Desa Mamuya, Kecamatan Galela, Halmahera Utara, Maluku Utara, Sabtu (9/5) pukul 07.44 WIT. (Foto: Pos PGA Dukono).

JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID — Operasi pencarian terhadap tiga pendaki yang hilang pascaerupsi Gunung Dukono di Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara, masih terus berlangsung. Tim Search and Rescue (SAR) gabungan kembali melanjutkan pencarian pada Sabtu (9/5/2026) dengan fokus penyisiran di titik yang diduga menjadi lokasi keberadaan para pendaki.

Proses pencarian dilakukan di tengah tingginya aktivitas vulkanik Gunung Dukono yang masih berstatus Level II atau Waspada. Kondisi tersebut membuat tim SAR gabungan harus bekerja ekstra hati-hati demi menjaga keselamatan seluruh personel di lapangan.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Halmahera Utara, Henjte M.L. Hetharia, mengatakan operasi pencarian tetap mengedepankan prosedur keselamatan karena aktivitas erupsi masih terus terjadi.

Menurut Henjte, hasil pencarian sehari sebelumnya sempat mendeteksi keberadaan dua warga negara asing (WNA). Namun, evakuasi belum dapat dilakukan lantaran medan di sekitar kawah sangat berbahaya dan aktivitas vulkanik terus meningkat.

“Keselamatan personel menjadi prioritas utama. Tim bergerak sesuai rekomendasi dari Pos Pengamatan Gunung Api Dukono,” ujarnya.

Informasi sementara yang dihimpun di lapangan menyebutkan dua pendaki WNA tersebut berada sekitar 20 hingga 30 meter dari bibir kawah utama. Posisi yang sangat berisiko itu membuat tim SAR harus menyiapkan strategi evakuasi secara matang.

BACA JUGA  BNPB Gelar Geladi Lapang Komunikasi Risiko Cegah Bencana

Selain ancaman erupsi, kondisi geografis di sekitar kawah juga menyulitkan proses penyelamatan. Medan berbatu, kabut tebal, serta paparan abu vulkanik menjadi tantangan utama tim di lapangan.

Sementara itu, satu pendaki warga negara Indonesia (WNI) hingga kini masih belum ditemukan. Tim SAR gabungan terus melakukan penyisiran dengan dukungan personel tambahan, peralatan evakuasi, dan logistik yang telah disiapkan di lokasi operasi.

Di sisi lain, aktivitas vulkanik Gunung Dukono dilaporkan masih sangat tinggi. Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Dukono mencatat erupsi terjadi berkali-kali sejak dini hari hingga siang hari.

Erupsi pertama tercatat pada pukul 01.57 WIT dengan lontaran lava pijar yang terlihat dari Pos PGA Dukono di Desa Mamuya, Kecamatan Galela. Selanjutnya, erupsi kembali terjadi pada pukul 06.10 WIT dengan tinggi kolom abu mencapai sekitar 3.000 meter di atas puncak.

Kolom abu tersebut terpantau mengarah ke utara dan menimbulkan sebaran abu vulkanik di sejumlah wilayah sekitar gunung. Aktivitas erupsi kembali terjadi pada pukul 07.31 WIT dan 09.12 WIT dengan tinggi kolom abu sekitar 2.000 meter di atas puncak.

Pada pukul 11.07 WIT, Gunung Dukono kembali mengalami erupsi dengan tinggi kolom abu sekitar 900 meter di atas puncak yang bergerak ke arah timur laut, timur, dan tenggara.

BACA JUGA  21 Kali Guguran Lava Sejauh 1,5 Km Meluncur Dari Gunung Merapi

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) juga mencatat aktivitas kegempaan Gunung Dukono masih didominasi gempa letusan dengan amplitudo cukup besar. Kondisi itu menunjukkan aktivitas erupsi masih berlangsung dengan intensitas tinggi.

Gunung Dukono sendiri telah berstatus Level II atau Waspada sejak 13 Juni 2008. PVMBG juga menetapkan radius bahaya sejauh empat kilometer dari kawah aktif sejak 11 Desember 2024.

Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara sebenarnya telah menutup seluruh aktivitas pendakian Gunung Dukono sejak 17 April 2026 melalui Surat Keputusan Nomor 556/061. Penutupan dilakukan karena meningkatnya aktivitas vulkanik dan tingginya potensi bahaya di kawasan gunung api tersebut.

Dalam keputusan itu, operator maupun penyedia jasa pendakian dilarang memberikan izin kepada wisatawan atau masyarakat untuk mendaki Gunung Dukono.

Pemerintah daerah juga melarang seluruh aktivitas masyarakat di kawasan rawan bencana dalam radius empat kilometer dari kawah aktif sesuai rekomendasi PVMBG.

Menyusul insiden hilangnya para pendaki, Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara kembali menegaskan larangan pendakian melalui surat terbaru bernomor 500.10.5.3/491 yang diterbitkan pada Jumat (8/5/2026).

BACA JUGA  BNPB Catat 30 Bencana Hingga Akhir Agustus 2025

BNPB menilai insiden ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat agar mematuhi seluruh rekomendasi keselamatan terkait aktivitas gunung api. Kepatuhan terhadap larangan pendakian dinilai sangat penting untuk menghindari jatuhnya korban jiwa.

Selain Gunung Dukono, BNPB juga mengingatkan masyarakat untuk mematuhi pembatasan aktivitas di sejumlah gunung api aktif lain yang berstatus Level II maupun Level III. Gunung-gunung tersebut antara lain Gunung Lewotobi Laki-Laki, Raung, Gamalama, Marapi, Merapi, Semeru, Karangetang, Lokon, hingga Anak Krakatau.

Pemerintah daerah bersama PVMBG, BPBD, Basarnas, TNI, Polri, dan berbagai unsur terkait lainnya terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Dukono secara berkala. Seluruh pihak berharap operasi pencarian dapat berjalan lancar dan seluruh korban segera ditemukan dengan tetap mengutamakan keselamatan personel di lapangan. (09/AGF)