JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID — Satria Karadenan Bogor dan Cendrawasih Bandung sukses mengukuhkan diri sebagai juara Mandiri Kejurnas Antarklub U16 & U18 Tahun 2026 kategori U18 putri dan putra.
Kedua tim memastikan gelar juara setelah memenangkan partai final yang berlangsung sengit di Sahabat Arena, Semarang, Selasa (14/7/2026).
Satria Karadenan Bogor meraih gelar juara U18 putri usai menaklukkan The Lion Surabaya dengan skor tipis 38-37, sedangkan Cendrawasih Bandung menjadi kampiun U18 putra setelah mengalahkan Merpati Bali 63-59.
Keberhasilan kedua tim tersebut menjadi penutup rangkaian kompetisi nasional kelompok usia U18 yang berlangsung kompetitif sejak babak penyisihan hingga partai final.
Final kategori U18 putri mempertemukan dua tim terbaik sepanjang turnamen, yakni Satria Karadenan Bogor dan The Lion Surabaya.
Sejak tip-off dimulai, kedua tim langsung menampilkan permainan dengan intensitas tinggi. Pertahanan yang rapat membuat setiap poin menjadi sangat berharga.
The Lion tampil lebih efektif pada kuarter pertama dan berhasil menutup periode pembuka dengan keunggulan tipis 10-9.
Memasuki kuarter kedua, Satria mulai menemukan ritme permainan. Disiplin dalam bertahan dan efektivitas serangan membuat mereka mampu membalikkan keadaan sekaligus menutup babak pertama dengan keunggulan 22-17.
Persaingan semakin sengit pada babak kedua. Kedua tim saling bergantian mencetak angka dan memanfaatkan setiap kesalahan lawan.
Meski terus mendapat tekanan dari The Lion, Satria mampu mempertahankan keunggulan hingga kuarter ketiga berakhir dengan skor 30-28.
Drama sesungguhnya terjadi pada kuarter terakhir. The Lion beberapa kali memangkas selisih angka dan membuat pertandingan kembali terbuka.
Namun, ketenangan pemain-pemain Satria dalam menjaga penguasaan bola serta disiplin saat bertahan menjadi faktor pembeda hingga peluit panjang dibunyikan.
Satria akhirnya memastikan kemenangan dramatis 38-37 sekaligus mengangkat trofi juara nasional U18 putri.
Pemain Satria, Kaisa Nuridhina, menjadi pahlawan kemenangan setelah membukukan 20 poin dan enam rebound.
Sementara itu, Hannah Harshita tampil impresif di kubu The Lion dengan menyumbangkan enam poin dan 12 rebound.
Pelatih The Lion Surabaya, Jezswi Feruji, menilai timnya kehilangan kendali tempo permainan sejak kuarter kedua.
“Defense kami sebenarnya sudah lebih agresif dan rapi. Tapi kami tidak bisa mengontrol tempo permainan dan justru mengikuti ritme lawan. Itu membuat game plan kami tidak berjalan maksimal,” ujarnya.
Ia mengakui pertandingan final memberikan banyak pelajaran penting bagi timnya, terutama mengenai pertahanan, rebound, dan kesiapan mental menghadapi laga besar.
Di sisi lain, pelatih Satria Karadenan Bogor, Mabruri, mengatakan tekanan laga final sempat membuat para pemain tampil tegang.
“Anak-anak tegang sekali. Saya terus meminta mereka menikmati pertandingan karena atmosfer final memang berbeda dari pertandingan sebelumnya,” katanya.
Menurut Mabruri, keberhasilan menjalankan strategi bertahan menjadi kunci utama kemenangan.
“Kami berusaha mematikan pemain-pemain kunci lawan sehingga mereka tidak bisa bermain senyaman biasanya. Di final seperti ini, faktor mental menjadi pembeda,” ujarnya.
Cendrawasih Akhiri Penantian Gelar

Pada kategori U18 putra, Cendrawasih Bandung juga tampil impresif saat menghadapi Merpati Bali.
Sejak awal pertandingan, Cendrawasih langsung mengambil inisiatif menyerang. Permainan agresif membuat mereka membuka keunggulan 19-10 pada kuarter pertama.
Momentum tersebut terus dipertahankan hingga mereka memperlebar jarak menjadi 36-24 saat turun minum.
Merpati Bali mencoba bangkit pada babak kedua melalui permainan kolektif yang lebih efektif.
Mereka perlahan memangkas ketertinggalan, tetapi Cendrawasih tetap mampu mempertahankan keunggulan 49-42 hingga akhir kuarter ketiga.
Kuarter terakhir berlangsung menegangkan.
Merpati terus memberikan tekanan dan beberapa kali memperkecil selisih angka sehingga pertandingan kembali hidup.
Namun Cendrawasih mampu menjaga ketenangan pada momen-momen krusial.
Pertahanan disiplin serta pengambilan keputusan yang tepat membuat mereka mempertahankan keunggulan hingga pertandingan berakhir dengan skor 63-59.
Pemain Cendrawasih, Steven Sebastian, tampil luar biasa dengan mencatatkan 20 poin, 16 rebound, dan empat assist, sekaligus membukukan double-double.
Di kubu Merpati Bali, Cokorda Putra menjadi penyumbang angka terbanyak melalui torehan 15 poin dan lima rebound.
Pelatih Merpati Bali, Aldion Christian, mengakui timnya kurang siap menghadapi awal pertandingan.
“Start kami kurang bagus. Anak-anak sedikit kaget di awal sehingga beberapa penyesuaian yang telah disiapkan tidak berjalan sesuai rencana,” ujarnya.
Menurutnya, kesiapan lawan dalam melakukan perubahan strategi menjadi salah satu faktor yang menyulitkan timnya.
Ia berharap pengalaman tampil di final menjadi bekal penting bagi para pemain untuk meningkatkan mental bertanding pada kompetisi mendatang.
Sementara itu, pelatih Cendrawasih Bandung, Gian Gumilar, menyebut keberhasilan timnya tidak terlepas dari persiapan yang lebih matang dibanding musim sebelumnya.
“Persiapan kami jauh lebih baik dibanding tahun lalu. Itu menjadi modal penting menghadapi pertandingan final,” katanya.
Gian mengungkapkan perubahan pola pertahanan dari man to man menjadi zone defense menjadi keputusan penting yang berhasil meredam agresivitas Merpati Bali pada kuarter akhir.
“Setelah perubahan pertahanan itu, mereka lebih sulit mencetak angka, terutama pada momen-momen penentuan,” ujarnya.
Meski berhasil menjadi juara, Gian mengakui tekanan partai final tetap dirasakan para pemainnya.
Menurutnya, faktor mental menjadi pembeda utama dalam pertandingan dengan kualitas tim yang relatif seimbang.
Berakhirnya partai final sekaligus menutup seluruh rangkaian Mandiri Kejurnas Antarklub U16 & U18 Tahun 2026 kategori U18.
Satria Karadenan Bogor memastikan gelar juara nasional U18 putri setelah menundukkan The Lion Surabaya, sedangkan Cendrawasih Bandung menjadi kampiun U18 putra usai mengatasi perlawanan Merpati Bali.
Persaingan ketat yang tersaji sepanjang turnamen memperlihatkan semakin berkembangnya kualitas pembinaan basket usia muda di Indonesia.
Keberhasilan para finalis menjadi bukti bahwa kompetisi antarklub terus menjadi fondasi penting dalam mencetak calon-calon pemain andalan bagi basket nasional pada masa depan. (09/AGF).










