Sepakbola Kembali Makan Korban, Entah Sampai Kapan?

Para suporter berdesakan masuk ke dalam Stadion GLBA. (Tangkapan layar instagram)

JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID – Fanatisme yang berlebihan suporter sepakbola, bukan hal yang baru di Indonesia. Hal itu bahkan sudah terjadi selama puluhan tahun hingga memakan korban jiwa.

Terakhir, dua suporter Persib Bandung dilaporkan meninggal dunia saat hendak menyaksikan pertandingan Grup C antara Persib melawan Persebaya Surabaya pada ajang Piala Presiden 2022 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Bandung, Jawa Barat,Jumat (17/6/22) lalu. Tidak adanya sosialisasi aturan penonton di stadion dari PSSI dan LIB, dianggap menjadi biang timbulnya korban jiwa pada laga tersebut.

IMG-20220125-WA0002

Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol Ibrahim Tompo mengatakan, korban meninggal akibat terinjak injak saat berebut masuk stadion. Dua suporter Persib yang meninggal dunia tersebut adalah, Sopiana Yusup, dan Ahmad Solihin.

Menanggapi hal itu, Akmal Marhali, selaku Koordinator Save Our Soccer (SOS) dan pengamat olahraga, angkat bicara. “Satu nyawa terlalu mahal untuk dikorbankan dalam pertandingan sepakbola, apalagi sampai dua orang meninggal dunia. Ini harus dievaluasi agar kejadian serupa tak terus berulang,” kata Akmal dalam keterangan resminya, seperti yang disadur Katadata.

Menurut data SOS, Sopiana dan Solihin merupakan korban ke-77 dan 78 yang meregang nyawa sejak Liga Indonesia bergulir pada 1994 silam. Akmal mengatakan, bahwa hal ini tidak bisa dianggap remeh, dan disebut sebagai kecelakaan sepakbola biasa. Melainkan, harus ditangani serius oleh pihak-pihak terkait agar tidak berulang ke depannya. Ia juga menyebutkan bahwa dalam hal ini panitia penyelenggara kompetisi menjadi pihak yang harus bertanggung jawab.

Menurutnya, PT Liga Indonesia Baru (LIB) selaku panitia pelaksana (panpel) tidak mampu menjalankan standard operating procedure (SOP) dengan benar. Selain itu, panpel juga tidak melakukan antisipasi kemungkinan membludaknya jumlah penonton. SOS juga menyoroti soal tidak adanya sosialisasi aturan, bahwa setelah pandemi Covid-19 melandai, dan pertandingan sepakbola dibolehkan pakai penonton di stadion, jumlahnya masih dibatasi.

Tidak adanya sosialisasi, membuat suporter yang hendak menonton berbondong-bondong datang ke stadion, sehingga menyebabkan kerumunan. “Presiden Joko Widodo yang namanya dipakai sebagai judul turnamen harus melihat fakta ketidaksiapan LIB dan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI),” ujarnya.

Ia berpendapat, lebih baik jika LIB dan PSSI fokus menyiapkan regulasi dan aturan kompetisi. Ketimbang menjadi event organizer turnamen pra-musim. Ini dimaksudkan, agar saat kompetisi berjalan semua sudah siap seratus perse dan tidak ada masalah di tengah jalan. Selain itu, regulasi suporter juga harus dibuat dan disosialisasikan agar terbangun kesadaran bersama untuk dilaksanakan di kompetisi sepakbola Indonesia.

“Regulasi yang kuat, dengan sanksi keras, menjadi kunci untuk mempercepat pembangunan industri sepakbola Indonesia. Untuk itu, FIFA Security and Safety Stadium Regulation perlu disosialisasikan,” ujar Akmal.

Jika semua itu tidak segera dibenahi, maka mau sampai kapan sepakbola Indonesia memakan korban jiwa, terutama di kalangan suporter. Banyak nyawa yang ditaruhkan pada saat ingin menonton sepakbola. Karena itu, suporter harus memiliki kedewasaan yang harus menjunjung persatuan dan kesatuan untuk menghindari bentrokan dan permusuhan antar suporter. (red)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.