Indonesia Menuju Era Lansia: Antara Berkah Umur Panjang dan Beban Baru Negara

Lansia
Penulis Kemal H Simanjuntak adalah Konsultan Manajemen | GRC Expert | Asesor LSP Tatakelola, Risiko, Kepatuhan (TRK)

“Sebagian besar lansia Indonesia belum terlindungi jaminan pensiun formal. Hanya sekitar 5 persen rumah tangga lansia yang memperoleh pendapatan tetap dari pensiun. Sisanya bergantung pada keluarga atau bantuan sosial”

Oleh: Dr. Kemal H Simanjuntak, MBA

Indonesia tengah menua dan bukan sekadar secara metaforis. Berdasarkan data BPS 2024, jumlah penduduk lanjut usia (60 tahun ke atas) kini mencapai sekitar 29 juta jiwa, atau hampir 12 persen dari total populasi. Dalam dua dekade ke depan, proporsinya diperkirakan melonjak hingga 20 persen, menandai perubahan demografi yang akan mengubah wajah ekonomi dan sistem sosial negeri ini.

Fenomena ini paling nyata di tiga provinsi padat: Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Jawa Timur memimpin dengan lebih dari 6 juta lansia, disusul Jawa Tengah sekitar 5,7 juta dan Jawa Barat lebih dari 5,3 juta. Daerah-daerah ini kini menjadi “zona abu-abu” bukan karena suram, tapi karena dipenuhi rambut putih yang membawa hikmah dan tantangan baru bagi pemerintah daerah.

BACA JUGA  Raja Ampat: Surga yang Rawan Terluka dan Tak Berdaya

Masalahnya, sebagian besar lansia Indonesia belum terlindungi jaminan pensiun formal. Hanya sekitar 5 persen rumah tangga lansia yang memperoleh pendapatan tetap dari pensiun. Sisanya bergantung pada keluarga atau bantuan sosial. Di tengah biaya hidup yang kian tinggi, risiko kemiskinan di usia tua menjadi bayang- bayang yang nyata. Banyak lansia masih harus bekerja informal atau mengandalkan anak-anak mereka yang juga berjuang di tengah tekanan ekonomi.

Beban negara pun meningkat. Pengeluaran kesehatan melonjak seiring bertambahnya kasus penyakit kronis seperti diabetes dan hipertensi, yang dominan di kelompok usia lanjut. Sistem BPJS Kesehatan menghadapi tekanan biaya yang tak ringan, sementara daerah perlu memperkuat layanan primer dan fasilitas rawat jangka panjang. Ironisnya, Indonesia belum memiliki sistem long-term care yang komprehensif perawatan lansia masih diserahkan pada keluarga tanpa dukungan atau pelatihan memadai.

BACA JUGA  VinFast di Jalan Raya, Bukan di Etalase: Konsistensi GRC ala Vietnam

Namun tidak semua suram. Pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Sosial Lansia (JSLU) memberi jaring pengaman bagi yang paling rentan; BPJS Kesehatan memperluas akses layanan; sementara Kementerian Kesehatan mendorong posyandu dan posbindu lansia agar mereka tetap sehat dan aktif.

Tantangannya kini adalah memastikan koordinasi antara kementerian dan konsistensi pembiayaan agar kebijakan tak berhenti di ruang rapat.

Ke depan, Indonesia membutuhkan strategi yang lebih tajam: memperluas jaminan pensiun sosial, memperkuat layanan kesehatan berbasis komunitas, dan menciptakan ekosistem kerja ramah lansia. Dunia kerja perlu menyesuaikan diri dengan populasi yang menua memberi ruang bagi pekerja senior untuk tetap produktif tanpa kehilangan martabat.

Penuaan penduduk sejatinya bukan bencana, melainkan panggilan untuk beradaptasi. Umur panjang adalah anugerah, tapi hanya akan menjadi berkah nasional jika diiringi kebijakan yang berpihak pada kesejahteraan usia tua. Kalau tidak, kita akan menyaksikan generasi yang panjang umur namun pendek daya dukung.

BACA JUGA  Dari 'Anak Kambing' ke Media Merdeka

Teks ini bergaya media berita nasional: padat, tajam, dan elegan, dengan sentuhan editorial yang berimbang antara data, analisis, dan narasi.
Apakah kamu ingin saya ubah versinya menjadi artikel opini redaksi (lebih argumentatif dan bernada editorial), atau tetap seperti laporan berita feature seperti di atas?

*Penulis Kemal H Simanjuntak adalah Konsultan Manajemen | GRC Expert | Asesor LSP Tatakelola, Risiko, Kepatuhan (TRK)