Sastra  

Gadis Pemetik Kecapi

Gadis Pemetik Kecapi Cerpen Kurnianto Purnama
Ilustrasi

“Suaranya lembut, merdu, dan menenangkan, seolah setiap nada membawa ketenangan Kota Suzhou ke dalam hati.”

Cerpen: Kurnianto Purnama, SH, MH

Musim dingin baru saja berlalu berganti musim semi. Udara dingin tertiup angin semilir melintas di wajahku. Kulihat daun-daun hijau mulai tumbuh dari dahan-dahan pohon, dan bunga-bunga yang berwarna-warni mulai mekar, sesekali dihinggapi kumbang.

Sang mentari mulai beranjak dari tempat persembunyiannya. Meski sinar mentari menyinari wajahku, namun terasa sejuk.

Di sekelilingku, aku melihat banyak sungai mengalir dengan riak-riak putih, bening, dan bersih.

Gadis-gadis Suzhou mengenakan pakaian model perpaduan klasik dan modern, keluar masuk kafe sambil bercanda dan memegang minuman di tangan mereka.

Mereka terlihat ceria, tersenyum, ramah, dan hangat menyapa orang-orang yang mereka temui, meskipun orang asing seperti aku.

Begitulah pemandangan dan suasana kehidupan di Kota Suzhou, kota yang berjarak sekitar 100 km dari Kota Shanghai, Tiongkok.

Suasana tenang, damai, dan sejuk dengan penduduknya yang ramah membuat aku betah di sini.

Suzhou termasuk kota besar di Tiongkok, dengan penduduk sekitar 10 juta pada tahun 2018. Kota ini terkenal sebagai kota produsen sutera sejak Dinasti Song hingga kini.

BACA JUGA  Prodi PBSI UIN Jakarta Adakan Tribut Penghargaan untuk Budayawan Muslim Asal Ciputat

Aku kemudian masuk ke sebuah kafe di Suzhou, di mana desain interiornya merupakan perpaduan gaya klasik dan modern. Aku pun memesan secangkir kopi hitam hangat dan satu piring kue lobak, kue khas Kota Suzhou.

Aku memilih meja yang bisa memandang sungai yang mengalir tenang dan dekat dengan panggung kecil di bagian depan kafe ini.

Tak lama kemudian, seorang gadis berambut panjang naik ke panggung depan, lalu memetik kecapi sambil bernyanyi.

Di Tiongkok, kecapi disebut Guzheng. Suaranya terdengar lembut, merdu, dan menenangkan. Penampilan gadis ini anggun, mengenakan pakaian khas Tionghoa bermotif bunga persik berwarna merah muda.

Di Tiongkok, ada pepatah yang mengatakan, “Di atas langit ada surga, di bawah langit ada Kota Suzhou.”

Beginilah gambaran betapa indahnya Kota Suzhou, Provinsi Jiangsu, pesisir timur Tiongkok. Nama Suzhou telah digunakan sejak 2.500 tahun yang lalu hingga kini. Tak pernah diganti atau diubah.

Setelah menyanyikan beberapa lagu, ia menatapku dan menawari aku bernyanyi. Ia bilang:

“Tuan mau menyanyi?”

“Silakan naik panggung.”

Siapa nama tuan?, ia bertanya.

BACA JUGA  Surat Pemesanan Barang (Purchase Order) Ditinjau dari Aspek Hukum

“Nama aku De Hua”

Kemudian aku memberikan selembar kartu namaku padanya. Ia diam sejenak, lalu berkata:

De Hua seorang pengacara dari Indonesia?

Ya… aku seorang pengacara dari Indonesia.

Aku pun balik bertanya padanya:

“Siapa namamu? Kamu dari kota mana?”

“Namaku Xiao Wei, aku seorang gadis Suzhou” tambahnya.

Para tamu di kafe ini semua matanya tertuju kepada kami berdua, sebab kami berbincang cukup lama di atas panggung kecil ini, yang depannya dihiasi bunga-bunga mei hua segar yang cantik dan tertata apik.

Xiao Wei lantas bertanya padaku:

“De Hua akan menyanyikan lagu apa?”

Aku bilang lagu Suzhou He Bian, lagu “Di Pinggir Sungai Suzhou”. Lagu ini populer dan selalu berkenan di hati penduduk Suzhou sejak dulu hingga kini. Aku menyanyikan lagu ini diiringi kecapi oleh Xiao Wei. Lagu ini menceritakan kisah tentang:

Sepasang kekasih

Di pinggir Sungai Suzhou

Di waktu malam yang syahdu

Malam hanya mereka berdua

Angin menerpa lembut dan sejuk

Bintang-bintang tersenyum di langit

Mereka berdua saling memandang

Mereka saling berpegangan tangan

Terdapat ribuan kata dalam hati

Namun tak terucapkan.

Setelah aku selesai menyanyi, para pengunjung pun bertepuk tangan dengan riuh. Kemudian aku kembali ke tempat dudukku semula.

BACA JUGA  Perbedaan Penyelidikan dengan Penyidikan

Selang beberapa saat kemudian, Xiao Wei menghampiriku. Di saat ini, kami banyak berbagi cerita.

Terakhir, aku bilang malam itu adalah malam terakhirku di Kota Suzhou. Besok aku akan kembali ke Indonesia. Xiao Wei tampak sedih dan ia bertanya padaku kapan aku akan datang kembali ke Kota Suzhou.

Suzhou, 10 April 2018

Kurnianto Purnama, SH, MH

*Penulis merupakan seorang pengacara senior asal Belitung, Indonesia, yang hingga saat ini terus aktif menulis buku, puisi, cerpen, dan karya sastra lainnya. Gadis Pemetik Kecapi merupakan salah satu karyanya.