JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID – Di tengah fokus pemerintah memperkuat ketahanan pasokan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) untuk kebutuhan dalam negeri, Subholding PTPN III, yakni PTPN IV PalmCo, memastikan seluruh proses produksinya tetap mengacu pada standar keberlanjutan global dan nasional. Meski hampir seluruh CPO perusahaan diserap pasar domestik, upaya meraih sertifikasi tetap dikejar hingga mendekati 100 persen.
Siaran pers PTPN IV PalmCo, Jumat (20/2/2026) menyebutkan, berdasarkan data operasional perusahaan hingga 2025 menunjukkan tren kepatuhan yang terus meningkat, baik terhadap standar sukarela global Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) maupun standar mandatori nasional Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).
Untuk sertifikasi RSPO, sebanyak 67 dari total 71 pabrik kelapa sawit atau 94,36 persen telah tersertifikasi. Di sektor hulu, 124 dari 149 kebun atau 83,22 persen juga telah mengantongi sertifikat tersebut.
Capaian terhadap standar ISPO bahkan sedikit lebih tinggi. Sebanyak 68 dari 71 pabrik atau 95,77 persen dinyatakan memenuhi standar keberlanjutan nasional. Sementara itu, di tingkat kebun, 136 dari 149 unit atau 91,27 persen telah tersertifikasi ISPO.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K. Santosa mengatakan, perusahaan saat ini memang berfokus memastikan keandalan pasokan CPO untuk pasar domestik. Namun, komitmen terhadap kelestarian lingkungan dan tata kelola yang baik tetap menjadi prinsip utama.
“Berdasarkan data 2025, sekitar 2,7 juta ton CPO atau 99 persen produksi kami diserap produsen dalam negeri. Meski demikian, standar operasional dan keberlanjutan tetap harus berada pada level tertinggi global,” ujar Jatmiko.
Menurut Jatmiko, sertifikasi tidak sekadar menjadi label, melainkan cerminan praktik tata kelola, transparansi, dan akuntabilitas perusahaan dalam menjalankan usaha.
Kejar Keterlacakan Rantai Pasok
Selain sertifikasi, PTPN IV PalmCo juga memperkuat aspek keterlacakan (traceability) rantai pasok serta uji tuntas (due diligence). Sepanjang 2025, sejumlah pabrik ditetapkan sebagai percontohan penerapan sistem pelacakan bahan baku terintegrasi, mulai dari kebun hingga ke pabrik.
Beberapa unit yang telah melalui proses verifikasi antara lain Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Rambutan, PKS Sei Mangkei, PKS Bah Jambi, dan PKS Pulu Raja. Pada unit-unit tersebut, asal-usul tandan buah segar (TBS) dapat ditelusuri secara presisi, baik dari kebun inti maupun kebun plasma.
Direktur Strategy & Sustainability PTPN IV PalmCo Ugun Untaryo menjelaskan, integrasi data antara kebun dan pabrik menjadi kunci transparansi tersebut.
“Kami menelusuri proses dari hulu. Sistem yang dikembangkan mampu melacak sumber TBS secara akurat. Ini bagian dari tanggung jawab perusahaan, terlepas dari tujuan pasar produk,” katanya.
Langkah ini juga menjadi respons atas tuntutan pasar global terhadap jaminan operasional bebas deforestasi, meski secara komersial sebagian besar CPO perusahaan beredar di dalam negeri.
Menuju Sertifikasi Penuh
Manajemen menargetkan pada 2030 seluruh kebun dan pabrik PTPN IV PalmCo telah tersertifikasi penuh, baik RSPO maupun ISPO. Peta jalan serta tenggat waktu telah disusun untuk menutup celah sertifikasi pada unit-unit yang tersisa.
Di tengah dinamika industri sawit nasional yang kerap disorot isu lingkungan, strategi PTPN IV PalmCo menunjukkan upaya menjaga keseimbangan antara mandat penyediaan pasokan domestik dan pemenuhan standar keberlanjutan, baik nasional maupun global.
Bagi perusahaan, sertifikasi tidak hanya dipandang sebagai prasyarat ekspor, melainkan fondasi tata kelola usaha. Dengan demikian, produk yang beredar di pasar domestik pun dihasilkan melalui proses yang memenuhi standar keberlanjutan yang sama ketatnya dengan produk yang masuk rantai pasok internasional.
Dengan capaian yang telah mendekati 100 persen, tantangan berikutnya adalah memastikan konsistensi penerapan di lapangan. Sebab, dalam industri sawit, kredibilitas tidak hanya ditentukan oleh angka sertifikasi, tetapi juga oleh praktik berkelanjutan dari kebun hingga ke tangan konsumen.(PR/01)


