Italia Gagal ke Piala Dunia 2026, Markas FIGC Diserang Suporter

Avatar photo
Italia Gagal ke Piala Dunia 2026, Markas FIGC Diserang Suporter
Foto: Dok. FIGC

SUDUTPANDANG.ID – Kegagalan Timnas Italia menembus putaran final Piala Dunia 2026 berbuntut panjang. Kekecewaan suporter memuncak hingga berujung aksi vandalisme di kantor pusat FIGC di Roma, Rabu (1/4/2026) malam WIB.

Dilansir dari Sejumlah media Italia, sejumlah oknum suporter dilaporkan melempar telur ke pintu masuk markas federasi di Via Allegri sebagai bentuk protes mereka.

Mereka kecewa atas kekalahan dari Bosnia dan Herzegovina pada laga final play-off. Hasil tersebut memastikan Italia kembali absen dari ajang empat tahunan itu.

Kegagalan ini menjadi yang ketiga secara beruntun bagi Gli Azzurri, sekaligus mempertegas krisis performa yang belum juga terselesaikan.

Tekanan pun mengarah kepada Presiden FIGC Gabriele Gravina, yang kembali mendapat sorotan tajam.

BACA JUGA  Timnas Indonesia Akui Keunggulan Tim Tango Argentina

Gravina bahkan dikabarkan sempat dihadang suporter saat kembali ke kantor federasi. Seorang pendukung membawa spanduk berisi tuntutan agar ia mundur dari jabatannya.

Meski demikian, Gravina menegaskan tidak akan mengundurkan diri dalam waktu dekat.

Sebagai langkah respons, federasi menjadwalkan rapat umum pada Kamis (2/4/2026) untuk membahas kondisi terkini sepak bola Italia.

Tekanan juga datang dari pemerintah, dengan Menteri Olahraga Italia Andrea Abodi yang meminta pertanggungjawaban atas hasil buruk tersebut.

Di lapangan, kekalahan dari Bosnia dan Herzegovina melalui adu penalti menjadi pukulan telak bagi Italia.

Sebagai pemilik empat gelar juara dunia, absennya Italia kembali memperlihatkan kemerosotan daya saing tim yang pernah menjadi kekuatan besar sepak bola dunia.

BACA JUGA  Adaptasi Hanif Sjahbandi, Berjalan Lancar

Situasi ini turut menempatkan pelatih Gennaro Gattuso dalam tekanan. Ditunjuk menggantikan Luciano Spalletti pada Juni tahun lalu, Gattuso sebenarnya sempat menunjukkan tren positif dengan enam kemenangan dari delapan pertandingan.

Namun, kekalahan telak dari Norwegia yang diperkuat Erling Haaland serta performa inkonsisten membuat posisinya kini dipertanyakan. Masa depannya bersama timnas pun menjadi tidak pasti.

Krisis yang melanda Italia tidak hanya soal hasil pertandingan, tetapi juga menyentuh persoalan mendasar, mulai dari minimnya regenerasi pemain hingga menurunnya kualitas kompetisi domestik.

Bahkan, keberhasilan menjuarai Euro 2020 dinilai belum mampu menutupi penurunan performa dalam jangka panjang.

Legenda hidup Italia, Gianluigi Buffon, menyebut kegagalan ini sebagai akibat dari kesalahan masa lalu dalam membangun regenerasi tim.

BACA JUGA  Rully Nere : Pelatih STY Bikin Kecewa PSSI dan Pecinta Timnas

Ia menilai Italia terlalu lama bergantung pada generasi emas tanpa mempersiapkan penerus yang sepadan.

Sebagai upaya perbaikan, FIGC telah meluncurkan program pengembangan usia muda yang dipimpin Maurizio Viscidi.

Program ini difokuskan pada peningkatan kualitas pelatih di level akar rumput yang menaungi ratusan ribu pemain muda.(red)