Opini  

Ketika Forum Wartawan Kebangsaan Mainkan “Peran Kenegaraan”

Ketika Forum Wartawan Kebangsaan Mainkan "Peran Kenegaraan"
Didin Maninggara (Foto: Dok. Pribadi)

“FWK diharapkan tetap menjadi forum yang mampu menghadirkan suara negara yang tegas, sekaligus suara rakyat yang membumi dan berangkat dari realitas kehidupan masyarakat sehari-hari.”

Catatan Didin Maninggara dari Puncak Bogor

Kamis menjelang magrib, 21 Mei 2026, saya tiba di kawasan Puncak, Kabupaten Bogor, setelah menempuh perjalanan hampir tiga jam dari Kota Bandung menggunakan sepeda motor tua dengan kecepatan santai. Maklum, usia saya kini telah menginjak 71 tahun.

Rintik hujan turun sepanjang perjalanan. Saya kemudian beristirahat di sebuah kedai sederhana bernama Pojok Kopi. Ubi lumbu bakar, secangkir kopi hangat, dan beberapa batang Djie Sam Soe, rokok yang saya nikmati sejak 1974 menjadi teman melepas lelah.

Dari warung makan di sebelah, terdengar percakapan sejumlah pedagang yang mengeluhkan harga kebutuhan pokok yang terus naik. Kondisi itu memaksa mereka menaikkan harga makanan dagangan, meski sedikit demi sedikit.

Puncak selalu punya cara menghadirkan keteduhan. Udara dingin dan panorama alamnya membawa saya merenung tentang banyak hal, termasuk mengenai peran pers di tengah dinamika politik dan kebijakan publik saat ini.

BACA JUGA  Penyelenggaraan Ibadah Haji 2024 Terbilang Sukses?

Beberapa jam sebelumnya, saya baru saja menulis berita berjudul “Forum Wartawan Kebangsaan Gelar Diskusi Soroti Janji Presiden Benahi MBG” di Garanews.id. Dari sana, muncul pertanyaan yang terus mengganggu pikiran saya: masih adakah suara kritis wartawan hari ini?.

Pertanyaan itu lahir dari pengamatan terhadap arus pemberitaan, terutama dalam menyikapi isu-isu strategis di lingkaran kekuasaan. Di tengah situasi tersebut, Forum Wartawan Kebangsaan (FWK) mencoba mengambil posisi dengan tetap menjaga sikap kritis melalui berbagai diskusi internal yang digelar secara berkala.

FWK merupakan organisasi yang diinisiasi sejumlah jurnalis senior dengan reputasi nasional maupun internasional. Forum ini dibentuk sebagai ruang menyuarakan aspirasi terkait isu-isu strategis kebangsaan dan mengawal kebijakan publik.

Beberapa tokoh yang ikut mempelopori forum tersebut antara lain Hendry Ch Bangun dan Raja Parlindungan Pane. Melalui berbagai kegiatan diskusi, FWK aktif menyampaikan kritik, saran, hingga alternatif solusi kepada pemerintah.

Dalam isu ekonomi, misalnya, FWK menyoroti realisasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) di tengah kenaikan harga pangan dan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Forum itu juga mendorong pemerintah menambah subsidi untuk menjaga daya beli masyarakat.

BACA JUGA  Menakar Harga Diri Seorang Pemimpin

FWK juga pernah mengkritik pola komunikasi publik pemerintah, terutama terkait kemitraan dengan media yang dinilai belum memiliki legalitas perusahaan pers yang jelas. Selain itu, forum tersebut turut menyuarakan pentingnya perlindungan terhadap kebebasan pers, termasuk menyoroti pencabutan kartu peliputan jurnalis oleh pihak Istana.

Di tengah derasnya arus informasi dan dinamika politik nasional, FWK memilih hadir sebagai ruang refleksi sekaligus forum pertukaran gagasan. Organisasi ini tidak sekadar menjadi wadah silaturahmi antarsesama wartawan, tetapi juga berupaya menjaga kualitas diskusi dan keberpihakan pada kepentingan rakyat.

Menurut saya, kekuatan utama forum seperti ini bukan hanya pada banyaknya anggota atau intensitas pertemuan, melainkan kualitas interaksi yang terbangun di dalamnya. Dalam diskusi, setiap anggota diberi ruang untuk menyampaikan pandangan, mendengarkan, dan memahami perspektif satu sama lain.

BACA JUGA  Kritik Pedas dari Sahabat Kapolri: Menyikapi Putusan Praperadilan Pegi Setiawan

Meski saya baru bergabung selama 24 jam, saya melihat adanya semangat menjaga kedekatan emosional di tengah kesibukan profesi masing-masing. Semangat itu penting agar forum tidak kehilangan ruh perjuangan gagasan dan tanggung jawab moral sebagai insan pers.

Pada akhirnya, FWK diharapkan mampu menjadi ruang lahirnya pemikiran dan solusi bagi berbagai persoalan bangsa. Mulai dari tantangan geopolitik, disrupsi teknologi, krisis iklim, hingga persoalan sosial budaya yang terus berkembang.

FWK diharapkan tetap menjadi forum yang mampu menghadirkan suara negara yang tegas, sekaligus suara rakyat yang membumi dan berangkat dari realitas kehidupan masyarakat sehari-hari.(*)