Catatan: Didin Maninggara dari Puncak Bogor
———
Kamis jelang magrib, 21 Mei. Saya baru saja tiba di Puncak, Bogor setelah hampir tiga jam mengendarai motor tua dari Kota Bandung dengan kecepatan sedang-sedang aja. Maklum, usia 71.
Rintik turun sepanjang perjalanan. Saya rehat di sebuah kedai Pojok Kopi menikmati ubi lumbu bakar, secangkir kopi dan beberapa batang DjieSamSoe, rokok kesukaan sejak tahun 1974.
Dari warung nasi sebelah, terdengar keluhan beberapa pedagang mengenai mahalnya harga kebutuhan pokok, memaksa mereka menaikkan harga sedikit makanan dagangannya.
Rehat di Puncak selalu punya caranya sendiri untuk terasa teduh. Membuat saya teringat pada Forum Wartawan Kebangsaan (FWK) yang baru lima jam lalu saya membuat berita berjudul: Forum Wartawan Kebangsaan Gelar Diskusi Soroti Janji Presiden Benahi MBG, di GARANEWS.ID (Gema Suara Rakyat).
Hawa Puncak yang dingin dengan panorama alam mempesona dan warung yang saya tempati cukup representatif, mengundang inspirasi untuk menulis.
Masih “tersisakah” suara kritis wartawan? Pertanyaan ini nongol dari imajinasi saya dalam mengamati berbagai dinamika pemberitaan. Terutama, berita dari isu-isu krusial di lingkaran kekuasaan.
Di tengah dinamika isu krusial itu, Forum Wartawan Kebangsaan (FWK) memilih sikap kritis. Tampil dengan suara kritis dalam berbagai diskusi internal yang digelar secara berkala.
Forum Wartawan Kebangsaan (FWK) adalah organisasi yang diinisiasi oleh sejumlah jurnalis senior reputasi nasional dan internasional untuk menyuarakan aspirasi mengenai isu-isu strategis kenegaraan dan mengawasi kebijakan publik. Dipelopori oleh tokoh seperti antara lain Hendry Ch. Bangun, Raja Pande Parlindungan.
Organisasi ini secara aktif memberikan kritik, saran, serta solusi alternatif kepada pemerintah.
Kegiatan FWK dalam mengawal isu-isu nasional meliputi sorotan kebijakan ekonomi: FWK mengkritisi realisasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) di tengah kenaikan harga pangan dan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, serta mendesak penambahan subsidi.
Kritik Komunikasi Publik: FWK melayangkan kritik keras terhadap Badan Komunikasi Pemerintah karena merangkul “homeless media” dan meminta penyusunan parameter kemitraan yang memastikan legalitas perusahaan pers.
Pembelaan Kebebasan Pers: FWK mendesak peninjauan ulang atas pencabutan kartu peliputan jurnalis oleh pihak Istana sebagai bentuk komitmen perlindungan terhadap marwah profesi wartawan.
FWK memilih peran berpikir dan bersikap reflektif menyikapi sederet isu strategis nasional seiring meningkatnya arus deras kesadaran kolektif akan pentingnya mendorong jurnalisme berkualitas berbasis keberpihakan pada rakyat.
Karena itu, kapasitas personal anggota FWK tidak diragukan dalam mengawal peran yang menyeimbangkan tanggung jawab strategis di tingkat pengambil keputusan politik dengan peran pers berbasis keberpihakan rakyat, mampu merepresentasikan di dalam pemberitaan yang deptnews dan menyentuh jantung kekuasaan.
FWK tidak sekadar wadah silaturrahmi pemikiran kebangsaan-kenegaraan, melainkan menjadi dapur pengolah peran keberadaannya secara realistis dan berkelanjutan.
Ia diharapkan hadir dalam setiap peran monumental dengan konsepsi keseimbangan antara tanggung jawab konstitusional sebagai insan pers, dan di lain sisi memilih pendekatan reflektif dengan memainkan sikap kritis-konstruktif. Ada momen di mana peran harus bervariasi, tetapi tidak bersifat baku, disesuaikan dengan dinamika politik yang memang dinamis.
Meski baru 24 jam bergabung, namun saya dapat pastikan FWK tetap menjaga tidak sekadar kuantitas interaksi, melainkan kualitasnya.
Dengan demikian.dalam setiap diskusi FWK menemukan hal-hal yang justru seringkali lebih bermakna, terutama dalam menjaga kedekatan emosional di tengah kegiatan profesi masing-masing anggota.
Semangat emosional jauh lebih penting saat diskusi. Sebab di sana mendengarkan, memahami, dan memberi ruang untuk mengekspresikan pemikiran dan pandangan.
Karena itu pula, FWK diharapkan menjadi forum perjuangan gagasan dan solusi tentang bagaimana Indonesia menjaga arah, jati diri, dan ketangguhannya di tengah kompetisi geopolitik, disrupsi teknologi, krisis iklim, serta tantangan ideologis dan sosial budaya.
FWK menjadi forum menghadirkan suara negara yang tegas, sekaligus suara rakyat yang membumi, yang terrefleksi dari realitas empiris masyarakat.


