Opini  

Cooling System untuk Menjaga Keteraturan Sosial di Masa Suhu Politik yang Memanas

Cooling System untuk Menjaga Keteraturan Sosial di Masa Suhu Politik yang Memanas
Komjen Pol (Purn.) Prof. Dr. Chryshnanda DL, M.Si. (Foto: istimewa)

“Hati yang gembira adalah obat bagi kehidupan sosial yang sedang memanas. Membuat event-event dengan berbagai program yang membuat happy dan mencerahkan menjadi solusi cooling system.”

Oleh: Komjen Pol (Purn.) Prof Dr Chryshnanda DL, M.Si. (Ketua Pusat Studi Ilmu Kepolisian)

“Hati yang gembira adalah obat.” Pepatah tersebut memang benar adanya. Ketegangan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan dapat membuat suasana menjadi keruh. Menjelang pemilihan umum (Pemilu), suhu politik biasanya memanas. Saling serang dan saling dukung dilakukan dengan berbagai cara yang terkadang justru kontraproduktif.

Plato, ribuan tahun lalu, menulis bahwa rakyat dianalogikan sebagai “big animal and beast”. Kaum sofis mengetahui cara menuruti, menyenangkan, bahkan memaksa dan memberdayakan massa sesuai dengan keinginannya. Di era post-truth, berbagai fenomena diolah sedemikian rupa dan diviralkan terus-menerus sehingga pembenaran sering kali mengalahkan kebenaran.

BACA JUGA  Optimisme Pariwisata di Tahun 2023

Opini publik diobok-obok seolah-olah keadaan sudah gempar, geger, “genjik udan kirik”. Berbagai isu dikemas dengan sentimen primordialisme (SARA) yang berpotensi mengadu domba satu sama lain. Ketegangan dan memanasnya suhu politik dapat membuat sesama anak bangsa saling menyerang, bahkan saling menghancurkan.

Manuver-manuver politik kerap membuat masyarakat terbawa perasaan dan kehilangan kegembiraan. Sudah saling mengintip, saling membalas, hingga saling membunuh karakter. Rakyat disuguhi tontonan yang menyesatkan dan diprovokasi layaknya “jaran keplakan”.

Hati yang gembira adalah obat bagi kehidupan sosial yang sedang memanas. Karena itu, penyelenggaraan berbagai kegiatan yang membahagiakan dan mencerahkan dapat menjadi solusi sebagai cooling system.

Kegiatan yang menggembirakan dapat dikemas dalam berbagai bentuk, seperti yang lazim dilakukan menjelang Hari Kemerdekaan pada bulan Agustus, antara lain:

BACA JUGA  Obituari: Pak Ismet Rauf, Kami Kirim Doa dari Rangkasbitung

Lomba-lomba di kampung, seperti balap karung, panjat pinang, lomba kebersihan, gerak jalan, dan sebagainya.

1. Syukuran dan makan bersama.

2. Kongko-kongko dan diskusi seni budaya.

3. Hiburan dari organ tunggal, folk song, paduan suara, dan sebagainya.

4. Kerja bakti dan gotong royong.

5. Memasak bersama para bapak.

6. Wayangan, ludruk, keroncong, ketoprak, dan sebagainya.

7. Doa bersama sesuai agama dan keyakinan masing-masing.

8. Pameran pembangunan atau pameran seni budaya.

10. Karnaval atau pawai yang disesuaikan dengan konteks deklarasi Pemilu damai, dan sebagainya.

Berbagai kegiatan tersebut dapat dikemas secara kreatif dengan memanfaatkan ruang publik maupun media sebagai tempat berkumpul dan berinteraksi sosial. Dialog langsung maupun melalui media juga dapat digunakan untuk menggerakkan berbagai komunitas yang ada.

BACA JUGA  Selamat Siang Teman FWK: Air Mata Kurban Sambut Idul Adha

Selain itu, diperlukan kesepakatan bersama untuk tetap bersikap rasional dan menyelesaikan persoalan melalui jalur hukum maupun dialog. Berbagai kegiatan tersebut dapat memberdayakan soft power dan smart power sebagai instrumen yang inspiratif untuk mengimbangi berbagai isu, sekaligus menghadirkan suasana yang damai, sejuk dan mencerdaskan.

*Penulis adalah Ketua Pusat Studi Ilmu Kepolisian