PalmCo Dorong Produktivitas Sawit untuk Dukung B50 dan Jaga Pasokan Ekspor

PalmCo Dorong Produktivitas Sawit untuk Dukung B50 dan Jaga Pasokan Ekspor
Dirut PTPN IV PalmCo Jatmiko K. Santosa saat menjadi pembicara utama pada pembukaan Pekan Riset Sawit Indonesia (PERISAI) 2026 yang diselenggarakan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) di Jakarta, Senin (20/7/2026). (Foto: Dok. PTPN IV PalmCo)

JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID – PT Perkebunan Nusantara IV PalmCo (PTPN IV PalmCo) menilai peningkatan produktivitas sektor hulu kelapa sawit menjadi langkah penting untuk memenuhi kebutuhan bahan baku biodiesel B50 sekaligus menjaga keberlanjutan pasokan ekspor. Upaya tersebut dinilai perlu didukung melalui riset yang aplikatif, penggunaan bibit unggul, serta penguatan kelembagaan petani.

Siaran pers PTPN IV PalmCo, Kamis (23/7/2026) menyebutkan, komitmen itu disampaikan Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K. Santosa saat menjadi pembicara utama pada pembukaan Pekan Riset Sawit Indonesia (PERISAI) 2026 yang diselenggarakan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) di Jakarta, Senin (20/7/2026).

Dalam forum bertema “Strategi Industri dalam Peningkatan Produktivitas Kelapa Sawit melalui Inovasi dan Upaya Pemenuhan Sertifikasi Keberlanjutan”, Jatmiko mengatakan, industri sawit nasional saat ini menghadapi tantangan untuk menyeimbangkan kebutuhan hilirisasi dengan peningkatan produktivitas di sektor hulu.

Menurut Jatmiko, kebijakan pemerintah yang mendorong kemandirian energi melalui program biodiesel B50 harus diimbangi dengan kemampuan produksi minyak sawit mentah (CPO) agar kebutuhan domestik dan ekspor tetap terpenuhi.

“Hari ini kita menghadapi sebuah paradoks kelapa sawit nasional. Misi hilir sangat jelas dengan Asta Cita Bapak Presiden Prabowo Subianto, kemandirian energi B50. Di sisi lain, kita juga perlu terus menjalankan ekspor secara berkelanjutan. Sekarang kalau kita tengok realitas hulu kita, produktivitas CPO cenderung stagnan,” kata Jatmiko.

BACA JUGA  PTPN IV PalmCo Resmikan PKB 2026-2027 untuk Perkuat Hubungan Industrial

Ia menilai peningkatan produktivitas terutama harus dilakukan pada perkebunan sawit rakyat yang menguasai sekitar 42 persen dari total luas perkebunan sawit nasional.

Jatmiko memperkirakan kenaikan produktivitas petani sebesar satu ton per hektare berpotensi menambah pasokan CPO nasional hingga sekitar enam juta ton. Tambahan produksi tersebut dinilai dapat mendukung kebutuhan bahan baku biodiesel B50 tanpa mengurangi pasokan untuk pasar ekspor. Karena itu, PalmCo mendorong penguatan riset yang berorientasi pada kebutuhan industri dan petani.

“Seandainya satu ton saja produktivitas masyarakat naik, itu ada tambahan suplai CPO 6.000.000 ton. Kebutuhan biodiesel B50 langsung bisa kita jalankan. Ini gap yang mesti kita jawab, sehingga kita mesti berpikir bagaimana menciptakan market driven research, mempertemukan peneliti, pelaku usaha, dan masyarakat. Tidak hanya berhenti di sebuah jurnal,” ujarnya.

Sebagai bagian dari upaya tersebut, PalmCo membuka akses bibit sawit unggul bersertifikat bagi pekebun serta mengembangkan pemanfaatan limbah cair pabrik kelapa sawit (Palm Oil Mill Effluent/POME) menjadi energi baru terbarukan berupa biometana.

BACA JUGA  Awali 2026, ASN Pemkab Asahan Ikuti Apel Hari Kesadaran Nasional

“Bibit unggul, ini yang mungkin saya perlu ajak teman-teman pengusaha. Ayo kita buka bibit unggul kita, tetapi tidak harus menjadi mitra kita. Siapa pun boleh datang dan membeli,” kata Jatmiko.

Kemitraan Petani dan Industri

Plt Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan) Heru Tri Widarto mengatakan, kemitraan antara perusahaan dan petani menjadi faktor penting dalam mendukung keberhasilan Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR).

Menurut Heru, kolaborasi tersebut dapat membantu petani menerapkan standar pengelolaan kebun yang lebih baik, termasuk dalam proses peremajaan tanaman.

“PSR tidak akan maju kalau kita tidak menggandeng semua pihak. Kemitraan antara perusahaan dan petani sawit sangat penting karena perusahaan dapat membantu proses peremajaan sehingga standar kebun rakyat diharapkan setara dengan kebun swasta,” ujar Heru.

Sementara itu, Direktur Utama BPDP Eddy Abdurrachman mengatakan, riset di sektor sawit harus menghasilkan inovasi yang dapat diterapkan secara langsung oleh petani dan industri.

BACA JUGA  Uni Eropa: Masyarakat Internasional Abaikan Palestina

“Keberhasilan riset tidak cukup diukur dari jumlah publikasi ilmiah. Ukuran keberhasilannya adalah sejauh mana hasil riset dapat diterapkan oleh petani, diadopsi industri, dikembangkan menjadi teknologi, dan dikomersialisasikan sehingga memberikan manfaat bagi masyarakat,” kata Eddy.

Ia menambahkan, BPDP akan terus berperan sebagai penyedia pendanaan sekaligus memperkuat kolaborasi antara pemerintah, peneliti, dan pelaku industri untuk mendukung pengembangan sektor kelapa sawit.

Pembukaan PERISAI 2026 juga diisi dengan penandatanganan komitmen bersama pengembangan sumber daya manusia (SDM) perkebunan oleh Kementerian Pertanian, BPDP, dan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI). Penandatanganan dilakukan sebagai bentuk sinergi dalam mendukung peningkatan daya saing dan keberlanjutan industri kelapa sawit nasional.(PR/01)