Sahabat Odamun Diluncurkan, Edukasi Autoimun Diperkuat

Sahabat Odamun resmi diluncurkan melalui talkshow “Tetap Survive dan Happy dengan Autoimun” di Prodia Health Care Jakarta–Kramat. (Foto: AGF/09).

JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID – Pemahaman masyarakat mengenai penyakit autoimun dinilai masih perlu diperkuat.

Gejala yang beragam dan kerap menyerupai penyakit lain membuat autoimun belum selalu mudah dikenali, sementara penyintas membutuhkan dukungan serta penanganan yang tepat.

Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan hadirnya Sahabat Odamun, sebuah media yang secara khusus menyajikan informasi seputar penyakit autoimun bagi penyintas maupun masyarakat luas.

Media tersebut diluncurkan bersamaan dengan talkshow bertema “Tetap Survive dan Happy dengan Autoimun” yang berlangsung di Prodia Health Care Jakarta–Kramat, Sabtu (8/8/2026).

Sahabat Odamun resmi diluncurkan melalui talkshow “Tetap Survive dan Happy dengan Autoimun” di Prodia Health Care Jakarta–Kramat. (Foto: AGF/09).

Pemimpin Redaksi sekaligus Pendiri Sahabat Odamun, Francisca Xaveriana Taolin, mengatakan media tersebut lahir dari kepedulian terhadap penyintas autoimun yang membutuhkan akses informasi lebih luas dan mudah dipahami.

“Sebagai salah satu penyintas autoimun, kami merasa terpanggil untuk membuat Sahabat Odamun, sebuah media yang kami dedikasikan untuk teman-teman sesama odamun dan juga masyarakat umum untuk bisa mendapatkan informasi lebih banyak tentang autoimun,” kata Francisca seusai acara.

Menurut dia, Sahabat Odamun tidak hanya ditujukan bagi penyintas, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkenalkan pemahaman yang lebih baik mengenai autoimun kepada masyarakat.

Kehadiran media tersebut juga menjadi bentuk apresiasi kepada dokter dan profesional medis yang terus melakukan penelitian serta memberikan pelayanan kepada pasien autoimun.

BACA JUGA  Kader PMO Pekalongan Diajak Maksimalkan Eliminasi TBC

Sahabat Odamun diterbitkan oleh Fortuna Media dan Elang Perkasa Asia. Media ini hadir dalam format e-magazine, sehingga dapat diakses secara lebih fleksibel oleh masyarakat.

Dalam talkshow tersebut, Dewan Penasihat Redaksi Sahabat Odamun, Prof. Dr. dr. Iris Rengganis, Sp.PD, K-AI, menjelaskan bahwa penyakit autoimun memiliki karakteristik yang beragam.

Sahabat Odamun resmi diluncurkan melalui talkshow “Tetap Survive dan Happy dengan Autoimun” di Prodia Health Care Jakarta–Kramat. (Foto: AGF/09).

Ada penyakit autoimun yang menyerang organ tertentu dan ada pula yang bersifat sistemik.

Beberapa contoh yang disebutkan antara lain psoriasis yang menyerang kulit, myasthenia gravis yang berkaitan dengan sistem saraf, serta lupus dan Sjogren syndrome yang termasuk penyakit autoimun sistemik.

Iris menegaskan, masyarakat perlu memahami bahwa penyakit autoimun bukan penyakit menular.

Karena itu, penyintas tidak seharusnya mendapatkan stigma atau perlakuan berbeda akibat kondisi yang dialaminya.

“Pada penyakit autoimun memang belum ada istilah sembuh. Istilah yang dipakai adalah remisi,” jelas Iris.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga pola hidup dan mengikuti arahan dokter. Menurutnya, kondisi autoimun dapat mengalami fase remisi maupun kambuh atau flare-up, sehingga penyintas perlu memahami kondisi tubuhnya dan menghindari berbagai faktor yang dapat memicu kekambuhan sesuai anjuran tenaga medis.

BACA JUGA  IPC Terminal Petikemas Dorong Inklusi Ekonomi Perempuan Penyandang Disabilitas Melalui Program TJSL di Kalimantan Barat

Iris yang juga menjabat Ketua Perhimpunan Alergi Imunologi Indonesia (Peralmuni) mengatakan penyebab pasti penyakit autoimun belum sepenuhnya diketahui.

Sejumlah faktor disebut dapat berpengaruh, antara lain faktor genetik dan lingkungan. Faktor hormonal juga dapat berperan, khususnya pada perempuan.

Selain itu, terdapat kondisi disfungsi atau ketidakseimbangan sistem imun yang membuat sistem pertahanan tubuh justru menyerang jaringan tubuh sendiri.

“Yang memengaruhi adalah genetik dan lingkungan. Bisa juga hormonal, terutama untuk wanita. Selain itu juga karena disregulasi autoimun, artinya ketidakseimbangan sistem autoimun,” ujar Iris.

Beragamnya gejala autoimun menjadi tantangan tersendiri. Gejala dapat berbeda antara satu jenis penyakit dengan jenis lainnya dan pada sejumlah kondisi menyerupai penyakit lain.

Situasi ini membuat edukasi menjadi bagian penting dalam meningkatkan kesadaran masyarakat.

Sahabat Odamun diharapkan dapat menjadi salah satu sumber informasi yang membantu masyarakat memahami autoimun secara lebih komprehensif sekaligus mengurangi stigma terhadap penyintas.

Pemimpin Umum Sahabat Odamun, Herliana Dewi, berharap kehadiran media tersebut dapat memberikan warna baru dalam perkembangan media digital, khususnya dalam penyebaran informasi mengenai autoimun.

BACA JUGA  Pangdam Jaya Tinjau Vakasinasi di Living Plaza Jababeka 

Menurutnya, format e-magazine membuat Sahabat Odamun lebih mudah diakses kapan pun dan dari mana pun.

Selain Prof. Iris Rengganis, Sahabat Odamun juga memiliki tiga dokter yang duduk sebagai Dewan Penasihat Redaksi. Mereka adalah Dr. dr. Sukamto Koesnoe, SpPD, K-AI, Dr. dr. Alvina Widhani, SpPD, K-AI, dan Dr Agus Tadolin, Sp.PD-KGEH, FINASIM.

Kehadiran para dokter tersebut diharapkan memperkuat kualitas informasi yang disajikan sekaligus membantu masyarakat mendapatkan pemahaman yang lebih tepat mengenai penyakit autoimun.

Dengan diluncurkannya Sahabat Odamun, edukasi mengenai autoimun diharapkan semakin luas.

Masyarakat juga diingatkan untuk tidak memberikan stigma kepada penyintas dan menyerahkan diagnosis serta penanganan penyakit kepada tenaga medis yang kompeten. (AGF/09).