BOGOR-JABAR, SUDUTPANDANG.ID – Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP) Sadtata Noor Adirahmanta, S.Hut, MT mengemukakan bahwa apabila di suatu kawasan hutan tidak atau belum ditemukan suatu satwa liar yang endemik, bukan berarti bahwa satwa dimaksud sudah punah.
“Kalau kita tak ketemu atau belum ketemu, belum tentu (satwa) itu punah,” katanya pada Orientasi Wartawan Konservasi (OWAKA) yang digagas Forum Konservasi Satwa Liar Indonesia (FOKSI) di di Rumah Dua, Puncak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, yang berada di kaki Gunung Gede Pangrango, Sabtu (21/8/2026) malam.
Menjawab pertanyaan salah satu pendiri lembaga konservasi “ex-situ” (di luar habitat alami) Taman Safari Indonesia (TSI), Tony Sumampau, mengenai cukup banyaknya satwa liar seperti macan tutul, surili dan lutung jawa, yang turun dari Gunung Gede Pangrango — yang menandakan jumlah populasinya cukup berkelebihan — dan apakah di taman nasional juga masih banyak — Sadtata Noor Adirahmanta menyatakan ikhwal indikator yang disampaikannya bahwa tidak atau belum ketemu, maka jumlah populasinya berkurang dan bahkan punah.
Sebelumnya, Tony Sumampau menyampaikan bahwa setiap waktu di kawasan TSI bisa dilihat dan ditemui macan tutul turun, demikian juga surili yang dalam satu kelompok bisa mencapai 15-ekor dan lutung jawa di kisaran 30-an ekor.
“Dan khususnya, fenomena dan kondisi itu bisa terjadi di saat musim kemarau,” kata pembina FOKSI itu.
Atas pertanyaan tersebut, BBTNGGP menjelaskan bahw saat dirinya bertugas di taman nasional Kalimantan, seperti di Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK), yang terletak di Provinsi Kalimantan Barat, dan taman nasional lain di Kalimantan, kondisi tersebut terjadi.
“Sekali lagi, kalau kita tak ketemu (satwa liar) itu, belum tentu punah,” katanya dan menambahkan bahwa di TNBK bahwa kemungkinan masih ada 20 persen satwa — karena kapasitas jumlah petugas yang terbatas — ada belum ketemu.
Namun, ia menceritakan bahwa di Kalimantan, ada masyarakat yang biasa ketemu satwa gajah.
“Jadi, masih ada gajah itu di Kalimantan, sehingga jika tak ketemu, maka belum tentu punah,” kata Sadtata Noor Adirahmanta.
Pembina Istimewa FOKSI

Pada hari kedua OWAKA — dari kegiatan selama tiga hari (21-23/8) — dan akan berakhir Ahad (23/8) esok, usai memberikan pemaparan bertema “Fenomena Interaksi Satwa Liar di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango”, Kepala BBTNGGP, Sadtata Noor Adirahmanta, menyatakan kesediaannya menjadi anggota dewan pembina istimewa FOKSI.
Ia menyatakan kesediaan itu, saat ditanya Pelaksana Tugas (Plt) Koordinator Umum FOKSI, Teguh Laksana apakah berkenan menjadi dewan pembinan FOKSI.
“Alhamdulillah, ini istimewa bagi FOKSI, terlebih dengan lahirnya kepengurusan baru FOKSI 2026-2029, ada pejabat, yakni Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, berkenan menjadi pembina baru FOKSI,” katanya.

Ketum FOKSI Terpilih
Sementara itu, dalam pemilihan Ketua Umum (Ketum) FOKSI masa bakti 2026-2029, dari kandidat yang maju, yakni Titiek Kartitiani, Riza Fahriza dan Vento Saudale, melalui voting secara daring, akhirnya Titiek Kartitiani terpilih menjadi ketum dengan suara terbanyak.
Sedangkan dua kandidat lainnya, urutannya adalah Riza Fahriza dan Vento Saudale.
Dalam kesempatan itu, dua kandidat lainnya juga disepakati langsung masuk dalam kepengurusan yang baru untuk masa bakti empat tahun mendatang.
Usai pemilihan, anggota dewan pembina FOKSI, Tony Sumampau memberikan ucapan selamat kepada para kandidat dan menyampaikan selamat bekerja dengan program-program yang sudah disiapkan.
FOKSI adalah organisasi nirlaba yang lahir pada 5 Februari 1998, yang muncul dari sebuah keprihatinan akan degradasi mutu lingkungan hidup dan kelestarian satwa endemik Indonesia sehingga para jurnalis mencoba berhimpun menggandeng kekuatan dengan para akademisi, pengusaha, peneliti, birokrat, hobies (pecinta satwa), pecinta lingkungan, untuk bersama-sama menjalankan misi konservasi
Sedangkan OWAKA adalah program pelatihan dan edukasi khusus bagi para jurnalis untuk mendalami isu-isu pelestarian lingkungan hidup dan perlindungan satwa liar, di mana kegiatan ini secara historis digagas oleh FOKSI.(Red/02)










