FOKSI Diharapkan Menjadi Corong Komunikasi Konservasi Satwa Liar di Indonesia

FOKSI Diharapkan Menjadi Corong Komunikasi Konservasi Satwa Liar di Indonesia
Presiden Direktur (Presdir) Taman Safari Indonesia (TSI) Group, Aswin Sumampau (kiri) memberikan cendera mata kepada narasumber Guru Besar di Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia (FMIPA UI), Prof Jatna Supriatna, Ph.D, pada kegiatan Orientasi Wartawan Konservasi (OWAKA) yang digagas Forum Konservasi Satwa Liar Indonesia (FOKSI), di Rumah Dua, Puncak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, yang berada di kaki Gunung Gede Pangrango, Jumat (21/8/2026) sore. FOTO: HO-Humas TSI Group

BOGOR-JABAR, SUDUTPANDANG.ID – Forum Konservasi Satwa Liar Indonesia (FOKSI) diharapkan dalam kiprahnya ke depan bisa menjadi corong komunikasi konservasi satwa liar di Tanah Air, kata pejabat di sebuah lembaga konservasi “ex-situ” (di luar habitat alami).

“Orientasi Wartawan Konservasi (OWAKA) kali ini menjadi penting sehingga ke depan kita harapkan FOKSI menjadi lembaga yang independen, kuat, mandiri. Sebuah forum berdiskusi dan menjadi corong komunikasi tentang konservasi (satwa liar Indonesia,” kata Presiden Direktur (Presdir) Taman Safari Indonesia (TSI) Group, Aswin Sumampau di Rumah Dua, Puncak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, yang berada di kaki Gunung Gede Pangrango, Jumat (21/8/2026) sore.

FOKSI adalah organisasi nirlaba yang lahir pada 5 Februari 1998, yang muncul dari sebuah keprihatinan akan degradasi mutu lingkungan hidup dan kelestarian satwa endemik Indonesia sehingga para jurnalis mencoba berhimpun menggandeng kekuatan dengan para akademisi, pengusaha, peneliti, birokrat, hobies (pecinta satwa), pecinta lingkungan, untuk bersama-sama menjalankan misi konservasi

Sedangkan OWAKA adalah program pelatihan dan edukasi khusus bagi para jurnalis untuk mendalami isu-isu pelestarian lingkungan hidup dan perlindungan satwa liar, di mana kegiatan ini secara historis digagas oleh FOKSI.

BACA JUGA  Cuaca Jakarta Hari Ini, BMKG: Hujan Berpotensi Guyur Jaksel dan Jaktim

Setelah lebih 10 tahun tidak dilaksanakan karena berbagai faktor, termasuk pandemi COVID-19, OWAKA dihidupkan kembali guna melanjutkan agenda dan isu-isu konservasi satwa liar dengan mengundang jurnalis-jurnalis muda.

Owaka Rumah 2 a
Pendiri FOKSI, Teguh Laksana (kiri) dan Tony Sumampau (dua dari kiri), saat memberikan testimoni kesejarahan forum itu pada kegiatan Orientasi Wartawan Konservasi (OWAKA) yang digagas Forum Konservasi Satwa Liar Indonesia (FOKSI), di Rumah Dua, Puncak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, yang berada di kaki Gunung Gede Pangrango, Jumat (21/8/2026) sore. FOTO: HO-Humas TSI Group

Aswin mengemukakan bahwa hingga saat ini, dalam dinamika yang cepat berubah, terdapat banyak hal-hal yang mungkin sudah tidak relevan lagi, bahkan regulasipun seringkali ketinggalan zaman.

“Namun yang pasti, hingga kini ada kondisi yang belum berubah, seperti trend penurungan fungsi hutan, penurunan spesies maupun ancaman kepunahan dari speses-spesies satwa langka di Indonesia” katanya.

Karena itu, ia mendorong forum ini menuju apa yang disebutnya “FOKSI 2.0.”, yakni yang moderan dan relevan dengan perubahan yang ada.

“Yakni, untuk bisa menjadi bagaian dar solusi kepada masalah yang sebenarnya yang kurang lebih sama dari 30-40 tahun lalu. Untuk itu, saya mendorong FOKSI untuk menemukan kembali jati diri, visi yang tajam dan strategi yang relevan dan solutif serta realistis untuk dikerjakan bersama,” katanya.

Untuk FOKSI ke depan, ia memberikan saran agar FOKSI menjadi pilar pendidikan konservasi kepada bangsa Indonesia.

BACA JUGA  Universitas Trilogi Peroleh Penghargaan Sebagai “Kampus Kerukunan”

Ia menambahkan LSM yang selama ini mendengungkan soal pengrusakan hutan dan lainnya sudah ckup banyak.

“Jadi, saya rasa FOKSI jangan mengambil posisi di mana sudah banyak pihak yang sudah mengerjakannya. Mungkin FOKSI bisa memberikan pendidikan konservasi kepada anak-anak sekolah dasar (SD) hingga mahasiswa,” katanya dan menambahkan juga bisa mendorong artikel-artikel edukatif dan positif mengenai pentingnya konservasi kepada masyarakat luas.

Pada bagian akhir, ia memberikan penegasan bahwa OWAKA 2026 menjadi penting dan pihaknya siap memberikan dukungan dan bantuan, seperti pendampingan untuk memberikan arahan, kebutuhan tenaga ahli, baik bidang legal, konservasi dan hal terkait lainnya dari pengalaman selama TSI berkiprah selama 45 tahun di sektor riil dan konservasi.

“Dan juga network (jejaring) internasional,hingga government sekalipun. Intinya, kami bisa mendukung FOKSI untuk maju ke depan,” kata Aswin Sumampau.

Sementara itu, narasumber pertama — dari kegiatan selama tiga hari (21-23/8) — yakni Guru Besar di Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia (FMIPA UI), Prof Jatna Supriatna, Ph.D, mengupas persoalan terkait konservasi tradisional dan modern.

BACA JUGA  Merawat Generasi Emas: Sentuhan Humanis Satgas TMMD Ke-128 Lewat Edukasi Cegah Stunting dan Siaga Bencana di Bekasi

Ia mengatakan bahwa dalam pandangan konservasi tradisional, maka konsepnya adalah menjauhkan satwa dari manusia, sedangkan yang modern, menggunakan pelibatan riset dengan metodologi sains dan berbasis penelitian.

Sedangkan penasihat sekaligus salah satu pendiri FOKSI, Tony Sumampau, memberikan pengantar mengenai perjalanan panjang dunia konservasi satwa di Indonesia, salah satunya adalah keberhasilan konservasi jalak (curik) bali, dari semula populasi di alam di Taman Nasional Bali Barat (TNBB) di bawah lima ekor, dengan kolaborasi melalui Asosiasi Pelestari Curik Bali (APCB), kemudian berhasil mengembalikan dan melepasliarkan di alam, yang kini sudah mencapai 2.000-an. (Red/02)