Sastra  

Di Sini, Dua Puluh Tahun Lalu

Cerpen Kurnianto Purnama: Di Sini, Dua Puluh Tahun Lalu
Kurnianto Purnama, S.H., M.H. (Foto: Dok. Pribadi)

Cerpen: Kurnianto Purnama, S.H., M.H.

Sekarang, aku seorang perempuan paruh baya. Sejak dulu hingga kini, teman-teman sekampung memanggilku dengan nama kecil Alan.

Aku lahir dari keluarga sederhana di Kota Belinyu, Pulau Bangka. Setelah lulus SMA, aku merantau ke Ibu Kota Jakarta untuk mengadu nasib.

Cita-citaku tidak muluk-muluk. Aku hanya ingin memiliki keluarga dan sebuah rumah sederhana di Jakarta kelak.

Setibanya di Jakarta, aku bekerja di sebuah konveksi di kawasan Jembatan Lima, Jakarta Barat.

Saat itu, aku belum memiliki kekasih. Aku masih single, meskipun teman-teman kerja kerap mengatakan bahwa aku cantik seperti bintang film Hong Kong, Lin Ching-hsia, yang populer pada era 1980-an.

Di konveksi itulah aku bertemu seorang lelaki yang baik, tampan, dan bertubuh tinggi. Ia sering mengajariku menjahit dan membimbingku membuat pakaian.

Seiring waktu, benih cinta tumbuh di antara kami. Kami pun berpacaran. Dua tahun kemudian, kami menikah.

Namun, kebahagiaan tidak selalu berjalan mulus. Suatu ketika, konveksi tempat kami bekerja mengalami krisis keuangan hingga akhirnya bangkrut dan tutup.

BACA JUGA  Prodi PBSI UIN Jakarta Adakan Tribut Penghargaan untuk Budayawan Muslim Asal Ciputat

Untuk menyambung hidup, kami memutuskan membuka usaha sendiri. Kami merintis sebuah toko bangunan kecil di Kota Depok.

Waktu terus berjalan. Usaha kami berkembang dan semakin besar. Kehidupan keluarga kami pun berangsur sejahtera dan bahagia.

Namun, takdir berkata lain. Suamiku menderita penyakit ginjal yang parah.

Berbagai upaya pengobatan telah kami tempuh di Jakarta, tetapi kondisinya tak kunjung membaik. Akhirnya, aku mengajaknya berobat ke sebuah rumah sakit di Provinsi Jiangxi, Tiongkok. Syukurlah, kondisinya membaik dan ia sembuh dari penyakitnya.

Sayangnya, kebahagiaan itu tak berlangsung selamanya. Dua tahun setelah kami kembali ke Depok, suamiku kembali jatuh sakit. Kali ini, penyakit lain merenggut nyawanya.

Ia pergi meninggalkanku, menyisakan kenangan dan cinta yang tak pernah benar-benar usai.

Kini, dua puluh tahun telah berlalu. Aku kembali ke Jiangxi.

Di tempat ini, ingatanku melayang ke masa lalu. Tepat dua puluh tahun silam, ketika aku berjuang menyelamatkan nyawa suamiku. Setiap sudut seakan menyimpan cerita tentang kecemasan, harapan, dan doa-doa yang kupanjatkan agar ia kembali sehat.

BACA JUGA  Norma Sosial dan Norma Hukum

Malam itu, secara kebetulan, sebuah festival lampion digelar di Jiangxi. Aku membeli sebuah lampion berwarna kuning yang diterbangkan menggunakan gas. Harganya 25 RMB.

Dengan spidol, kutuliskan nama almarhum suamiku dan beberapa kalimat doa pada lampion itu.

Semoga engkau selalu berbahagia.

Aku selalu merindukanmu.

Perlahan, kulepaskan tali lampion dari genggamanku. Tanganku gemetar. Tanpa kusadari, air mata mengalir di pipi, lalu jatuh membasahi dada.

Di bawah cahaya lampion, ingatanku kembali pada sebuah foto lama. Dalam foto itu, suamiku sedang memelukku di teras rumah sakit di Jiangxi, saat ia diperbolehkan pulang setelah menjalani pengobatan.

Foto itu menjadi saksi betapa besar perjuangan kami untuk melewati masa-masa sulit. Ada rasa syukur karena pernah diberi kesempatan untuk bersama, sekaligus kesedihan karena akhirnya harus berpisah.

BACA JUGA  Alumni Lemhannas RI Prof Edi Syafri Angkat Kisah Doa Ibu di IIBF 2026

Lampion kuning itu perlahan terbang semakin tinggi. Mula-mula tampak jelas, kemudian semakin jauh, semakin kecil, hingga akhirnya menghilang dalam gelapnya langit, menyatu dengan lampion-lampion lain yang diterbangkan para peserta festival.

Aku terus berdoa. Dalam hati, kubisikkan kata-kata kepada angin dan burung-burung yang melintas.

Tolong sampaikan lampion ini kepada suamiku di atas sana.

Semoga ia mendengar rinduku. Semoga ia tahu bahwa setelah dua puluh tahun berlalu, cintaku tetap tinggal di sini, di tempat kenangan itu bermula.

Jiangxi, 16 Oktober 2026