JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID – PT Perkebunan Nusantara IV (PTPN IV PalmCo) memprioritaskan peningkatan volume ekspor langsung minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO), efisiensi biaya operasional dan penerapan perkebunan presisi untuk mencapai target kinerja akhir 2026.
Strategi tersebut dibahas dalam Rapat Pimpinan (Rapim) Kuartal IV 2026 yang diikuti Dewan Komisaris, Direksi, kepala divisi, dan manajemen regional PTPN IV PalmCo.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K. Santosa mengatakan, perusahaan memperkuat pengawasan produksi dari hulu hingga hilir, termasuk memastikan pasokan dan mutu CPO untuk memenuhi kebutuhan pasar ekspor.
“Tahun ini kita melakukan inisiatif untuk memperluas pasar melalui direct export. Namun, kuncinya tetap berada pada pengawalan produksi di lapangan, memastikan kepastian pasokan, serta menjaga mutu yang ketat mulai dari proses di pabrik hingga manajemen logistik,” ujar Jatmiko dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Kamis (5/11/2026).
Selain meningkatkan ekspor langsung, perusahaan menjalankan efisiensi biaya melalui program Go Lean dan Go Secure. Kedua inisiatif tersebut diarahkan untuk menekan cash cost atau biaya tunai operasional.
Jatmiko mengatakan, pengendalian biaya dilakukan untuk menjaga margin perusahaan di tengah upaya memperluas pasar ekspor.
Optimalisasi Aset dan Pengolahan Limbah
PTPN IV PalmCo juga melakukan pengelolaan aset melalui pendataan dan penguasaan aset secara fisik serta penyelesaian aspek legalitas. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan dalam mengelola risiko operasional.
Di bidang usaha berbasis lingkungan atau green business, perusahaan mengoptimalkan pemanfaatan hasil samping pengolahan kelapa sawit. Kegiatan tersebut meliputi pemanfaatan fasilitas methane capture dan penjualan cangkang sawit.
Fasilitas methane capture digunakan untuk menangkap gas metana yang dihasilkan dari pengolahan limbah cair kelapa sawit. Sementara itu, cangkang sawit dimanfaatkan sebagai produk hasil samping yang memiliki nilai ekonomi.
Penerapan Smart Plantation
Komisaris Utama PTPN IV PalmCo Desrial mengatakan, produktivitas per hektare dan ketepatan alokasi biaya menjadi aspek yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan perusahaan perkebunan.
Ia menyebut penerapan smart plantation perlu didukung integrasi mekanisasi kegiatan operasional perkebunan dan digitalisasi sistem perusahaan.
“Transformasi ini adalah keharusan. Eksekusi operasional yang didukung oleh mekanisasi akan menjamin standarisasi proses dan efisiensi waktu, sementara digitalisasi memastikan setiap pelaporan dan pengambilan keputusan manajerial terkalibrasi secara objektif, cepat dan berbasis data mutakhir. Keduanya harus berjalan beriringan agar corrective action di lapangan dapat dilakukan seketika,” kata Desrial.
Mekanisasi diterapkan untuk mendukung pelaksanaan pekerjaan di lapangan, sedangkan digitalisasi digunakan dalam proses pelaporan dan pengambilan keputusan manajerial.
Pengawasan Penerapan Tata Kelola
Dalam Rapim Kuartal IV tersebut, Dewan Komisaris juga membahas penerapan good corporate governance (GCG) atau tata kelola perusahaan yang baik di seluruh jenjang manajemen.
Penerapan standar operasional prosedur (SOP) dan instruksi kerja menjadi bagian dari pengawasan kegiatan operasional perusahaan. Pengawasan dilakukan secara berjenjang, mulai dari tingkat pelaksana di lapangan.
Pengawasan tersebut diarahkan untuk mencegah potensi penyimpangan administratif maupun operasional.
Melalui Rapim Kuartal IV, PTPN IV PalmCo menetapkan peningkatan ekspor langsung CPO, efisiensi biaya, optimalisasi aset, penerapan smart plantation dan penguatan tata kelola sebagai fokus operasional perusahaan hingga akhir tahun buku 2026.
Manajemen PTPN IV PalmCo menyatakan optimistis dapat memenuhi target akhir tahun dengan melanjutkan tren kinerja positif hingga kuartal III 2026.(Red)











