Don Dasco Layak Jadi Wapres, Apalagi Mendagri

Firdaus: Don Dasco Layak Jadi Wapres, Apalagi Mendagri
Ketua Umum SMSI Pusat, Firdaus (Foto: istimewa)

“Pengalaman, jaringan dan kemampuan komunikasi politik menjadi modal utama Sufmi Dasco Ahmad dalam pemerintahan.”

Oleh Firdaus, Ketua Umum SMSI Pusat

Berbagai tudingan dan persepsi negatif kerap menghiasi jejak digitalnya. Namun, dalam peta politik nasional, Sufmi Dasco Ahmad tetap menjadi salah satu figur yang diperhitungkan. Di balik dinamika koalisi pemerintahan, namanya kerap disebut memiliki peran penting dalam menjaga komunikasi dan konsolidasi politif.

Pintu gerbang rumah besar itu selalu riuh, tetapi segalanya seolah tunduk pada satu ketukan dirigen. Ketika obrolan di kedai kopi mulai beralih pada desas-desus tentang “geliat bayang-bayang sang mantan”, sebuah pertanyaan besar menyergap meja diskusi, mengapa harus Don Dasco menjadi Menteri Dalam Negeri (Mendagri?.

Seorang kawan pernah menyodorkan telepon genggamnya dan meminta saya menelusuri kembali berbagai informasi yang beredar tentang Dasco di ruang digital. Tuduhan dan opini memang banyak beredar, sebagaimana lazim terjadi terhadap tokoh publik. Namun, dalam dunia politik, tidak semua isu yang beredar berujung pada pembuktian.

Tuduhan yang beredar di jagat maya memang riuh, mirip riak opini tanpa hulu. Di panggung politik, tudingan yang sumir acap kali menguap bagai embun pagi, sebagaimana riuh rendah tuduhan Amien Rais kepada Teddy yang perlahan ditelan waktu.

BACA JUGA  Memberatkan Rakyat, Gerindra: Kaji Ulang Kenaikan Biaya Haji

Namun, dalam hukum politik rimba Jakarta, desas-desus bukan sekadar isapan jempol. Rumor kerap menjadi bahasa sandi dari pergeseran lempeng kekuasaan.

Di balik dinding kokoh Partai Gerindra, pria bernama lengkap Sufmi Dasco Ahmad ini bukan sekadar Ketua Harian. Di kalangan internal, ia kerap diindikasikan sebagai tokoh yang mengendalikan mesin politik partai. Di kalangan aktivis, pers dan intelijen, Don juga dikenal dengan julukan “Ketua Umum DPR”.

Dari analisis sejumlah sumber di lingkaran dalam, muncul satu skenario ekstrem, apabila badai politik berembus dan Presiden Prabowo Subianto tidak dapat melanjutkan kepemimpinannya, Dasco dinilai sebagai sosok yang paling logis berdiri di palang pintu kekuasaan untuk mendampingi Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming Raka.

Artinya, jika untuk posisi Wapres saja Don Dasco dianggap pantas, apalagi hanya Mendagri. Seandainya usia dan kesehatan Prabowo memungkinkan melampaui Pemilu 2029, Don Dasco pula yang dinilai mampu mengorkestrasi kemenangan Prabowo-Gibran jilid dua.

Sebagai parameter, kekuatan tersembunyi Don ini tidak tumbuh dari ruang hampa. Pengaruhnya disebut menancap di berbagai sektor krusial.

Pertama, aspek hukum. Sebagai mantan Wakil Ketua Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) dan alumnus Komisi III DPR, ia dikenal memiliki kedekatan dengan para petinggi aparat penegak hukum.

BACA JUGA  Simposium Dekrit Presiden 5 Juli 1959, Kenapa Kembali ke UUD 1945: Menjawab Tantangan Nasional dan Global

Kedua, struktur partai. Sebagai Ketua Harian Gerindra, jaringan instruksinya disebut tegak lurus dari DPP hingga pengurus ranting di daerah.

Ketiga, jaringan aktivis. Don dinilai piawai merangkul jaringan aktivis lintas generasi dan kelompok buruh untuk meredam riak demonstrasi di jalanan.

Keempat, sektor korporasi. Dalam dunia korporasi, pengaruhnya disebut menyusup secara halus dalam penataan sejumlah posisi strategis di berbagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Kelima, posisi sebagai Wakil Ketua DPR. Dari kursi pimpinan DPR, ia dinilai memiliki kemampuan mengamankan sekaligus memuluskan berbagai kebijakan strategis pemerintah.

Keenam, media massa. Hubungan persuasif Don dengan sejumlah pemimpin redaksi disebut menjadi salah satu kekuatan politiknya.

Selain itu, ia juga disebut berperan dalam penempatan sejumlah tokoh pada Dewan Pengawas LPP maupun komisaris BUMN yang berasal dari kalangan organisasi wartawan, sehingga narasi politiknya kerap memperoleh ruang yang teduh di mata pers.

Ketujuh, dunia bisnis. Latar belakangnya sebagai mantan direktur di berbagai perusahaan keamanan dan firma hukum disebut memberinya dukungan logistik yang kokoh untuk menggerakkan roda taktis koalisi.

BACA JUGA  Ganti Legislator yang Kehilangan Marwah Kesenatorannya

Kedelapan, kaderisasi. Dengan berbagai sumber daya yang dimiliki, Don dinilai mampu mengorkestrasi kader-kader muda di lingkar Hambalang yang dipersiapkan Presiden untuk menyongsong Indonesia Emas 2045.

Kelompok muda yang populer dengan sebutan Satria Jedi, yang kemudian bermetamorfosis menjadi Boys Hambalang, disebut sebagai salah satu jangkar utama Don dalam menghubungkan agenda Presiden dengan berbagai kelompok masyarakat.

Kesembilan, tidak pernah menjadi tersangka. Hingga saat ini, berbagai dugaan miring yang menghiasi jejak digital Don Dasco belum pernah terbukti secara hukum. Tanpa ketukan palu hakim, “Don Kancil” dari Senayan ini tetap melenggang bebas, mengantongi apa yang oleh sebagian kalangan disebut sebagai kunci orkestrasi republik di sakunya.

*Penulis adalah Ketua Umum Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Pusat


Disclaimer: Tulisan ini merupakan opini penulis. Isi pandangan dalam tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili sikap atau pandangan redaksi.