Impor Mobil China Bikin Eropa Ketakutan, Industri Otomotif Terancam Kolaps

Avatar photo
Impor Mobil China Bikin Eropa Ketakutan, Industri Otomotif Terancam Kolaps
Ilustrasi

JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID – Industri otomotif Eropa mulai khawatir terhadap derasnya impor mobil dan suku cadang asal China yang dinilai dapat mengancam keberlangsungan industri otomotif di kawasan tersebut.

Ketua Anfia, organisasi lobi pemasok otomotif Italia, Roberto Vavassori, mendesak Uni Eropa (UE) memberlakukan tarif hingga 80 persen terhadap kendaraan dan suku cadang buatan China yang melampaui batas impor tertentu.

Menurut Vavassori, kebijakan tersebut diperlukan untuk melindungi industri otomotif Eropa yang dinilai memiliki peran strategis bagi kawasan tersebut.

“Kami sangat menghormati pencapaian industri China, tetapi rasa hormat itu kini telah berubah menjadi ketakutan. Eropa tidak boleh kehilangan industri yang sangat penting bagi otonomi strategisnya,” ujar Vavassori, dikutip Sudutpandang.id dari Reuters, Jumat (11/9/2026).

Vavassori mengusulkan agar impor kendaraan dari China ke Uni Eropa tetap bebas tarif hingga mencapai 8 persen dari total kendaraan yang terdaftar di Eropa.

BACA JUGA  Dwiki Dharmawan Rayakan 40 Tahun Berkarya Lewat Konser 'The Musical Journey Of' Bersama Musisi Legendaris

Namun, impor yang melampaui batas tersebut diusulkan dikenai tarif sebesar 80 persen.

Kebijakan itu, kata dia, tidak hanya berlaku untuk kendaraan, tetapi juga mencakup komponen atau suku cadang otomotif.

Pasalnya, komponen memiliki porsi besar dalam sebuah kendaraan.

“Suku cadang menyumbang 80 persen dari sebuah kendaraan,” kata Vavassori.

Saat ini, Uni Eropa telah memberlakukan bea masuk tambahan terhadap kendaraan listrik buatan China di luar tarif impor mobil standar sebesar 10 persen.

Dengan tambahan tersebut, total beban tarif berkisar antara 18 persen hingga 45 persen, tergantung produsen kendaraan.

Kebijakan tersebut mulai diberlakukan pada 2024 dan berlaku selama lima tahun.

Pabrik China di Eropa

Vavassori juga menyoroti keberadaan pabrik produsen mobil China yang dibangun di Eropa.

BACA JUGA  Belum Berakhir, Eropa Masuki Gelombang Baru Covid-19

Menurutnya, sejumlah fasilitas produksi tersebut masih terlalu bergantung pada komponen yang didatangkan dari China sehingga belum memberikan dampak maksimal terhadap industri pemasok lokal.

Ia bahkan menyebut pabrik-pabrik tersebut seperti “pabrik obeng”.

Vavassori menilai perusahaan seperti BYD dan Chery masih kurang tertarik menggunakan bahan baku lokal.

Ia memperkirakan produsen China akan terus mengimpor sebagian besar komponennya dari China atau negara-negara berbiaya rendah di sekitar Eropa.

Kondisi tersebut dikhawatirkan semakin menekan pemasok otomotif Eropa.

Ekspor Pemasok Italia Terancam Turun

Vavassori mengatakan pemasok otomotif Italia mengekspor produk senilai 4,9 miliar euro atau sekitar Rp93 triliun ke Jerman pada tahun lalu.

Sekitar seperlima dari nilai ekspor tersebut ditujukan kepada Volkswagen.

Namun, nilai ekspor itu diperkirakan turun sekitar 10 persen tahun ini. Penurunan tersebut terjadi setelah ekspor anjlok 4,6 persen pada paruh pertama tahun ini, di tengah restrukturisasi besar-besaran yang dilakukan Volkswagen.

BACA JUGA  Seleksi Pemilihan Calon Anggota Dewan Komisioner OJK Lulus 155 Orang

Tanpa adanya perlindungan terhadap impor dari China, ekspor pemasok otomotif Italia berpotensi turun 40-50 persen pada 2028.

“Itu memang akan menjadi akhir dari segalanya,” ujar Vavassori.(Red/Reuters)