Jacksen Tiago Tekankan Mental Pesepak Bola Putri

Pelatih Kepala MilkLife Soccer Challenge (MLSC) Jacksen Ferreira Tiago menegaskan penguatan mental menjadi faktor utama dalam pembinaan pesepak bola putri usia dini untuk mencetak pemain berkualitas yang siap memperkuat Timnas Putri Indonesia. (Foto: MLSC/SP)

KUDUS, SUDUTPANDANG.ID — Pelatih Kepala MilkLife Soccer Challenge (MLSC), Jacksen Ferreira Tiago, menegaskan pentingnya penguatan aspek mental dalam pembinaan pesepak bola putri usia dini.

Menurutnya, kemampuan teknik dan taktik memang penting, tetapi mental yang kuat menjadi fondasi utama untuk melahirkan pemain berkualitas yang mampu bersaing di level internasional.

Pernyataan tersebut disampaikan Jacksen saat menghadiri rangkaian MilkLife Soccer Challenge (MLSC) All-Stars 2026 di Supersoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah, Sabtu (27/6/2026).

Mantan pelatih Persipura Jayapura itu mengatakan, selama mendampingi program MLSC dan melakukan pemantauan talenta di berbagai daerah, ia menemukan banyak pemain muda putri yang memiliki kualitas teknik menjanjikan. Namun, menurutnya, penguatan karakter dan mental tetap menjadi pekerjaan utama dalam proses pembinaan.

“Kadang kita berpikir harus benahi taktikal, kita harus begini, begitu, tetapi kalau kesan saya dalam beberapa kali kunjungan ke berbagai tempat itu adalah penguatan aspek mental atau emosional,” ujar Jacksen.

Ia menilai para pemain putri usia dini membutuhkan pendampingan yang lebih menyeluruh. Selain meningkatkan kemampuan bermain sepak bola, para atlet muda juga harus dibentuk agar memiliki rasa percaya diri, keberanian mengambil keputusan, serta ketahanan menghadapi tekanan pertandingan.

Menurut Jacksen, karakter yang kuat akan membantu pemain berkembang lebih cepat ketika memasuki level kompetisi yang lebih tinggi.

BACA JUGA  Kakanwil Kemenkumham Bali Hadiri Pembukaan Kejuaraan Karate Inkai Piala Gubernur Bali 2023

Ia menjelaskan, selama proses talent scouting dalam MLSC, banyak pemain menunjukkan potensi luar biasa dan memiliki kemampuan di atas rata-rata dibandingkan rekan seusianya.

Beberapa nama yang mendapat perhatian di antaranya penyerang All-Stars Solo Ika Wonda, gelandang All-Stars Kudus Sabrina Dwi Ristiyana, gelandang All-Stars Tangerang Rayna Picessa, serta bek All-Stars Jakarta Hafizah Lubna.

Selain nama-nama tersebut, Jacksen menilai masih banyak pemain berbakat dari berbagai daerah yang memiliki peluang berkembang menjadi bagian dari Tim Nasional Putri Indonesia pada masa mendatang.

Menurutnya, potensi tersebut harus dijaga melalui sistem pembinaan yang konsisten dan berkesinambungan.

“Tugas berikutnya adalah meningkatkan kualitas para pelatih supaya mereka bisa membantu atlet-atlet muda, khususnya kategori U12, berkembang lebih baik lagi,” katanya.

Jacksen menegaskan kualitas pelatih memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk karakter pemain muda. Pelatih tidak hanya bertanggung jawab meningkatkan kemampuan teknik maupun taktik, tetapi juga menjadi pembimbing yang mampu memberikan rasa aman dan nyaman kepada para pemain.

Ia menjelaskan setiap atlet memiliki latar belakang keluarga, lingkungan, dan pengalaman hidup yang berbeda. Kondisi tersebut membuat pendekatan pembinaan tidak bisa disamaratakan.

BACA JUGA  SDN Jambean 02 Pati dan MI NU Baitul Mukminin Juara MLSC Kudus

Karena itu, pelatih harus mampu memahami kondisi psikologis setiap pemain agar proses latihan berjalan lebih efektif.

Menurut Jacksen, atlet putri umumnya memiliki karakter emosional yang lebih kuat sehingga membutuhkan komunikasi yang positif selama menjalani pembinaan.

“Para pemain ini kadang mereka cuma membutuhkan kata-kata yang bisa membuat mereka merasa nyaman, tenang, dan sebagainya,” ujarnya.

Ia menilai sosok pelatih ideal bukan hanya mengajarkan teknik bermain sepak bola, tetapi juga menjadi figur yang mampu membangun kepercayaan diri dan memberikan motivasi kepada pemain saat menghadapi tantangan.

Dengan pendekatan tersebut, para atlet muda akan merasa lebih percaya diri untuk mengembangkan kemampuan mereka di lapangan.

Meski menitikberatkan aspek mental, Jacksen menegaskan pembinaan fisik tetap menjadi bagian penting dalam proses pengembangan atlet.

Namun, khusus pada kelompok usia dini, pembentukan karakter dan mental dinilai harus mendapat perhatian lebih besar karena akan menjadi bekal dalam perjalanan karier mereka sebagai pesepak bola profesional.

Ia optimistis Indonesia memiliki banyak talenta sepak bola putri yang mampu berkembang apabila mendapatkan pembinaan yang tepat sejak usia muda.

Menurutnya, konsistensi dalam menjalankan program pembinaan menjadi faktor utama untuk meningkatkan kualitas sepak bola putri nasional.

BACA JUGA  Batal Melatih Brazil, Ancelotti Perpanjang Kontrak Dengan Real Madrid

“Kalau kita konsisten membina mereka, saya rasa akan menjadi kuncinya untuk membawa timnas kita ke panggung dunia,” katanya.

MilkLife Soccer Challenge merupakan program pembinaan sepak bola putri usia dini yang digagas Bakti Olahraga Djarum Foundation. Program ini secara rutin menjaring pemain berbakat dari berbagai daerah melalui kompetisi berjenjang yang kemudian dipilih menjadi tim All-Stars.

Melalui pembinaan yang terstruktur, peningkatan kualitas pelatih, serta penguatan aspek mental dan teknik, MLSC diharapkan mampu melahirkan lebih banyak pesepak bola putri berkualitas yang dapat memperkuat Tim Nasional Indonesia pada masa mendatang.

Jacksen berharap seluruh pihak, mulai dari pelatih, orang tua, sekolah hingga penyelenggara kompetisi, terus memberikan dukungan terhadap proses pembinaan atlet usia dini sehingga mimpi membawa sepak bola putri Indonesia bersaing di level Asia dan dunia dapat terwujud. (09/AGF).