Pantang Mengemis di Tengah Keterbatasan

Mbah Sumirah/net

Jember, Sudut Pandang.id-Nenek Sumirah, (65), warga Jember, Jawa Timur, harus hidup sebatang kara dengan kondisi fisik yang tidak sempurna. Beberapa jari yang ada di tangan dan kakinya tidak utuh. Hal ini cukup menyulitkan aktivitas sehari-hari nenek yang tinggal di RT 01 RW 11, Dusun Selodakon, Desa Selodakon, Kec. Tanggul Kab.Jember itu.

“Saya lupa, mulai kapan kondisi saya seperti ini. Saya juga tidak tahu penyebabnya apa. Rasanya sering ngilu atau perih gitu,” tutur Nenek Sumirah, belum lama ini.

IMG-20220125-WA0002

Mbah Sumirah, demikian biasa disapa ini menduga penyebab jari tersebut ‘patah’ karena faktor usia dan penyakit lansia. Ia tidak bisa memastikan, karena tidak tahu harus berbuat apa untuk mengatasi kondisinya yang serba terbatas.

“Saya tidak pernah periksa ke dokter atau Puskesmas. Karena memang tidak punya uang. Saya tidak tahu harus gimana,” ujar Mbah Sumirah dengan logat bahasa daerah yang kental.

Ujian hidupnya kian bertambah, karena sejak beberapa tahun terakhir, harus hidup sebatang kara di gubuk berukuran 4 x 5 meter persegi. Suami dan anak-anaknya sudah meninggal dunia.

Dengan kondisi keterbatasan fisik yang memilukan itu, Mbah Sumirah tidak lantas berpangku tangan. Dari gubuk reyotnya yang amat memprihatinkan, ia terus berjuang bertahan hidup. Ia enggan menyerah pada keterbatasan hidup. Tidak terbersit keinginan untuk mengemis di jalanan. Mengais rejeki dengan mengundang iba atau belas kasihan.

Membuat Sapu Lidi

Mbah Sumirah bertahan hidup dengan membuat sapu lidi/net

Untuk bertahan hidup dengan mandiri, Mbah Sumirah menjalaninya dengan menjadi pembuat sapu lidi. Perjuangannya tidak mudah. Setiap harinya, ia harus berjalan sejauh 100 meter ke kebun milik tetangganya untuk mengais daun kelapa yang jatuh, sebagai bahan baku membuat sapu lidi. Penghasilannya pun tak menentu dan tidak seberapa. Paling hanya sekitar Rp10 ribu. Jumlah yang amat minim itu hanya untuk memenuhi hidup sehari-hari.

“Saya jual ke pengepul seharga Rp2 ribu. Saya paling kuat ya cuma bikin 5 biji,” tutur Mbah Sumirah.

Menggunakan pisau, Nenek Sumirah nampak terampil memotong-motong daun kelapa untuk diambil tulang daunnya sebagai bahan pembuat sapu lidi. Untuk membuat sebuah sapu lidi, butuh waktu yang juga tidak singkat.

Mbah Sumirah/net

Jika ia sedang tidak mampu berjalan ke kebun, ada saja tetangga yang mengiriminya bahan baku. Sehingga Nenek Sumirah bisa membuat sapu lidi dari rumah.

Dengan kondisi yang memilukan itu, beberapa tetangga kerap memberikan belas kasih seperti bahan makanan, baju atau uang. Namun sayangnya, Nenek Sumirah mengaku belum pernah mendapat bantuan dari pemerintah.

Dalam keadaan yang serba terbatas, Nenek Sumirah tidak punya pilihan lain selain bekerja demi menyambung hidup. “Alhamdulillah, disyukuri saja kondisinya seperti ini,” pungkasnya.Red/Vic

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.