Kemitraan Sawit Rakyat Jadi Penopang B50, PTPN IV PalmCo Raih Penghargaan

Kemitraan Sawit Rakyat Jadi Penopang B50, PTPN IV PalmCo Raih Penghargaan
Dirut PTPN IV PalmCo Jatmiko K. Santosa.(Foto: Dok. PTPN IV PalmCo)

JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID – PTPN IV PalmCo meraih dua penghargaan terkait kemitraan sawit di Riau dan Kalimantan Barat pada akhir Agustus 2026.

Siaran pers PTPN IV PalmCo, Sabtu (13/9/2026) menyebutkan, PTPN IV Regional III di Riau meraih penghargaan Sustainable Partnership for Smallholder Empowerment dalam Tribun Pekanbaru Awards 2026. Sementara PTPN IV Regional V di Kalimantan Barat memperoleh penghargaan sebagai Pelopor Akselerasi Program Peremajaan Sawit Rakyat dalam Tribun Pontianak Award 2026.

Kedua penghargaan itu diraih PTPN IV PalmCo atas keberhasilan peremajaan kebun sawit rakyat. Salah satu upaya perusahaan menjaga ketersediaan bahan baku minyak sawit di tengah rencana peningkatan pemanfaatan biodiesel, termasuk melalui campuran biodiesel 50 persen atau B50.

PTPN IV PalmCo, subholding perkebunan PTPN III (Persero), mengembangkan kemitraan dengan pekebun melalui program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) dan pendampingan pengelolaan kebun.

Penghargaan tersebut diberikan ketika pemerintah mendorong pengembangan biodiesel untuk meningkatkan pemanfaatan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) di dalam negeri.

BACA JUGA  PalmCo Dorong Produktivitas Sawit untuk Dukung B50 dan Jaga Pasokan Ekspor

Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K. Santosa mengatakan, peningkatan kebutuhan sawit untuk sektor energi perlu diikuti dengan perbaikan hasil kebun rakyat.

Menurutnya, langkah tersebut diperlukan agar peningkatan kebutuhan bahan baku biodiesel tidak mengurangi ketersediaan minyak sawit untuk kebutuhan pangan dan industri lainnya.

“Petani sawit adalah pilar utama industri ini. Sekitar 30 persen pasokan bahan baku pengolahan industri di PalmCo berasal langsung dari hasil kebun petani rakyat,” kata Jatmiko dalam keterangan di Jakarta.

Jatmiko mengatakan, penerapan campuran biodiesel 50 persen diproyeksikan meningkatkan penyerapan CPO domestik untuk sektor energi sekitar 1 juta hingga 2 juta ton per tahun.

Menurut Jatmiko, peningkatan hasil kebun rakyat dapat menjadi salah satu cara memenuhi kebutuhan bahan baku energi sekaligus menjaga pasokan untuk sektor pangan dan industri. Langkah tersebut juga dapat mengurangi kebutuhan pembukaan lahan baru.

BACA JUGA  Anak-Anak Dusun Klagin Ceria Pulang Sekolah Lewati Jalan Paving TMMD Ke-128

Peremajaan dan Pengelolaan Kebun

Dalam kemitraan dengan pekebun, PalmCo menerapkan sejumlah skema pendampingan, antara lain pengelolaan kebun bersama atau single management, penyediaan bibit unggul bersertifikat, pembelian hasil panen, serta penguatan kelembagaan koperasi tani.

“Melalui pola tersebut, pekebun didorong memperbaiki praktik budidaya dan pengelolaan kebun,” ujar Jatmiko.

Perusahaan juga memberikan pendampingan sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) bagi petani mitra.

Pendampingan dilakukan tidak hanya pada tahap budi daya. Dalam skema kemitraan, PalmCo juga menjadi pembeli siaga atau offtaker hasil panen petani.

Penyerapan tandan buah segar (TBS) dari petani dilakukan berdasarkan mekanisme dan harga yang ditetapkan sesuai ketentuan yang berlaku.

Program PSR menjadi salah satu bagian dari kemitraan tersebut. Melalui peremajaan tanaman tua dan penggunaan bibit unggul, hasil kebun diharapkan dapat meningkat.

BACA JUGA  Donald Trump Menang Pilpres AS 2024

Bagi industri pengolahan sawit, perbaikan kebun rakyat berkaitan dengan kesinambungan pasokan bahan baku. Bagi petani, peremajaan menjadi bagian dari upaya memperbaiki hasil kebun setelah tanaman memasuki usia yang tidak lagi optimal.

Kemitraan antara perusahaan dan pekebun kemudian menjadi salah satu pola untuk menghubungkan produksi kebun rakyat dengan kebutuhan industri pengolahan dan sektor energi.(red)