PROBOLINGGO – JATIM | SUDUTPANDANG.ID – Komandan Resor Militer (Danrem) 083/Baladhika Jaya (Bdj) Kolonel Inf Wahyu Ramadhanus Suryawan memimpin rapat koordinasi evaluasi sekaligus penutupan Posko Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).
Kegiatan tersebut berlangsung di Dusun Cemoro Lawang, Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Rabu (19/8/2026), dengan dihadiri sejumlah pemangku kepentingan yang terlibat dalam penanganan kebakaran.
Dalam rapat tersebut, Wahyu menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada seluruh unsur yang telah terlibat dalam penanganan karhutla di kawasan TNBTS hingga kondisi kebakaran dapat dikendalikan.
Menurut dia, rapat koordinasi evaluasi dan penutupan posko menjadi bagian dari upaya untuk mengevaluasi seluruh rangkaian penanganan kebakaran sekaligus memastikan kesiapsiagaan lintas sektoral tetap berjalan meski posko telah ditutup.
“Penutupan Posko Karhutla bukan berarti tugas Satgas Karhutla telah selesai. Seluruh langkah antisipatif dan SOP yang telah disusun harus tetap dilaksanakan serta dapat segera diaktifkan apabila terjadi kebakaran kembali,” ujarnya.
Berdasarkan hasil pemantauan, luas kawasan yang terdampak kebakaran mencapai sekitar 1.121,66 hektare. Area terdampak tersebar di wilayah Kabupaten Probolinggo, Lumajang, Pasuruan, dan Malang.
Wahyu mengatakan, penanganan kebakaran di wilayah dengan medan ekstrem memerlukan metode pemadaman yang efektif. Salah satu metode yang dinilai efektif adalah melalui water bombing yang didukung dengan ketersediaan selang air berukuran panjang, tangki air fleksibel, serta berbagai sarana pendukung lainnya.
Selain penanganan saat kebakaran terjadi, langkah pencegahan juga perlu diperkuat. Salah satunya melalui pemasangan kamera pengawas atau CCTV di sejumlah titik strategis dan rawan kebakaran.
Pemasangan CCTV dinilai penting untuk mengawasi aktivitas masyarakat maupun wisatawan yang berpotensi memicu terjadinya kebakaran di kawasan TNBTS.
Danrem juga mendorong pembentukan dan pelatihan relawan, khususnya dari kalangan generasi muda, untuk mendukung penanganan awal apabila terjadi kebakaran.
Menurut Wahyu, keberadaan relawan menjadi penting mengingat kawasan TNBTS memiliki wilayah yang luas dengan karakteristik medan yang ekstrem dan sulit dijangkau.
Selain itu, seluruh pihak juga didorong untuk menyusun serta menetapkan standar operasional prosedur (SOP) terpadu sebagai pedoman bersama dalam penanganan karhutla.
“Sosialisasi dan imbauan kepada masyarakat serta wisatawan juga perlu terus dilakukan secara masif,” katanya.
Ia menuturkan, masih ditemukan wisatawan, termasuk wisatawan asing, yang mendatangi kawasan Gunung Bromo meski kawasan tersebut masih ditutup akibat kebakaran hutan dan lahan.
Karena itu, pengawasan terhadap kawasan perlu terus diperkuat untuk mencegah aktivitas yang berpotensi memicu munculnya titik api baru.
Wahyu menegaskan, meski kondisi karhutla saat ini telah terkendali dan Posko Karhutla resmi ditutup, potensi kebakaran masih harus diantisipasi mengingat musim kemarau masih berlangsung.
Ancaman yang masih dihadapi, antara lain munculnya kembali titik api atau asap, aktivitas masyarakat dan wisatawan yang berpotensi memicu kebakaran, keterbatasan alat dan perlengkapan pemadaman, serta sulitnya akses menuju lokasi kebakaran di medan ekstrem.
Oleh karena itu, ia meminta seluruh pihak tetap meningkatkan koordinasi lintas sektoral, melakukan deteksi dini, memperkuat pengawasan kawasan, serta melanjutkan langkah-langkah pencegahan.
“Dengan ditutupnya Posko Karhutla, diharapkan seluruh instansi terkait tetap melaksanakan pemantauan dan langkah pencegahan sesuai tugas dan kewenangan masing-masing,” ujar Wahyu.
Menurut dia, langkah tersebut penting agar apabila kembali ditemukan titik api, penanganan dapat segera dilakukan secara cepat, tepat, dan terpadu.
Dengan kondisi kebakaran yang telah terkendali, Posko Karhutla TNBTS secara resmi ditutup. Meski demikian, seluruh unsur yang tergabung dalam penanganan karhutla tetap diminta menjaga kesiapsiagaan dan melanjutkan upaya pencegahan demi melindungi kawasan TNBTS dari ancaman kebakaran susulan.(ACZ)






