Turun 50 Persen, Utang Garuda Indonesia Tersisa Rp 75,6 T Usai Restrukturisasi

Ilustrasi

JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID – Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) II, Kartika Wirjoatmodjo menyebut, utang Garuda Indonesia turun sebesar 81 persen dengan adanya restrukturisasi. Sehingga maskapai hanya perlu melunasi 19 persen utangnya dengan skema yang telah disepakati dengan para kreditor.

Pria yang akrab disapa Tiko ini menyebut, penurunan 81 persen tersebut jika dilihat dari sisi persentase. Sementara dari sisi nilai, penurunannya hanya sekitar 50 persen dari total utang sebelum restrukturisasi.

IMG-20220125-WA0002

“Untuk utang ke belakang kita kurang utang sebesar 81 persen, secara percent value ini hingga 81 persen dan sisanya recovery rate 19 persen. Meski kalau secara nilai (neraca utang Garuda) itu turun 50 persen,” kata di dalam konferensi pers, Selasa (28/6/2022).

Mengutip bahan paparannya, utang Garuda Indonesia sebelum restrukturisasi adalah sebesar USD 10,1 miliar. Sedangkan setelah restrukturisasi nilai utang Garuda Indonesia tersisa USD 5,1 miliar atau setara Rp 75,6 triliun (asumsi Rp 14.837 per USD).

Tiko menyampaikan, dari berbagai kasus restrukturisasi maskapai penerbangan di dunia, belum ada pemotongan utang se-fantastis ini. Guna bisa kembali membangkitkan keuangan maskapai, pemerintah juga akan menyuntikkan Penyertaan Modal Negara (PMN) Rp 7,5 triliun sekitar triwulan 3 2022.

“Kita ingin ekuitas Garuda ini bisa lebih positif lagi, saya ingin menekankan proses bankruptcy di airline lain jarang ada yang pemotongan utangnya sebesar ini,” kata dia.

Biaya Sewa Pesawat

Masih jadi bagian restrukturisasi utang dan perbaikan kinerja, biaya sewa (lease rate) pesawat yang digunakan Garuda Indonesia juga akan mengalami penurunan. Tiko menyebut Garuda Indonesia memiliki proporsi biaya sewa pesawat dibanding pendapatan di atas rata-rata maskapai di dunia.

Maka, negosiasi biaya sewa sesuai harga pasar sangat krusial dalam langkah restrukturisasi ini. Setidaknya ada lima jenis pesawat yang biaya sewanya telah dinegosiasikan oleh pihak maskapai.

Rinciannya, pesawat jenis Airbus A330-300 mengalami penurunan biaya sewa sebesar 65 persen. dari USD 1.100 menjadi USD 388 per bulan. Kemudian, Airbus A330-200 mengalami penurunan biaya sewa sebesar 70 persen. Dari USD 882 menjadi USD 265 per bulan.

Selanjutnya, Boeing B777-300 mengalami penurunan biaya sewa sebesar 69 persen. Dari semula USD 1.570 menjadi USD 484 per bulan.

Lalu untuk pesawat berbadan ramping mengalami penurunan yang tidak terlalu besar jika dibandingkan nilai penurunan pada pesawat berbadan besar. Penurunan biaya sewa terjadi sebesar 35 persen dari harga semula.

Yakni, Boeing B737-800 mengalami penurunan sebesar 35 persen, dari semula USD 330 menjadi USD 215 per bulan. Kemudian, Airbus A320-200 mengalami penurunan 35 persen, dari semua USD 330 menjadi USD 214 per bulan.

Tiko menyampaikan, pihaknya masih memiliki pekerjaan rumah dalam menyelesaikan restrukturisasi ini. Misalnya terkait dengan penyuntikan modal ke Garuda Indonesia, hingga mencari investor strategis untuk mendanai maskapai.

“Pemerintah punya PR untuk masukkan PMN Rp 7,5 triliun, dan dengan manajemen juga bagaimana kita juga mencari investor strategis, dan porsi pemerintah akan turun ke 51 persen pasca 2 right issue nanti,” katanya.(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.