Wanita Ini Digadang-gadang Jadi Pengganti Kim Jong-un

Kim Yo Jong digadang-gadang jadi pengganti Kim Jong-un/AFP

SudutPandang.id – Kim Jong-un, pemimpin tertinggi Korea Utara dikabarkan meninggal dunia. Meski kabar tersebut masih simpang siur, namun berbagai spekulasi muncul mengenai siapa pengganti pemimpin yang dikenal kejam ini.

Belakangan santer terdengar nama Kim Yo Jong. Ia merupakan adik perempuan Kim Jong Un yang digadang-gadang menjadi kandidat terkuat pengganti kakaknya.

IMG-20220125-WA0002

Siapakah Kim Yo Jong?

Dari mengemban tugas sebagai penyedia asbak saat istirahat di KTT nuklir, wanita ini melesat jadi salah satu tokoh terpenting Korea Utara bersama kakaknya, Kim Jong Un.

Ia dikabarkan menikahi Choe Song pada Januari 2015. Ia juga disebut terlibat dalam pengaturan suksesi Kim Jong Un sebagai pemimpin tertinggi Korea Utara, setelah Kim Jong Il menderita stroke dua kali pada 2008.

Menurut Daily Mirror, Sabtu (25/4/2020), Profesor Natasha Lindstaedt mengatakan, gender tak menjadi penghalang bagi Kim Yo Jung jika nantinya berkuasa.

Pakar rezim totalitarian itu menyatakan, jika Kim Yo Jong masuk sebagai pengganti Kim Jong Un, maka tradisi keluarga memimpin Korut sejak Kim Il Sung di 1948 terus terjaga.

“Saya tidak percaya posisinya sebagai perempuan bakal melemahkan posisinya jika dia memegang kekuasaan,” kata Profesor Lindstaedt.

Dia menerangkan, keluarga Kim tidak dilihat sebagai manusia biasa oleh rakyat Korea Utara. Mereka dianggap sebagai wakil Tuhan yang akan mengurusi segalanya.

The Guardian mengabarkan, bulan lalu Kim Yo Jong membuat pernyataan publik pertamanya, yang mengecam Korea Selatan sebagai “gonggongan anjing yang ketakutan” usai Seoul memprotes latihan militer langsung Korea Utara.

Raut wajah Kim Yo Jong menunjukkan keceriaan. Ia biasaya tampil di depan publik dengan busana feminim. Pakaian serba hitam, sepatu hak tinggi, dan menguncir rambut panjangnya.

Namun di balik perawakannya yang lemah lembut itu, ternyata Kim Yo Jong dinilai telah masuk daftar hitam internasional karena “pelanggaran hak asasi manusia yang berat.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.