ACEH, SUDUTPANDANG.ID – Dua bulan setelah banjir bandang melanda Kabupaten Aceh Tamiang pada akhir 2025, proses pemulihan kehidupan warga masih terus berlangsung. Di tengah upaya panjang tersebut, konsistensi kehadiran negara melalui badan usaha milik negara (BUMN) menjadi salah satu hal yang menonjol.
Siaran pers PTPN IV PalmCo, Kamis (29/1/2026) menyebutkan, sejak hari pertama bencana, perusahaan BUMN ini tercatat aktif mendampingi proses penanganan darurat hingga fase pemulihan. Komitmen itu kembali terlihat saat Wakil Bupati Aceh Tamiang Ismail bersama Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K. Santosa dan pendiri benihbaik.com Andy F. Noya meninjau aktivitas warga di Hunian Sementara (Huntara) Danantara, Rabu (28/1/2026).
Dalam kunjungan tersebut, PTPN IV PalmCo meresmikan Sekolah Alam Darurat bagi anak-anak penyintas banjir sekaligus menyalurkan bantuan logistik untuk ibu dan anak. Langkah tersebut menegaskan pendekatan pemulihan yang tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga menyentuh aspek sosial dan psikologis warga terdampak, khususnya anak-anak.
“PTPN IV PalmCo ini paling cepat hadir membantu. PTPN mantap,” ujar Wakil Bupati Ismail.
Ia mengapresiasi respons perusahaan yang dinilai konsisten sejak masa tanggap darurat hingga fase pemulihan.
“Kehadiran mereka bukan hanya membantu secara fisik, tetapi juga memberi ketenangan bagi warga kami. Harapannya, semua bantuan ini menjadi amal ibadah,” katanya.
Selain Sekolah Alam Darurat yang diperuntukkan bagi anak usia 6 – 12 tahun, bantuan yang disalurkan meliputi ratusan paket nutrisi ibu dan anak, paket alat tulis sekolah, serta sepatu sekolah hasil kolaborasi dengan BenihBaik Indonesia.
Di tengah keterbatasan fasilitas pendidikan pascabencana, Sekolah Alam Darurat menjadi ruang sementara agar anak-anak tetap belajar, bermain, dan pulih dari trauma.
Pendiri benihbaik.com Andy F. Noya menilai, keberadaan fasilitas tersebut penting untuk memastikan bencana tidak memutus masa depan generasi muda.
“Secara psikologis, anak-anak dan keluarganya perlu diyakinkan bahwa mereka tidak ditinggalkan. Sekolah Alam ini bukan sekadar tempat belajar, tetapi simbol bahwa ada harapan dan masa depan yang terus diperjuangkan,” ujarnya.
Andy juga menyoroti kolaborasi antara BUMN, pemerintah pusat dan daerah, TNI-Polri, serta masyarakat sipil sebagai wujud nyata semangat gotong royong.
Menurutnya, kehadiran negara yang berjalan beriringan dengan masyarakat memberikan dampak langsung bagi kelompok paling rentan.
Konsistensi tersebut menjadi benang merah keterlibatan PTPN IV PalmCo sejak hari-hari awal bencana.

Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K. Santosa menegaskan, sebagai BUMN, perusahaan memiliki tanggung jawab moral untuk hadir ketika masyarakat membutuhkan.
“Bagi kami sederhana. Kami memiliki negara dan masyarakat. Ketika masyarakat membutuhkan, kami harus hadir,” ujar Jatmiko.
Ia menyebut, PTPN IV PalmCo termasuk pihak yang pertama kali masuk ke Aceh Tamiang pascabanjir, bahkan sebelum fase pemulihan dimulai.
Hunian Sementara Danantara berdiri di atas lahan milik PTPN seluas 5,85 hektare dengan kapasitas sekitar 600 unit. Selain menyediakan lahan, perusahaan juga mendukung proses pembukaan lahan, pembangunan fasilitas umum, serta pengamanan kawasan.
Ke depan, penyiapan lahan serupa juga akan dilakukan di sejumlah titik untuk pembangunan hunian sementara dan hunian tetap bagi warga yang direlokasi.
Menurut Jatmiko, pendampingan perusahaan tidak berhenti pada penyediaan hunian. Integrasi sosial warga pengungsi dengan masyarakat sekitar juga menjadi perhatian.
“Kami ingin saudara-saudara kita di Huntara ini dapat menyatu dengan desa sekitar, termasuk melalui kegiatan keagamaan dan sosial,” ujarnya.
Ia memastikan keterlibatan PTPN IV PalmCo akan terus berlanjut selama proses pemulihan berlangsung.
“Aset dan karyawan kami juga terdampak, sehingga kami menyatu dengan warga Aceh Tamiang. Kami tidak akan bosan untuk membantu,” kata Jatmiko.
Hunian Sementara Danantara merupakan proyek kolaborasi BUMN di bawah naungan Danantara Indonesia yang sempat dikunjungi Presiden Prabowo Subianto pada 1 Januari 2026.
Di Aceh Tamiang, hunian tersebut kini tidak hanya menjadi tempat berlindung, tetapi juga ruang untuk menata kembali kehidupan, dengan kehadiran negara yang konsisten sejak masa darurat hingga upaya memulihkan harapan masyarakat.(PR/01)










