Setop Jadi Budak Algoritma: Selamatkan Otak GenZ Sekarang

Otak
Kemal H Simanjuntak adalah Konsultan Manajemen | GRC Expert | Asesor LSP Tatakelola, Risiko, Kepatuhan (TRK) (Foto: SP)

“Sekolah harus menjadi suaka terakhir dari serangan digital, sebuah tempat di mana otak siswa dipaksa untuk kembali pada hakikat interaksi sosial yang nyata dan melatih kembali “otot fokus” mereka yang telah melemah”

Oleh: Dr.Kemal H Simanjuntak,MBA

Realitas pahit di ruang kelas kita saat ini adalah pemandangan menyedihkan di mana siswa-siswa tertunduk lesu, wajah mereka pucat terpapar cahaya biru gawai yang telah berubah dari jendela ilmu menjadi jeruji penjara digital.

Kita harus berhenti bersikap naif dan mulai mengakui bahwa teknologi yang kita agungkan ini sering kali justru menjadi parasit yang menghisap fokus, menghambat pertumbuhan mental, dan merusak kapasitas intelektual anak-anak kita secara sistematis melalui distraksi yang tak henti-hentinya.

Beban psikologis yang dipikul remaja di balik layar ponsel mereka sudah mencapai titik nadir yang membahayakan kesehatan jiwa. Mereka tidak lagi mencari jati diri di dunia nyata, melainkan terjebak dalam perlombaan validasi semu berupa angka likes dan pengikut yang memicu depresi serta krisis identitas akut saat ekspektasi digital mereka tidak terpenuhi.

Perbandingan sosial yang terjadi di media sosial adalah pertempuran yang mustahil dimenangkan, karena anak-anak kita dipaksa membandingkan kehidupan nyata mereka yang manusiawi dengan potongan momen palsu orang lain yang telah dikurasi secara agresif selama dua puluh empat jam penuh.

BACA JUGA  Pemkot Jakbar Minta Forum Anak Kota Jadi Pelopor

Ilusi multitasking yang dipercaya oleh para siswa hanyalah sebuah mitos kognitif yang menghancurkan kemampuan otak untuk berpikir mendalam. Setiap bunyi notifikasi bukan sekadar gangguan kecil, melainkan serangan mendadak yang memutus arus fokus dan mencegah terjadinya pemahaman materi yang substansial.

Karena otak remaja secara fisiologis belum cukup matang untuk melawan ledakan dopamin dari perangkat tersebut, fokus yang terpecah ini pada akhirnya menjadi cacat kognitif permanen yang meruntuhkan kualitas akademik mereka secara keseluruhan.

Fenomena global menunjukkan bahwa negara-negara maju seperti Australia, Prancis, dan Belanda telah mengambil langkah ekstrem dengan melarang total ponsel di sekolah karena mereka menyadari bahwa regulasi mandiri siswa telah kalah telak melawan algoritma yang adiktif.

Mereka memahami bahwa ketika teknologi sudah menjadi “gangguan saku” yang kronis, intervensi kebijakan yang tegas adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan fungsi otak generasi mendatang.

Keputusan mereka untuk menyingkirkan gawai dari ruang kelas telah terbukti secara ilmiah mampu mengembalikan konsentrasi siswa dan menciptakan lingkungan belajar yang lebih manusiawi.

BACA JUGA  Catatan Hendry Ch Bangun: Ada Apa dengan Dewan Pers?

Implementasi Zona Bebas Gawai di sekolah-sekolah Indonesia, sebagaimana ditekankan oleh Prof. Suyanto, harus segera dilakukan secara radikal di area-area krusial seperti ruang kelas, kantin, tempat ibadah, hingga toilet.

Sekolah harus menjadi suaka terakhir dari serangan digital, sebuah tempat di mana siswa dipaksa untuk kembali pada hakikat interaksi sosial yang nyata dan melatih kembali “otot fokus” mereka yang telah melemah.

Kebijakan keluar dari zona notifikasi ini adalah upaya krusial untuk memastikan bahwa manusia kembali memegang kendali atas teknologi, bukan sebaliknya di mana manusia hanyalah objek yang didikte oleh layar.

Perjuangan ini tidak akan membuahkan hasil jika rumah tidak menjadi benteng pertahanan utama dalam disiplin digital melalui kesepakatan keluarga yang tegas dan hangat. Orang tua harus berhenti menjadi “polisi gawai” yang sekadar melarang tanpa teladan, melainkan harus mampu menciptakan ritual tanpa layar di meja makan untuk membangun kembali koneksi emosional yang sempat terputus oleh kabel data.

Literasi digital dan perlindungan privasi harus diajarkan sebagai keterampilan bertahan hidup yang mendasar, agar anak-anak kita memiliki perisai yang cukup kuat saat mereka harus berhadapan dengan keganasan dunia maya di luar rumah.

BACA JUGA  Lisa Mariana Desak Ridwan Kamil Tes DNA Ulang di Singapura

Masa depan bangsa ini sedang dipertaruhkan di ujung jari anak-anak yang terlalu sibuk menatap layar hingga lupa cara melihat masa depan mereka sendiri. Kita membutuhkan keberanian kolektif untuk merebut kembali perhatian yang selama ini telah kita serahkan secara sukarela kepada algoritma raksasa teknologi.

Jika kita tidak memiliki nyali untuk mematikan notifikasi dan menetapkan batas yang tegas hari ini, maka kita sedang secara sadar membiarkan masa depan generasi muda terkikis habis oleh kilauan layar yang mematikan logika dan empati mereka.

*Penulis Kemal H Simanjuntak adalah Konsultan Manajemen | GRC Expert | Asesor LSP Tatakelola, Risiko, Kepatuhan (TRK)