Catur Golgota: Frontalitas Amerika vs Kelicikan Strategis Tiongkok

Tiongkok
Dr. Kemal H Simanjuntak (Foto: Net)

“Tiongkok tidak melawan arus secara kasar, melainkan membangun legitimasi, merangkul struktur yang ada dan menggunakan retorika “harmoni” untuk mengunci dominasi tanpa memicu konfrontasi fisik yang merugikan”

Oleh: Dr.Kemal H Simanjuntak, MBA

Dunia hari ini tidak sekadar menyaksikan persaingan ekonomi, melainkan sebuah benturan peradaban strategis yang sangat fundamental. Jika kita membedah dinamika kekuasaan global melalui lensa teologis yang tajam, peristiwa di Bukit Golgota memberikan analogi yang mengejutkan.

Dua penjahat yang disalibkan di sisi Yesus mewakili dua manifestasi kekuasaan yang kini sedang bertarung memperebutkan dominasi dunia: Amerika Serikat dan Tiongkok.

Penjahat di sebelah kiri mewakili Strategi Frontal Amerika Serikat.

Dengan nada tinggi dan tuntutan eksplisit, ia menghujat: “Bukankah Engkau Kristus? Selamatkan lah diri-Mu dan kami!”Ini adalah potret sempurna dari kebijakan luar negeri Washington yang mengandalkan “Gada Frontal”ekspresif, transaksional, dan disruptif.

BACA JUGA  Di Balik Layar IPO Saham BRIS (BSI, Tbk.)

Amerika tidak ragu menggunakan kekuatan militer atau sanksi ekonomi secara terbuka untuk memaksakan kehendak atau membuktikan supremasinya sebagai polisi global. Tidak ada ruang bagi ambiguitas ia menyerang secara langsung, menuntut hasil seketika, dan sering kali terjebak dalam arogansi kekuatan yang justru mengekspos kerentanannya sendiri di hadapan publik internasional.

Sebaliknya, penjahat di sebelah kanan mencerminkan Strategi Black Belly Tiongkok yang bersifat infiltratif, tenang, dan sangat kalkulatif. Berbeda dengan rekannya yang berteriak kasar, karakter ini bersikap santun, menggunakan narasi moralitas untuk menegur temannya, dan menunjukkan kepatuhan yang tampak tulus:

“Tidakkah engkau takut kepada Allah… kita memang selayaknya dihukum.” Namun, di balik sikap “baik” dan pengakuannya terhadap otoritas masa depan (“Ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja”), terdapat strategi jangka panjang yang presisi untuk mengamankan posisi eksistensialnya. Inilah esensi fù hēi atau “perut hitam”:

BACA JUGA  Catatan Hukum OC Kaligis: Akar Korupsi Belum Tersentuh

Tiongkok tidak melawan arus secara kasar, melainkan membangun legitimasi, merangkul struktur yang ada dan menggunakan retorika “harmoni” untuk mengunci dominasi tanpa memicu konfrontasi fisik yang merugikan.

Realitas geopolitik dalam kasus seperti Iran memperlihatkan benturan dua gaya ini secara telanjang. Amerika, sang penjahat kiri, menghabiskan energi dalam konfrontasi terbuka yang gaduh dan melelahkan secara finansial.

Sementara itu, Tiongkok, sang penjahat kanan dengan strategi black belly-nya, memilih tampil sebagai mitra yang bijak, menjahit aliansi melalui diplomasi halus, dan secara perlahan menggeser struktur kekuasaan tanpa menarik perhatian sebagai agresor.

Pertarungan dominasi dunia ini pada akhirnya adalah perang antara Kegaduhan yang Frontal melawan Keheningan yang Manipulatif.

Amerika mungkin merasa menang karena suaranya yang paling keras dan tangannya yang paling kuat di medan tempur. Namun, sejarah mungkin akan mencatat bahwa Tiongkok sedang membangun fondasi kekuasaan yang jauh lebih permanen melalui strategi “perut hitam” yang memastikan mereka tetap relevan di masa depan, tepat saat sang raksasa frontal mulai kelelahan dengan agresinya sen.

BACA JUGA  Menyikapi Petisi Segelintir Guru Besar ke Jokowi

*Penulis Kemal H Simanjuntak adalah Konsultan Manajemen | GRC Expert | Asesor LSP Tatakelola, Risiko, Kepatuhan (TRK)