“Adapun usulan untuk memindahkan gerbong perempuan kurang pas dikarenakan tujuan utamanya kan KRL safety penumpang jadi tidak peduli dibelakang atau didepan itu gerbong perempuan ataupun laki-laki”
Oleh: Taufik Hidayatullah
Sebagai salah satu orang yang suka menaiki KRL lintas Jabodetabek karena dinilai lebih hemat dan efisien merasa cukup prihatin dan menyampaikan duka mendalam bagi para keluarga korban.
Oleh karenanya terjadinya insiden yang cukup membuat publik prihatin atas tabrakan beruntun yang menelan banyak korban sehingga saya kira perlu menjadi atensi pemerintah dalam hal ini kementrian terkait untuk bekerjasama membereskannya.
Ruang transportasi seyogyanya menjadi ruang aman baik dari tindak pidana pelecehan sexual hingga kecelakaan sehingga setiap Stakeholder (pemangku kepentingan) bekerjasama untuk menuntaskannya sehingga insiden Kecelakaan KRL di Bekasi beruntun ini tidak terjadi lagi.
Hal tersebut bisa diantisipasi dengan memperketat penjagaan di palang pintu rel kereta misalnya sehingga setiap palang pintu sudah semestinya dan bahkan bersifat wajib untuk dijaga ketat sehingga tidak ada insiden mobil mati atau mogok di tengah lintasan kereta api.
Adapun usulan untuk memindahkan gerbong perempuan kurang pas dikarenakan tujuan utamanya kan safety penumpang jadi tidak peduli dibelakang atau didepan itu gerbong perempuan ataupun laki-laki.
Intinya tidak boleh ada satupun nyawa yang hilang keselamatan tetap nomor satu. Langkah cepat dilakukan telah dilakukan Komite Nasional Kecelakaan Transportasi (KNKT) yang telah menerjunkan penyelidiknya di lapangan menandai dibukanya investigasi.
Ini mengisyaratkan perlunya tata kelola yang mesti diperbaiki sehingga tidak terjadi hal yang serupa ditempat lain. Evaluasi total menyeluruh perlu sehingga tidak ada moda transportasi apapun yang terkesan bias dari rasa aman, nyaman baik itu transportasi darat maupun udara.










