Pentingnya Mengedukasi Remaja dan Masyarakat Tentang Pola Predator

Predator
Nolan Soetiyono,S.psi.,CM.,CHt seorang pengamat sosial dan psikologi (Foto: SP)

“Predator dalam konteks ini bukan sekadar istilah biologi, melainkan individu yang secara sadar mengincar mereka yang dianggap lebih lemah atau rentan untuk dieksploitasi”

Okeh: Nolan Soetiyono,S.psi.,CM.,CHt

Dalam realitas sosial kita hari ini, kedekatan yang terlihat ideal sering kali hanyalah kemasan dari niat yang manipulatif. Kita harus berani mengakui bahwa selama ini edukasi kita masih sangat dangkal. kita hanya mengajarkan waspada pada kekerasan fisik, padahal ancaman yang lebih berbahaya justru datang lewat pendekatan halus yang sangat meyakinkan. Inilah mengapa edukasi tentang pola predator menjadi krusial.

Predator dalam konteks ini bukan sekadar istilah biologi, melainkan individu yang secara sadar mengincar mereka yang dianggap lebih lemah atau rentan untuk dieksploitasi. Penting untuk dipahami bahwa perilaku predator tidak terbatas pada jenis kelamin atau orientasi tertentu.

BACA JUGA  Babinsa TNI-Warga Bangun Saluran Irigasi di Desa Karangsono-Pasuruan

Ia bisa menyasar anak di bawah umur, lawan jenis, maupun sesama jenis. Poin utamanya bukan pada siapa korbannya, melainkan pada ketimpangan kekuasaan dan niat untuk mengontrol, memanfaatkan, atau merusak batasan diri orang lain demi kepuasan pribadi.

Fenomena grooming adalah bukti nyata bagaimana sebuah hubungan dijadikan alat kontrol. Lewat teknik love bombing, pelaku sengaja mempercepat ritme kedekatan agar korban merasa “istimewa” dalam waktu singkat.

Namun, di balik intensitas itu, ada pengujian batas diri yang dilakukan secara perlahan mulai dari candaan yang merendahkan hingga paksaan untuk menjaga rahasia yang tidak nyaman.

Tanpa literasi psikologis yang kuat, remaja kita akan terjebak dalam rasa bersalah atau merasa “terlalu sensitif” saat insting mereka sebenarnya sedang memberikan sinyal bahaya.

BACA JUGA  Cegah Stunting, Plt Bupati Sidoarjo Salurkan Bantuan untuk Warga

Melihat dampaknya yang sistemik, pemerintah harus hadir lebih ekstra dalam menangani kasus ini. Kita sedang bicara soal masa depan para penerus bangsa.

Sangat riskan bagi masa depan negara jika calon pemimpin kita tumbuh dalam bayang-bayang trauma sebagai korban, atau justru malah menjadi pelaku predator karena pola perilaku menyimpang ini tidak pernah dituntaskan hingga ke akarnya.

Karakter seorang pemimpin dibentuk dari kesehatan mentalnya sejak dini, kita tidak ingin negara ini dipimpin oleh orang-orang yang melihat kekuasaan sebagai alat untuk “memangsa” sesamanya.

Memberikan edukasi ini bukan berarti menciptakan masyarakat yang paranoid, melainkan masyarakat yang cerdas secara emosional. Kita harus menanamkan kesadaran kolektif bahwa tidak semua perhatian adalah bentuk ketulusan.

BACA JUGA  Fred B.G Tumbuan Berpulang, OC Kaligis: Beristirahatlah Dalam Damai Tuhan

Pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat harus berkolaborasi memastikan ruang aman bagi remaja, karena kualitas bangsa ini sangat bergantung pada bagaimana kita melindungi mental mereka yang akan memegang tongkat estafet kepemimpinan kelak.

*Penulis adalah Nolan Soetiyono,S.psi.,CM.,CHt seorang pengamat sosial dan psikologi