Matahari Tepat di Atas Ka’bah pada Hari Arafah, Ini Penjelasannya

Avatar photo
Matahari Tepat di Atas Ka’bah pada Hari Arafah, Ini Penjelasannya
Jemaah Haji (Foto: Dok. Kemenag)

JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID –Fenomena matahari tepat berada di atas Ka’bah diperkirakan terjadi bertepatan dengan Hari Arafah 9 Dzulhijjah 1447 Hijriah atau Selasa (26/5/2026). Peristiwa astronomi tersebut membuat Ka’bah di Masjidil Haram tampak tidak memiliki bayangan karena posisi matahari berada lurus di atas bangunan kiblat umat Islam itu.

Fenomena tersebut dikenal sebagai Rashdul Kiblat atau Istiwa A’zam, yakni kondisi ketika posisi matahari sejajar dengan Ka’bah sehingga arah bayangan benda tegak lurus di permukaan bumi dapat dijadikan acuan untuk menentukan arah kiblat.

Fenomena matahari tepat di atas Ka’bah umumnya terjadi dua kali dalam setahun. Hal itu dipengaruhi letak geografis Kota Mekkah yang berada di sekitar garis lintang 21,4 derajat utara.

BACA JUGA  Jelang Idul Adha, Karyawan Muslim PTPN IV PalmCo Himpun 1.713 Hewan Kurban untuk Warga dan Korban Banjir

Pada musim haji 2026, fenomena tersebut dinilai istimewa karena bertepatan dengan Hari Arafah.

Para astronom menyebut peristiwa serupa terakhir kali terjadi pada musim haji 1993.

Para ahli astronomi menjelaskan keselarasan posisi matahari dengan Ka’bah terjadi akibat perbedaan antara kalender Hijriah berbasis lunar dan kalender Gregorian berbasis matahari.

Siklus tersebut membutuhkan waktu sekitar 33 tahun untuk kembali berada pada posisi yang sama.

Kementerian Agama (Kemenag) RI mengajak masyarakat memanfaatkan fenomena Rashdul Kiblat untuk memverifikasi arah kiblat secara mandiri pada 27 dan 28 Mei 2026.

Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kemenag, Arsad Hidayat, mengatakan, fenomena tersebut menjadi momen yang tepat untuk mengecek kembali arah kiblat di rumah maupun masjid.

BACA JUGA  Bupati Asahan Upah-upah 22 Jemaah Calon Haji Keluarga Besar Dinas Pendidikan

“Ketika matahari tepat berada di atas Ka’bah, arah bayangan benda tegak lurus akan mengarah berlawanan dengan arah kiblat,” kata Arsad, Senin (25/5/2026).

Berdasarkan data astronomi, fenomena Rashdul Kiblat diperkirakan terjadi sekitar pukul 16.18 WIB atau 17.18 Wita.

Menurut Arsad, metode Rashdul Kiblat telah lama digunakan dalam ilmu falak sebagai salah satu cara menentukan arah kiblat selain menggunakan kompas, teodolit, maupun aplikasi digital berbasis satelit.

Sementara itu, Pusat Meteorologi Nasional Arab Saudi menegaskan fenomena tersebut merupakan peristiwa astronomi rutin dan tidak selalu berkaitan dengan peningkatan suhu ekstrem.

Juru bicara pusat meteorologi Saudi, Hussein Al Qahtani, mengatakan, kondisi cuaca lebih dipengaruhi faktor lain seperti kelembaban udara, awan, kecepatan angin, dan pergerakan massa udara dibanding posisi matahari semata.(red)