JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID — Chef de Mission (CdM) Kontingen Indonesia untuk Asian Games 2026, Todotua Pasaribu, memastikan pihaknya akan melibatkan sektor swasta melalui skema sponsorship untuk mendukung kebutuhan kontingen Merah Putih yang akan berlaga pada Asian Games 2026 di Aichi-Nagoya, Jepang, September mendatang.
Langkah tersebut dilakukan sebagai pelengkap dukungan anggaran pemerintah agar persiapan atlet dan ofisial dapat berlangsung lebih optimal.
Todotua menyampaikan hal itu usai mengikuti rapat koordinasi bersama Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir dan Wakil Menteri Pemuda dan Olahraga (Wamenpora) Taufik Hidayat di Kantor Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Jakarta, Rabu (1/7/2026).
Menurutnya, pemerintah telah memberikan dukungan anggaran melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Namun, keterlibatan dunia usaha dinilai menjadi strategi penting untuk memperkuat pembiayaan berbagai kebutuhan operasional yang tidak seluruhnya dapat dipenuhi melalui dana pemerintah.
“Di luar dari dana itu, kami memang merencanakan untuk membuka dan juga mengintegrasikan pihak swasta dalam bentuk sponsor. Tentunya ini dalam kerangka untuk bisa membantu menyukseskan keberangkatan kontingen Indonesia,” kata Todotua.
Ia menjelaskan bahwa kerja sama dengan sektor swasta bukan dimaksudkan menggantikan peran pemerintah, melainkan menjadi bentuk kolaborasi untuk memperkuat dukungan terhadap atlet nasional yang akan membawa nama Indonesia di ajang olahraga terbesar di Asia.
Menurut Todotua, pemerintah tetap menjadi sumber pendanaan utama dalam persiapan kontingen Indonesia.
Menpora Erick Thohir sebelumnya telah memastikan pemerintah menyediakan anggaran sebesar Rp61 miliar untuk mendukung keberangkatan kontingen Indonesia ke Asian Games 2026.
Dana tersebut dialokasikan guna memenuhi berbagai kebutuhan pokok, mulai dari transportasi internasional, akomodasi atlet dan ofisial, konsumsi, logistik, hingga operasional tim selama mengikuti kompetisi di Jepang.
“Menpora sudah menyampaikan bahwa dari APBN nilainya ada Rp61 miliar yang dipersiapkan,” ujar Todotua.
Meski demikian, ia menilai masih terdapat sejumlah kebutuhan pendukung yang dapat diperkuat melalui partisipasi sektor swasta, terutama dalam meningkatkan kualitas pelayanan terhadap atlet selama masa persiapan maupun ketika berada di Jepang.
Todotua mengatakan dukungan sponsor dapat diarahkan pada berbagai aspek yang berkaitan dengan peningkatan performa atlet, seperti perlengkapan olahraga, layanan kesehatan, nutrisi, pemulihan fisik, teknologi pendukung latihan, hingga kebutuhan promosi kontingen Indonesia.
Menurutnya, semakin besar dukungan yang diterima atlet, semakin besar pula peluang mereka tampil maksimal di arena pertandingan.
Karena itu, Tim Chef de Mission akan membuka ruang kolaborasi dengan berbagai perusahaan nasional maupun swasta yang memiliki komitmen mendukung kemajuan olahraga Indonesia.
Ia memastikan seluruh kerja sama sponsorship akan dilaksanakan secara profesional, transparan, dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
“Tim CdM akan mengintegrasikan dukungan sponsor dalam kerangka kerja yang terukur dan sesuai aturan sehingga seluruh bantuan dapat dimanfaatkan secara optimal,” katanya.
Todotua menambahkan, sinergi antara pemerintah dan sektor swasta telah menjadi praktik yang umum dilakukan di berbagai negara dalam mendukung kontingen olahraga nasional.
Model kolaborasi tersebut dinilai mampu memperkuat pembinaan atlet tanpa mengurangi prinsip akuntabilitas dalam penggunaan anggaran negara.
Selain aspek pendanaan, Tim Chef de Mission juga terus mematangkan berbagai program persiapan menuju Asian Games melalui agenda Road to Asian Games 2026.
Program tersebut akan difokuskan di dalam negeri dengan memaksimalkan fasilitas olahraga yang tersedia serta memperkuat koordinasi dengan seluruh induk organisasi cabang olahraga.
Menurut Todotua, persiapan yang matang sejak sebelum keberangkatan menjadi faktor penting agar atlet Indonesia mampu bersaing dengan negara-negara kuat di kawasan Asia.
Saat ini, Indonesia dipastikan akan mengikuti 32 cabang olahraga pada Asian Games 2026.
Beberapa cabang yang menjadi andalan Merah Putih di antaranya panjat tebing, atletik, akuatik, serta berbagai cabang olahraga lainnya yang memiliki peluang meraih medali.
Jumlah atlet yang diproyeksikan berangkat diperkirakan mencapai lebih dari 450 atlet, didampingi sekitar 150 ofisial, sehingga total anggota kontingen Indonesia mencapai sekitar 600 orang.
Komposisi tersebut masih dapat mengalami penyesuaian mengikuti hasil seleksi nasional serta evaluasi kesiapan dari masing-masing cabang olahraga.
Todotua mengatakan koordinasi dengan seluruh federasi olahraga akan terus dilakukan hingga menjelang keberangkatan ke Jepang.
Evaluasi berkala dilakukan untuk memastikan setiap atlet memperoleh dukungan latihan, fasilitas, serta kebutuhan teknis sesuai standar internasional.
Sementara itu, Menpora Erick Thohir sebelumnya menegaskan pemerintah tengah memperkuat sistem pembinaan atlet melalui program pelatnas multiyears sebagai fondasi peningkatan prestasi olahraga nasional.
Menurut Erick, pembinaan yang berkesinambungan harus didukung dengan tata kelola anggaran yang efektif dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan.
Melalui dukungan APBN, keterlibatan sektor swasta, serta sinergi antara Kemenpora, Komite Olimpiade Indonesia (KOI), Tim Chef de Mission, dan seluruh induk organisasi cabang olahraga, pemerintah optimistis kontingen Indonesia mampu tampil kompetitif di Asian Games 2026.
Kolaborasi tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat persiapan menuju Aichi-Nagoya, tetapi juga menjadi fondasi pembinaan atlet nasional dalam menghadapi SEA Games, Olimpiade, dan berbagai kejuaraan internasional pada masa mendatang. (09/AGF).










