JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID – Maybank Marathon mempertegas komitmennya terhadap prinsip keberlanjutan (sustainability) dengan menargetkan penyelenggaraan ajang lari internasional tersebut menjadi maraton netral karbon (carbon neutral) pada 2030.
Target itu akan dicapai melalui serangkaian langkah strategis, mulai dari pengukuran jejak karbon, pengurangan emisi secara bertahap, hingga penguatan program pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.
Komitmen tersebut disampaikan dalam temu media yang digelar di Jakarta, Selasa (14/7/2026), sebagai bagian dari roadmap keberlanjutan penyelenggaraan Maybank Marathon yang selama ini dikenal sebagai salah satu ajang lari terbesar di Indonesia.
Head Sustainability Maybank Indonesia, Maria Trifanny Fransiska, mengatakan, Maybank Marathon tidak hanya berfokus pada pencapaian prestasi para pelari, tetapi juga ingin menghadirkan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat.
Menurutnya, keberhasilan sebuah event olahraga saat ini tidak lagi hanya diukur dari jumlah peserta maupun kualitas penyelenggaraan, tetapi juga dari kontribusinya terhadap pembangunan berkelanjutan.
“Maybank Marathon bukan sekadar ajang bagi pelari untuk mengejar personal best. Kami ingin setiap langkah yang diambil para peserta memiliki makna lebih besar dengan memberikan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat,” ujar Maria.
Sebagai langkah awal menuju target tersebut, Maybank Marathon mulai melakukan penghitungan jejak karbon penyelenggaraan edisi 2025 menggunakan metode carbon calculator.
Penghitungan tersebut bertujuan memperoleh data dasar atau baseline emisi karbon yang dihasilkan selama pelaksanaan acara sehingga strategi pengurangan emisi dapat dilakukan secara terukur pada tahun-tahun berikutnya.
Maria menjelaskan bahwa proses pengukuran menjadi fondasi penting dalam implementasi roadmap keberlanjutan.
Tanpa mengetahui besaran emisi yang dihasilkan, penyelenggara akan kesulitan menentukan langkah mitigasi yang efektif.
“Keberlanjutan bukan hanya tujuan akhir, tetapi merupakan perjalanan panjang yang harus dilakukan bersama. Karena itu kami memulai dengan menghitung baseline emisi agar langkah pengurangan karbon ke depan dapat dilakukan secara terukur, transparan, dan bertanggung jawab,” katanya.
Dalam proses tersebut, Maybank Indonesia menggandeng perusahaan teknologi iklim (climate tech), Jejakin, yang memiliki pengalaman dalam pengukuran emisi karbon berdasarkan standar internasional.
ESG Lead Jejakin, Dwiputra Ahmad Ramdani, menjelaskan, penghitungan dilakukan menggunakan kerangka perhitungan emisi untuk penyelenggaraan event berskala internasional.
Berbagai komponen diperhitungkan secara menyeluruh, mulai dari perjalanan peserta menuju Bali, transportasi selama berada di lokasi acara, penggunaan hotel atau akomodasi, konsumsi energi selama event berlangsung, hingga pengelolaan limbah yang dihasilkan.
Hasil penghitungan awal menunjukkan total emisi karbon penyelenggaraan Maybank Marathon mencapai sekitar 4.336 ton karbon dioksida ekuivalen (CO₂e).
Angka tersebut menjadi acuan utama dalam menyusun berbagai kebijakan pengurangan emisi secara bertahap hingga target carbon neutral pada 2030 dapat tercapai.
Dwiputra mengungkapkan sebagian besar emisi berasal dari aktivitas peserta, terutama transportasi udara menuju Bali dan penggunaan akomodasi selama beberapa hari.
“Dari hasil perhitungan, kontribusi emisi terbesar berasal dari akomodasi peserta karena banyak pelari menginap beberapa hari di Bali. Selain itu, perjalanan udara menuju Bali juga menjadi salah satu penyumbang emisi karbon terbesar,” ujarnya.
Berdasarkan temuan tersebut, penyelenggara mulai menyusun berbagai strategi pengurangan emisi yang akan diterapkan secara bertahap pada penyelenggaraan berikutnya.
Salah satunya adalah mendorong penggunaan kendaraan listrik dalam operasional acara serta memperluas layanan shuttle bagi peserta untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi.
Selain itu, Maybank Marathon juga akan meningkatkan kerja sama dengan sektor perhotelan yang telah menerapkan prinsip bangunan hijau dan efisiensi energi sehingga dampak emisi dari sektor akomodasi dapat ditekan.
Tidak hanya berfokus pada pengurangan emisi, penyelenggara juga menjalankan berbagai program konservasi lingkungan sebagai bagian dari strategi penyerapan karbon.
Salah satu program yang terus dikembangkan adalah penanaman mangrove di kawasan pesisir.
Mangrove dipilih karena memiliki kemampuan menyerap karbon yang tinggi sekaligus memberikan manfaat ekologis berupa perlindungan garis pantai, menjaga habitat biota laut, serta meningkatkan kualitas lingkungan pesisir.
Komitmen keberlanjutan Maybank Marathon juga tidak hanya mencakup aspek lingkungan, tetapi diperluas hingga aspek sosial.
Melalui Sustainability Pavilion, peserta dan masyarakat diajak memahami pentingnya gaya hidup ramah lingkungan melalui berbagai kegiatan edukasi.
Penyelenggara juga terus mengembangkan program Run for Charity yang memberikan kesempatan kepada peserta untuk berkontribusi terhadap berbagai kegiatan sosial.
Di sisi lain, keterlibatan masyarakat lokal Bali juga menjadi bagian penting dalam roadmap keberlanjutan tersebut.
Maybank Indonesia berupaya meningkatkan pemberdayaan masyarakat melalui kolaborasi dengan pelaku usaha lokal, komunitas, serta berbagai program ekonomi yang memberikan manfaat langsung bagi warga sekitar.
Menurut Maria, keberlanjutan hanya dapat terwujud apabila seluruh pemangku kepentingan terlibat secara aktif, mulai dari penyelenggara, peserta, pemerintah daerah, pelaku industri pariwisata, hingga masyarakat.
Karena itu, roadmap menuju carbon neutral akan terus dievaluasi dan diperkuat melalui berbagai inovasi berbasis data hasil pengukuran emisi.
Melalui berbagai langkah tersebut, Maybank Marathon berharap tidak hanya menjadi ajang lari berstandar internasional, tetapi juga menjadi contoh penyelenggaraan sport event yang mengedepankan prinsip keberlanjutan.
Inisiatif ini sekaligus diharapkan mendukung target Bali Net Zero Emission 2045, memperkuat kesadaran lingkungan di kalangan pelari, serta menunjukkan bahwa olahraga dapat menjadi salah satu instrumen penting dalam mendukung agenda pembangunan berkelanjutan di Indonesia.(09/AGF)










