Opini  

110 Tahun Mathla’ul Anwar: Refleksi Peran Organisasi Keumatan dan Mandat Masa Depan

Avatar photo
110 Tahun Mathla’ul Anwar: Refleksi Peran Organisasi Keumatan dan Mandat Masa Depan
KH Zaenal Abidin Syuja'i (Foto: Dok. pribadi)

“Organisasi yang lahir dari perjuangan para ulama tidak boleh hanya menjadi pewaris nama, tetapi harus menjadi pewaris cita-cita.”

Oleh Zaenal Abidin Syuja’i

Seratus sepuluh tahun adalah rentang waktu yang tidak pendek. Di dalamnya terdapat pergantian zaman, perubahan generasi, dinamika politik, pergulatan sosial, serta transformasi kehidupan masyarakat yang begitu cepat.

Bagi Mathla’ul Anwar, 110 tahun bukan sekadar perayaan usia organisasi. Ia adalah momentum untuk melakukan refleksi: sejauh mana perjalanan panjang itu telah memberikan kontribusi bagi umat, bangsa, dan negara. Dan yang tidak kalah penting, apa mandat sejarah yang harus dijawab Mathla’ul Anwar dalam menghadapi masa depan.

Mathla’ul Anwar lahir di Menes, Pandeglang, Banten, pada 1916. Didirikan oleh KH Mas Abdurrahman bersama para ulama Banten. Sejak awal, organisasi ini dibangun dengan orientasi pendidikan, dakwah, dan sosial kemasyarakatan.

Kelahirannya terjadi dalam suasana kolonial ketika keterbatasan akses pendidikan dan keterbelakangan pengetahuan menjadi persoalan besar masyarakat. Karena itu, pilihan para pendirinya menjadikan pendidikan sebagai jalan perjuangan memiliki makna yang sangat strategis.

Mereka menyadari bahwa membebaskan manusia dari kebodohan merupakan bagian dari membangun kemerdekaan itu sendiri.

Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan

Sejarah Indonesia menunjukkan bahwa perjuangan kebangsaan tidak hanya berlangsung melalui perlawanan fisik. Perjuangan juga berlangsung melalui pendidikan, dakwah, pesantren, madrasah, organisasi sosial, dan pembentukan kesadaran masyarakat. Dalam konteks itulah Mathla’ul Anwar harus ditempatkan.

Ketika negara Indonesia bahkan belum lahir, para ulama telah memikirkan bagaimana masyarakat dapat memperoleh pendidikan. Mendirikan lembaga pendidikan pada masa itu bukan pekerjaan sederhana. Ia membutuhkan keberanian, ketekunan, pengorbanan, dan visi yang jauh ke depan.

Mathla’ul Anwar kemudian berkembang dan mendirikan berbagai lembaga pendidikan dari tingkat dasar hingga menengah. Bahkan, gagasan pendidikan terus dikembangkan sampai tingkat perguruan tinggi melalui Universitas Mathla’ul Anwar.

Di sinilah sesungguhnya salah satu kontribusi fundamental Mathla’ul Anwar terhadap bangsa. Mendidik manusia berarti mempersiapkan masa depan bangsa.

Sekolah dan madrasah bukan sekadar bangunan fisik. Di dalamnya berlangsung proses transformasi manusia: dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak memiliki kesadaran menjadi sadar, dari tidak memiliki keterampilan menjadi mampu, dan dari sekadar menjadi individu menjadi warga masyarakat yang memiliki tanggung jawab sosial.

Karena itu, kontribusi organisasi keumatan terhadap bangsa tidak selalu harus diukur dari keterlibatannya dalam politik kekuasaan.

Sering kali kontribusi yang jauh lebih mendasar justru berlangsung sunyi: seorang guru yang mengajar, seorang ulama yang berdakwah, seorang pengelola madrasah yang bertahan dalam keterbatasan, atau seorang kader yang mengabdikan hidupnya untuk masyarakat. Di sanalah sesungguhnya sejarah bangsa dibangun.

Organisasi Keumatan sebagai Kekuatan Masyarakat Sipil

Indonesia tidak hanya dibangun oleh negara. Indonesia juga dibangun oleh masyarakat, dan di antara kekuatan masyarakat sipil yang memiliki kontribusi besar adalah organisasi-organisasi keumatan. Mereka hadir jauh sebelum negara memiliki kapasitas pembangunan seperti sekarang.

BACA JUGA  Setop Jadi Budak Algoritma: Selamatkan Otak GenZ Sekarang

Organisasi keumatan membangun sekolah ketika negara belum mampu menjangkau seluruh masyarakat. Mendirikan rumah ibadah ketika fasilitas publik masih terbatas. Mengembangkan dakwah ketika tingkat literasi keagamaan masyarakat masih rendah. Membantu masyarakat miskin ketika sistem perlindungan sosial belum berkembang seperti sekarang.

Dengan demikian, organisasi keumatan sebenarnya merupakan bagian dari infrastruktur sosial bangsa, dan Mathla’ul Anwar adalah bagian dari sejarah tersebut.

Penelitian tentang kontribusi Mathla’ul Anwar di bidang pendidikan mencatat berkembangnya lembaga pendidikan dasar dan menengah, perguruan tinggi, penyiapan tenaga pendidik, serta penguatan nilai ketakwaan, karakter, moral, disiplin, kepedulian sosial, serta pemikiran moderat dan rasional.

Artinya, kontribusi organisasi keumatan tidak berhenti pada transfer ilmu pengetahuan, dan bangsa yang besar tidak cukup hanya membutuhkan manusia yang cerdas. Ia membutuhkan manusia yang berkarakter.

Islam dan Kebangsaan

Salah satu kontribusi penting organisasi keumatan adalah mempertemukan nilai-nilai keagamaan dengan kebutuhan kebangsaan. Islam tidak hadir untuk menjauhkan manusia dari persoalan dunia. Islam justru memberikan nilai agar kehidupan dunia berjalan dalam prinsip keadilan, kejujuran, amanah, kemaslahatan, dan penghormatan terhadap martabat manusia.

Karena itu, keberagamaan yang sehat seharusnya melahirkan kesalehan individual sekaligus kesalehan sosial.

Dalam kaitan ini, masjid melahirkan ketakwaan, sekolah melahirkan kecerdasan, dakwah melahirkan kesadaran, gerakan sosial melahirkan kepedulian, dan keseluruhannya bermuara pada kemaslahatan.

Dalam kerangka inilah organisasi keumatan memiliki posisi strategis dalam kehidupan kebangsaan. Ia bukan negara, tetapi dapat menjadi mitra kritis negara. Ia tidak harus menjadi bagian dari kekuasaan, tetapi dapat memberikan kontribusi kepada kekuasaan agar tetap berada dalam koridor kepentingan rakyat.

Organisasi keumatan idealnya menjadi kekuatan moral yang mampu berkata benar kepada siapa pun, termasuk kepada kekuasaan. Bukan menjadi oposisi permanen, bukan pula menjadi pendukung kekuasaan secara membabi buta, melainkan menjadi kekuatan masyarakat yang kritis, konstruktif, dan independen.

Kemudian, ada satu hal yang perlu direnungkan dalam setiap peringatan organisasi yang berusia panjang. Usia yang panjang tidak otomatis menunjukkan keberhasilan. Usia hanya menunjukkan bahwa sebuah organisasi mampu bertahan.

Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang telah dihasilkan dari usia tersebut? Apakah semakin banyak manusia yang tercerahkan? Apakah pendidikan semakin berkualitas? Apakah kader semakin berintegritas? Apakah masyarakat semakin mandiri? Apakah dakwah semakin mencerdaskan? Apakah organisasi semakin mampu memberikan solusi terhadap persoalan bangsa?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena organisasi yang telah berusia 110 tahun tidak boleh terjebak dalam romantisme sejarah. Sejarah adalah sumber inspirasi, bukan tempat bersembunyi.

Kebesaran para pendiri justru harus menjadi alasan bagi generasi penerus untuk bekerja lebih keras, bukan sekadar mengulang cerita tentang kebesaran masa lalu.

BACA JUGA  Penasihat Khusus Presiden Bidang Polhukam Apresiasi Kiprah Pendidikan Mathla’ul Anwar

Mandat Masa Depan

Tantangan Mathla’ul Anwar hari ini tentu berbeda dengan tantangan ketika organisasi itu didirikan. Dahulu tantangannya adalah keterbelakangan pendidikan, kolonialisme, dan rendahnya akses masyarakat terhadap ilmu pengetahuan.

Kini tantangannya jauh lebih kompleks: disrupsi teknologi, kecerdasan buatan, perubahan pola komunikasi generasi muda, krisis moral, ketimpangan ekonomi, persoalan lingkungan, perubahan geopolitik, kompetisi global dalam bidang sumber daya manusia, dan ada pula tantangan serius berupa banjir informasi yang tidak selalu identik dengan kebenaran.

Karena itu, Mathla’ul Anwar membutuhkan agenda baru tanpa kehilangan akar perjuangannya. Jika dahulu kata kuncinya adalah mencerdaskan umat, maka hari ini harus ditingkatkan menjadi membangun manusia unggul yang beriman, berilmu, berkarakter, produktif, dan mampu bersaing secara global.

Jika dahulu dakwah dilakukan terutama melalui mimbar, masjid, madrasah, dan majelis taklim, maka kini dakwah harus mampu hadir di ruang digital tanpa kehilangan kedalaman substansi.

Jika dahulu gerakan sosial berorientasi pada pelayanan dan bantuan, maka ke depan harus diperkuat menuju pemberdayaan. Umat tidak cukup hanya diberi bantuan. Umat harus diberi kemampuan untuk bangkit.

Dari Charity Menuju Empowerment

Salah satu agenda penting organisasi keumatan ke depan adalah mengubah paradigma pelayanan sosial dari charity menuju empowerment. Masyarakat miskin bukan sekadar objek bantuan. Mereka harus ditempatkan sebagai subjek pembangunan.

Karena itu, organisasi keumatan perlu mengembangkan ekosistem ekonomi umat: pendidikan kewirausahaan, koperasi, pembiayaan syariah, pelatihan keterampilan, pengembangan UMKM, digitalisasi usaha, hingga penguatan jaringan pasar.

Di sinilah pendidikan, dakwah, dan sosial dapat menemukan bentuk baru. Pendidikan memberikan kompetensi. Dakwah memberikan etika. Ekonomi memberikan kemandirian. Sosial memberikan keberpihakan. Keempatnya dapat menjadi sebuah ekosistem pemberdayaan umat.

Kaderisasi: Investasi Terpenting

Namun ada satu agenda yang tidak boleh ditinggalkan, yaitu kaderisasi. Dalam kaitan ini, organisasi yang berusia 110 tahun harus bertanya dengan jujur, siapa yang akan melanjutkan perjuangan 20, 30, atau 50 tahun mendatang?

Kaderisasi tidak boleh hanya dimaknai sebagai perekrutan anggota. Kaderisasi adalah proses membentuk manusia yang memiliki ideologi organisasi, wawasan keislaman, kecakapan profesional, kepemimpinan, integritas, dan komitmen kebangsaan.

Mathla’ul Anwar membutuhkan generasi yang mampu menjadi ulama sekaligus intelektual; pendidik sekaligus profesional; aktivis sosial sekaligus entrepreneur; dan pemimpin yang memiliki kedalaman spiritual sekaligus kemampuan membaca perubahan zaman.

Kader semacam inilah yang akan menentukan apakah usia 110 tahun menjadi akhir sebuah kejayaan masa lalu atau justru awal dari kebangkitan baru.

Organisasi keumatan juga perlu menjaga jarak yang sehat dengan politik kekuasaan. Kader-kader organisasi tentu memiliki hak politik. Mereka boleh menjadi anggota legislatif, eksekutif, birokrat, akademisi, pengusaha, dan berbagai profesi lainnya.

BACA JUGA  Masalah MBG, Anggaran Pendidikan, dan Risiko Salah Pilih Prioritas Pembangunan SDM

Namun, organisasi harus tetap memiliki independensi moral. Ketika terlalu dekat dengan kekuasaan, organisasi berisiko kehilangan daya kritisnya. Sebaliknya, ketika terlalu jauh dari kekuasaan, organisasi dapat kehilangan kesempatan untuk berkontribusi dalam pengambilan kebijakan publik.

Karena itu, posisi yang lebih produktif adalah independen tetapi komunikatif; kritis tetapi konstruktif; dan dekat dengan rakyat sekaligus mampu berdialog dengan kekuasaan. Inilah bentuk kedewasaan organisasi keumatan dalam negara demokrasi.

110 Tahun, dari Menes untuk Indonesia

Mathla’ul Anwar itu sendiri bermula dari Menes. Dari sebuah wilayah di Banten, para ulama menyalakan cahaya pendidikan dan dakwah. Cahaya itu kemudian bergerak melampaui batas geografis Banten.

Setelah 110 tahun, pertanyaan yang harus diajukan bukan lagi apakah Mathla’ul Anwar memiliki sejarah. Sejarah itu sudah ada. Pertanyaan kita adalah: apa yang akan dilakukan Mathla’ul Anwar dengan sejarah tersebut?

Apakah sejarah akan menjadi museum kebanggaan? Ataukah sejarah akan menjadi energi untuk melahirkan lompatan baru? Pilihan kedua adalah mandat zaman, sebab organisasi yang lahir dari perjuangan para ulama tidak boleh hanya menjadi pewaris nama. Ia harus menjadi pewaris cita-cita.

Cita-cita itu adalah mencerdaskan umat, membangun akhlak, memperkuat kemandirian masyarakat, menjaga persatuan bangsa, dan menghadirkan kemaslahatan.

Maka, 110 tahun Mathla’ul Anwar seharusnya menjadi momentum untuk memperbarui tekad: dari pendidikan menuju keunggulan, dari dakwah menuju pencerahan, dari pelayanan menuju pemberdayaan, dan dari sejarah menuju masa depan.

Indonesia hari ini membutuhkan organisasi keumatan yang tidak sekadar hadir dalam hiruk-pikuk sosial dan politik, tetapi mampu menjadi kekuatan moral, intelektual, dan sosial yang memberikan arah.

Di tengah dunia yang berubah cepat, bangsa ini membutuhkan lebih banyak institusi yang mampu mempertemukan iman dan ilmu, moralitas dan profesionalitas, keislaman dan kebangsaan. Mathla’ul Anwar memiliki modal sejarah untuk mengambil peran itu.

Seratus sepuluh tahun adalah bukti bahwa cahaya itu pernah dinyalakan. Kini tugas generasi penerus adalah memastikan cahaya tersebut tidak hanya tetap menyala, tetapi semakin terang, menerangi umat, mencerdaskan bangsa, memperkuat Indonesia, dan memberikan manfaat bagi kemanusiaan.

Sebab, pada akhirnya, umur panjang sebuah organisasi bukanlah ukuran utama kebesarannya. Ukuran yang lebih hakiki adalah seberapa besar kemaslahatan yang mampu diwariskannya kepada generasi yang akan datang.

*Zaenal Abidin Syuja’i adalah Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Mathla’ul Anwar (PBMA) Bidang Pendidikan.