Dua Buku Lahir dari Tanah Rantau, Nikmat Harahap Mengubah Perjuangan Menjadi Karya

Dua Buku Lahir dari Tanah Rantau, Nikmat Harahap Mengubah Perjuangan Menjadi Karya
Nikmat Harahap (Foto: Dok. Pribadi)

“Tanah rantau bukan alasan untuk meninggalkan cita-cita. Justru di sanalah perjuangan diuji dan mimpi dibuktikan.”

JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID – Merantau dari Medan, Sumatera Utara, ke Jakarta tidak membuat Nikmat Harahap meninggalkan cita-citanya sebagai penulis. Di tengah perjuangan memenuhi kebutuhan hidup jauh dari keluarga, pemuda kelahiran 28 April 2003 itu tetap menulis hingga menerbitkan dua buku.

Dalam keterangan tertulis yang diterima Sudutpandang.id, Selasa (25/8/2026), perjalanan Nikmat Harahap sebagai penulis disebut bermula dari kegemarannya menulis sejak duduk di bangku sekolah.

Bagi Nikmat, tanah rantau bukan hanya tempat mencari penghidupan. Rantau menjadi ruang untuk menguji ketahanan diri, menghadapi kerinduan kepada keluarga, sekaligus memperjuangkan cita-cita dalam keterbatasan.

Kini, dua buku telah lahir dari perjalanan tersebut. Buku pertama berjudul “Dunia Emang Sejahat Ini” yang terbit pada 20 Maret 2025. Setahun kemudian, tepat pada 28 April 2026, ia menerbitkan buku kedua berjudul “Doa Ibu yang Udah Tiada”.

Kedua buku tersebut mengangkat tema yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari pengalaman hidup, pergulatan diri, keluarga, kehilangan, hingga sisi emosional manusia.

BACA JUGA  SMK Wikrama Bogor Hadirkan Inovasi TI-kuliner Explore SMK Jabar di Kertajati

Di dunia kepenulisan, Nikmat menggunakan nama “Nikmat HRP”. Ia juga aktif sebagai kreator konten dengan membagikan tulisan dan karyanya melalui media sosial.

Aktivitas tersebut menjadi bagian dari upayanya memperkenalkan karya sekaligus membangun identitas sebagai penulis muda. Media sosial dimanfaatkannya sebagai ruang untuk menjangkau pembaca yang lebih luas.

Menulis Sejak Sekolah

Ketertarikan Nikmat terhadap dunia tulis-menulis telah tumbuh sejak duduk di bangku sekolah. Ia merupakan alumni Al-Mukhtaryah Sungai Dua, Kabupaten Padang Lawas Utara, yang lulus pada 23 Juni 2023.

Sejak itu, ia terus belajar merangkai gagasan dan menuangkannya dalam tulisan. Keberanian untuk memperkenalkan karya kepada orang lain dibangun secara bertahap, salah satunya melalui media sosial.

Bagi Nikmat, menjadi penulis bukan sekadar memiliki buku dengan namanya tercetak di sampul. Menulis merupakan cita-cita yang ingin diwujudkannya sekaligus cara untuk membuat kedua orang tuanya bangga.

Ia juga berharap karya-karyanya dapat dikenal lebih luas dan memberikan manfaat bagi pembaca.

Namun, perjalanan tersebut harus dijalani bersamaan dengan kehidupan sebagai anak rantau. Jauh dari keluarga membuat berbagai kebutuhan harus dipenuhi secara mandiri, sementara kerinduan kepada keluarga menjadi bagian dari kesehariannya.

BACA JUGA  Ilmuwan Perempuan Asal Madura Raih Penghargaan di Jerman

Kondisi tersebut tidak membuat Nikmat menghentikan langkah. Ia justru berusaha menjalankan dua hal sekaligus, yakni mencari penghidupan dan mempertahankan cita-cita sebagai penulis.

Terbitnya dua buku menjadi salah satu capaian dari perjalanan tersebut. Bagi Nikmat, kedua karya itu bukan akhir, melainkan awal untuk terus mengembangkan dunia kepenulisannya.

Mengembangkan Karya di Ruang Digital

Perjalanan Nikmat juga berlangsung seiring dengan berkembangnya ruang digital. Media sosial dimanfaatkannya untuk memperkenalkan karya sekaligus membangun komunikasi dengan audiens.

Aktivitas sebagai penulis dan kreator konten kemudian berjalan beriringan. Buku menjadi bagian dari karya yang dibangun, sedangkan media sosial digunakan untuk memperluas jangkauan.

Tema yang diangkat dalam kedua bukunya juga dekat dengan persoalan kehidupan. “Doa Ibu yang Udah Tiada”, misalnya, mengangkat tema tentang ibu, kehilangan, dan doa. Sementara “Dunia Emang Sejahat Ini” menggambarkan kegelisahan ketika menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

Melalui karya-karyanya, Nikmat memilih tema yang dekat dengan pengalaman dan emosi pembaca, khususnya generasi muda.

Perjalanan tersebut juga menjadi cara Nikmat menyampaikan pesan kepada sesama anak rantau bahwa keterbatasan tidak harus menjadi alasan untuk meninggalkan cita-cita.

BACA JUGA  Sudin Perpustakaan Jaksel Dorong Anak Ikut Tantangan 30 Hari Baca Buku

Ia meyakini kerja keras, keberanian untuk mencoba, serta doa dan restu orang tua merupakan bagian penting dalam menjalani proses.

Nikmat kini masih berada pada tahap awal perjalanan sebagai penulis. Dua buku yang telah diterbitkannya menjadi pijakan untuk terus berkarya dan mengembangkan kemampuan menulis.

Dari Medan, kemudian merantau ke Jakarta, menekuni dunia kepenulisan, aktif sebagai kreator konten, hingga menerbitkan dua buku, Nikmat Harahap terus membangun perjalanan kreatifnya melalui tulisan.(red)