JOMBANG-JATIM, SUDUTPANDANG.ID – Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Dr Ir H Haikal Hassan Baras, ST, MT, yang akrab disapa “Babe Haikal” menyatakan bahwa pengertian industri halal bukan hanya sekadar terkait makanan dan minuman.
“Contohnya, misalnya terkait dengan kulit, tas-tas terkenal seperti Hermes (Prancis) dan Gucci (Italia) adalah dua merek tas mewah paling terkenal di dunia dengan ciri khas dan sejarahnya masing-masing. Itu, masuk dalam ranah yang bisa terkait dengan industri halal,” katanya pada “Halaqoh Pendidikan Tinggi NU: Peran Alumni & PCINU Internasional Dalam Peningkatan Kualitas Pendidikan Tinggi & Pengembangan Ekosistem Industri Halal di Indonesia’,” di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Muhajirin III, Bahrul Ulum, Tambak Beras, Jombang, Jawa Timur, Jumat (28/8/2026).
Ia memberi contoh apakah kulit untuk bahan tas tersebut bisa ditelusuri, terbuat dari bahan-bahan yang halal atau tidak.
Pun, dengan produk kosmetik, farmasi dan obat-obatan, juga merupakan ekosistem industri halal.
Pada rangkaian kegiatan yang pararel dengan Muktamar ke-35 NU yang berlangsung di Pondok Pesantren Tambakberas, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, pada 27-31 Agustus 2026, ia sempat menyentil Rektor Universitas Indonesia (UI) Prof Dr Ir Heri Hermansyah, ST, M.Eng, IPU yang hadir, bahwa dirinya mengajar industri halal pada universitas-universitas di Korea Selatan (Korsel).
Namun, kampus-kampus di Indonesia, justru muatan kurikulum terkait industri halal dalam arti luas itu, malah belum ada.
“Maka, Pak Rektor UI, mohon UI memelopori adanya muatan kajian mengenai industri dan ekosistem halal di Indonesia ini,” katanya.
Bahkan, ia juga menambahkan kiranya para santri di pondok-pondok pesantren, khususnya di pesantren milik Nahdlatul Ulama (NU) bisa diakomodasi untuk studi di UI dengan muatan industri halal itu.

MoU UI-PT NU
Dalam acara itu, juga dilakukan penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) antara UI dengan lima perguruan tinggi (PT) NU dan pesantren.
Sekurangnya, ada lima PT NU, yakni Universitas KH A Wahab Hasbullah (UNWAHA), Jombang, Universitas Nurul Jadid, Probolinggo, Sekolah Tinggi Khuliyatul Qur’an Al-Hikam Depok, Universitas KH. Abdul Chalim Mojokerto, dan STAINU Assalafie Babakan Cirebon.
Penandatanganan MoU dilakukan antara Rektor UI, Prof Dr Ir Heri Hermansyah, S.T., M.Eng., IPU, jajaran UI, serta Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Kerja sama ini menjadi momentum penting bagi perguruan tinggi NU untuk memperluas jejaring akademik. Lebih dari itu, kolaborasi tersebut diharapkan memberi ruang bagi mahasiswa dan dosen untuk memperoleh pengalaman, pengetahuan, serta akses yang lebih luas terhadap perkembangan dunia pendidikan tinggi.
Selain itu, di balik kerja sama ini tersimpan harapan besar, yakn membuka jalan lebih luas bagi talenta-talenta muda dari kampus NU untuk berkembang dan menembus jejaring akademik nasional.
Rektor UI Heri Hermansyah menyatakan persaingan untuk masuk PT saat ini semakin ketat.
“Sekarang kurang lebih ada sekitar 30 ribu lulusan sekolah menengah, namun hanya sekitar 5 ribu yang masuk perguruan tinggi. Ini menunjukkan betapa sengitnya persaingan untuk masuk universitas,” katanya.
Ia menyebut gmbaran tersebut menunjukkan bahwa akses dan kualitas pendidikan tinggi menjadi tantangan yang harus dijawab bersama.
Dikemukakannya bahwa slama ini, banyak PT NU tumbuh dari tradisi pesantren. Di dalamnya terdapat potensi besar generasi muda yang tidak hanya mendapatkan pendidikan akademik, tetapi juga ditempa dengan nilai-nilai keislaman dan kepesantrenan.
“Potensi itulah yang diharapkan semakin menemukan ruang melalui kolaborasi dengan UI,” katanya.
Ia menambahkan mahasiswa dari kampus-kampus NU diharapkan tidak lagi melihat perguruan tinggi besar seperti UI sebagai dunia yang jauh. Melalui jejaring kerja sama, mereka memiliki kesempatan untuk bertemu, belajar, berdiskusi, melakukan penelitian, hingga membangun jaringan bersama akademisi dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi.
Bagi kampus NU, kerja sama ini bukan semata soal gengsi menggandeng perguruan tinggi ternama. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana MoU tersebut diterjemahkan menjadi program nyata yang menyentuh mahasiswa dan dosen.
Sebab, ukuran keberhasilan sebuah kerja sama bukan hanya terletak pada dokumen yang ditandatangani, tetapi pada lahirnya kesempatan-kesempatan baru bagi generasi muda.
Dari kampus-kampus yang tumbuh dari rahim pesantren, talenta-talenta muda NU diharapkan semakin berani melangkah lebih jauh. Mereka tidak hanya menjadi penonton dalam perkembangan pendidikan tinggi nasional, tetapi ikut mengambil bagian di dalamnya.
Kerja sama dengan UI menjadi salah satu pintu untuk mewujudkan harapan tersebut. Mempertemukan tradisi keilmuan pesantren dengan kekuatan akademik, riset, dan jejaring perguruan tinggi nasional. Pada akhirnya, yang ingin dibuka bukan hanya pintu kampus, tetapi pintu masa depan bagi generasi muda NU, demikian Heri Hermansyah.
Sementara itu, Sekretaris Panitian Halaqoh, Dr Ir Ifan Haryanto menjelaskan sinergi dengan UI itu diharapkan akan mampu meningkatkan kualitas pendidikan PT NU di masa depan.
“Usai MoU, diharapkan akan ada kerja sama yang lebih konkret dalam bentuk program yang dapat diwujudkan,” kata alumni PCI NU Inggris Raya itu. (Red/02)











