BOGOR-JABAR, SUDUTPANDANG.ID – Menjelang perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, pada 17 Agustus 2026, lembaga konservasi “ex-situ” (di luar habitat alami) Taman Safari Indonesia (TSI) Bogor, Jawa Barat, mencatat lagi keberhasilan konservasi elang jawa (Nisaetus bartelsi) melalui penetasan anakan dari pasangan Hanum dan Riska.
“(Diberi nama Garuda oleh Pak Jansen Manansang, M.Sc, salah satu pendiri TSI), anakan elang jawa ini menetas pada 16 Juni 2026. Keberhasilan ini menjadi istimewa karena untuk pertama kalinya, dari sembilan keberhasilan reproduksi pasangan Hanum dan Riska, anakan dapat dirawat sepenuhnya oleh induknya secara alami (parent-reared) tanpa bantuan perawatan langsung dari keeper melalui metode hand-raise,” kata kurator satwa senior TSI, Cisarua, Kabupaten Bogor, Imam Purwadi dalam taklimat media yang dikirimkan kepada sudutpandang.id di Bogor, Sabtu (15/8/2026).
Ia menjelaskan penetasan ini menjadi salah satu kabar penting dalam perjalanan konservasi elang jwa di TSI.
“Bukan hanya karena bertambahnya satu individu baru, tetapi karena anakan memiliki kesempatan untuk tumbuh melalui proses pengasuhan alami bersama induknya,” katanya.
Pasangan Hanum dan Riska inii, sebelumnya telah berhasil menghasilkan delapan ekor anakan. Pada keberhasilan sebelumnya, keeper memberikan bantuan perawatan melalui metode hand-raise sebagai bagian dari upaya memastikan keselamatan dan keberlangsungan hidup anakan.
Namun, pada reproduksi yang kesembilan, kondisi indukan memungkinkan proses pengasuhan berlangsung secara penuh oleh induk.
“Keeper tetap melakukan pemantauan secara intensif, tetapi dengan prinsip minim intervensi,” katanya.
Pemantauan, kata dia, difokuskan pada kondisi fisik dan perkembangan anakan, aktivitas serta perilakunya, pola pengasuhan induk, kesehatan indukan, dan kondisi lingkungan di sekitar area perkembangbiakan.
Pendekatan ini memberikan ruang bagi induk untuk menjalankan perilaku pengasuhan secara alami, sekaligus memastikan kondisi anakan dan indukan tetap terpantau dengan baik.
“Bagi kami, ini menunjukkan perkembangan positif dalam program pengembangbiakan karena kami tidak hanya mengejar keberhasilan penetasan, tetapi juga berupaya memberikan kesempatan kepada satwa untuk menjalankan proses pengasuhan secara alami,” katanya.
Menjaga Keanekaragaman Hayati
Dikemukakannya bahwa elang jawa merupakan salah satu satwa endemik Indonesia yang memiliki nilai penting bagi ekosistem sekaligus menjadi bagian dari identitas keanekaragaman hayati Indonesia.
Upaya konservasi eang jawa, kata dia, tidak berhenti pada keberhasilan reproduksi. TSI terus mengembangkan pengelolaan konservasi ex-situ yang mencakup reproduksi terkontrol, kesejahteraan satwa, edukasi, penelitian, serta peningkatan kapasitas pengelolaan satwa liar.
Ia menjelaskan bahwasetiap penetasan menjadi bagian dari proses jangka panjang untuk membangun populasi satwa yang sehat, berkelanjutan, dan tetap mampu menunjukkan perilaku alaminya.
“Di momen HUT Kemerdekaan ini, penetasan elang jawa menjadi pengingat bahwa menjaga keanekaragaman hayati Indonesia juga merupakan bagian dari menjaga warisan bangsa,” katanya.
Ditegaskannya bahwa momentum penetasan elang jawa ini menjadi semakin bermakna di tengah peringatan HUT Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Spesies ini adalah salah satu satwa endemik Indonesia yang memiliki kedekatan kuat dengan identitas nasional.
Karakteristik elang jawa kerap dikaitkan dengan sosok burung Garuda yang menjadi lambang negara Indonesia, Garuda Pancasila.
Karena itu, katanya, menjaga elang jawa bukan hanya tentang mempertahankan keberadaan satu spesies, tetapi juga tentang menjaga bagian dari kekayaan alam yang melekat dengan identitas Indonesia.
“Bagi Taman Safari Indonesia, konservasi bukan sekadar tentang menjaga satwa tetap hidup, tetapi juga memastikan generasi berikutnya memiliki kesempatan untuk mengenal, memahami, dan mencintai kekayaan alam Indonesia,” demikian Imam Purwadi.(Red/02)










