Gaza Terima Bantuan 1.000 Ton Tepung Terigu, Krisis Pangan Masih Mengancam

Gaza Terima Bantuan 1.000 Ton Tepung Terigu, Krisis Pangan Masih Mengancam
Warga di Jalur Gaza, Palestina, menerima bantuan kemanusiaan berupa 1.000 ton tepung terigu pada Ahad, (25/10/2026). (Foto: Dok. Al Jazeera)

SUDUTPANDANG.ID – Warga Jalur Gaza, Palestina, menerima bantuan kemanusiaan berupa 1.000 ton tepung terigu pada Ahad, (25/10/2026). Meski pasokan tersebut diharapkan membantu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat, ancaman krisis pangan masih membayangi wilayah itu akibat terbatasnya distribusi bantuan dan kerusakan infrastruktur.

Pengiriman tambahan sebanyak 1.000 ton tepung terigu dijadwalkan tiba pada Senin (26/10/2026) untuk mendukung keberlangsungan produksi roti bagi warga Gaza.

Ketua Asosiasi Pembuat Roti Jalur Gaza, Abdel Nasser al-Ajrami, mengatakan, seluruh bantuan tersebut akan disalurkan langsung kepada toko roti melalui dukungan Program Pangan Dunia (WFP).

“Seluruh pasokan akan dialokasikan ke toko-toko roti dengan dukungan dari Program Pangan Dunia (WFP), dan tepung ini tidak akan dijual di pasaran,” kata Al-Ajrami kepada RIA Novosti, sebagaimana dilaporkan Sputnik.

Menurut dia, pendistribusian bantuan melalui toko roti bertujuan menjaga ketersediaan makanan pokok bagi masyarakat yang masih menghadapi kesulitan memperoleh bahan pangan.

BACA JUGA  Warganet Indonesia Gaungkan INA Stands With Palestine

Namun, pasokan tepung yang masuk setiap hari dilaporkan hanya mampu memenuhi kebutuhan operasional toko roti selama satu hari.

Kondisi tersebut membuat keberlanjutan pengiriman bantuan menjadi penting agar produksi roti tidak kembali terhenti akibat kekurangan bahan baku.

Distribusi Bantuan Masih Terkendala

Krisis pangan di Gaza belum sepenuhnya teratasi karena pembatasan operasional di sejumlah pos pemeriksaan perbatasan yang memengaruhi masuknya bantuan kemanusiaan dan kebutuhan pokok.

Hambatan distribusi tersebut memperburuk kondisi masyarakat, terutama warga yang bergantung pada bantuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Selain keterbatasan pasokan, kerusakan fasilitas produksi pangan juga menjadi persoalan dalam upaya memulihkan ketersediaan makanan di wilayah tersebut.

Al-Ajrami mengatakan, pengoperasian kembali fasilitas penggilingan gandum diperlukan agar toko roti yang sebelumnya berhenti berproduksi dapat kembali melayani masyarakat.

“Untuk mengatasi krisis dan kembali mengoperasikan toko-toko roti yang telah tutup di wilayah tersebut, sebuah pabrik penggilingan gandum harus dihidupkan kembali,” ujarnya.

BACA JUGA  Ditangkap KPK, Bupati Penajam Paser Utara Miliki Harta Rp36 Miliar

Pemulihan fasilitas tersebut dinilai dapat membantu memperkuat rantai pasok pangan dan mengurangi ketergantungan terhadap pengiriman tepung dari luar Gaza.

Kondisi Kemanusiaan Belum Pulih

Di tengah upaya penyaluran bantuan, masyarakat Gaza masih menghadapi dampak kerusakan infrastruktur akibat konflik berkepanjangan.

Gangguan terhadap layanan kesehatan, fasilitas umum, dan jalur distribusi barang turut menghambat pemulihan kehidupan warga.

Situasi keamanan juga dilaporkan belum sepenuhnya stabil meskipun gencatan senjata telah diberlakukan sejak Oktober 2025.

Militer Israel dilaporkan masih melancarkan serangan dengan alasan menargetkan fasilitas dan anggota kelompok Hamas.

Kondisi tersebut menambah tantangan bagi upaya pemulihan layanan dasar dan penyaluran bantuan kemanusiaan.

Dengan kebutuhan pangan yang masih tinggi, keberlanjutan pasokan tepung terigu serta pemulihan fasilitas produksi menjadi langkah penting untuk menjaga ketersediaan roti bagi masyarakat Gaza.

Berdasarkan laporan Al Jazeera, bantuan ini tiba di momen yang sangat kritis karena wilayah Gaza sedang menghadapi krisis kelaparan hebat dan penutupan massal toko roti.

BACA JUGA  Kediri Geger! Uang Mendadak Hilang, Warga Kaitkan dengan Tuyul

Kelangkaan bahan baku dipicu oleh pemotongan bantuan pangan oleh WFP akibat keterbatasan dana, serta pembatasan ketat terhadap impor bahan bakar dan tepung oleh Israel.

Kondisi ini menyebabkan harga gandum melonjak drastis hingga 65 persen di pasar gelap dan memaksa warga mengantre berjam-jam demi mendapatkan roti.(Red/02) Sumber: Sputnik