JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menyatakan bahwa Pindapata dalam rangkaian perayaan Waisak bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan pelajaran tentang kehidupan, kepedulian, dan semangat berbagi antarsesama. Pandangan itu disampaikan saat menghadiri Gema Waisak Pindapata Nasional 2570 Buddhis Era Tahun 2026 di Kemayoran, Jakarta Pusat, Minggu (10/5/2026).
Kegiatan yang diselenggarakan Sangha Theravada Indonesia tersebut diikuti sekitar 75 bhikkhu anggota Sangha Theravada Indonesia dan sekitar 10.000 umat Buddha dari berbagai daerah. Acara mengusung tema “Menapaki Jalan Mulia Bersumbangsih bagi Negeri”.
“Hari ini, kita tidak hanya menyaksikan sebuah tradisi keagamaan. Kita sedang menyaksikan pelajaran tentang kehidupan,” ujar Nasaruddin.
Menurutnya, di tengah kehidupan modern yang serba cepat, tradisi pindapata menghadirkan keteduhan sekaligus mengingatkan pentingnya nilai memberi dan melepaskan.
Ia menuturkan, prosesi para bhikkhu berjalan dalam keheningan bukan sekadar menerima dana makanan dari umat, melainkan simbol perjumpaan batin antara yang memberi dan menerima.
“Dalam kesederhanaan para bhikkhu, kita belajar bahwa manusia tidak selalu dibesarkan oleh apa yang dimilikinya, tetapi oleh apa yang mampu ia lepaskan,” katanya.
Nasaruddin juga menyinggung pentingnya menghadirkan nilai cinta kasih dalam kehidupan sosial dan beragama. Menurutnya, agama harus mampu membawa keteduhan, kesejukan, dan semangat melayani di tengah masyarakat.
“Semoga Gema Waisak Pindapata Nasional 2026 tidak hanya menjadi sebuah perayaan, tetapi juga menjadi pengingat bahwa bangsa ini membutuhkan lebih banyak hati yang lembut, lebih banyak welas asih, dan lebih banyak kebijaksanaan,” ujarnya.
Perkuat Nilai Sosial dan Harmoni
Ketua Panitia Pindapata Nasional 2026/257 BE, Daniel Johan, mengatakan, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi bagian dari praktik spiritual umat Buddha, tetapi juga memiliki nilai sosial bagi masyarakat luas.
Menurut Daniel, dana makanan dan berbagai persembahan umat kepada para bhikkhu nantinya juga akan didedikasikan untuk masyarakat yang membutuhkan.
“Kami berharap kegiatan pindapata yang menjadi tradisi kemurahan hati, tradisi pengabdian, dan tradisi keyakinan ini juga bisa bermanfaat secara sosial,” kata Anggota Komisi IV DPR RI itu.
Ia menilai pelaksanaan Pindapata Nasional di Jakarta mencerminkan kehidupan masyarakat yang plural dan harmonis. Menurut dia, kegiatan tersebut tidak hanya dihadiri umat Buddha, tetapi juga disaksikan masyarakat lintas agama.
“Ini menjadi kekuatan Indonesia, khususnya Jakarta, di tengah keberagaman yang ada,” ujar Daniel.
Sementara itu, Ketua Umum Sangha Theravada Indonesia, Y,M Bhikkhu Subhapanno Mahathera, mengatakan, pindapata merupakan tradisi luhur Buddhis yang telah berlangsung sejak masa Buddha Gotama dan terus diwariskan sebagai praktik kebajikan.
“Pindapata adalah salah satu bentuk dana. Bila dana dilaksanakan dengan baik maka kemoralan akan lebih sempurna. Keteguhan batin dan kebijaksanaan juga akan berkembang,” ujar Bhikkhu Subhapanno Mahathera.
Ketua Umum Dharmapala Nusantara, Kevin Wu, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut mengapresiasi kehadiran Menag Nasaruddin Umar dalam Pindapata Nasional 2026.
“Kehadiran Menteri Agama Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar untuk kedua kalinya mencerminkan dukungan pemerintah terhadap kehidupan beragama serta penguatan nilai toleransi dan kebersamaan di tengah masyarakat,” ujar Kevin Wu yang juga Anggota Komisi A DPRD DKI Jakarta.
Diisi Kegiatan Sosial dan Kemanusiaan

Selain prosesi pindapata, rangkaian Gema Waisak Nasional 2026 juga diisi berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan, seperti donor darah, pemeriksaan kesehatan gratis, bantuan sosial, dan penyebaran eco enzyme sebagai bagian dari program ekoteologi.
Kegiatan berlangsung tertib dan khidmat. Ribuan umat Buddha tampak antusias mengikuti prosesi berdana kepada para bhikkhu di sepanjang Jalan Benyamin Sueb Kemayoran.
Tampak hadir dalam kegiatan tersebut jajaran Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat (Ditjen Bimas) Buddha Kementerian Agama, anggota DPRD DKI Jakarta, Pemprov DKI Jakarta, para tokoh organisasi keagamaan Buddha, serta sejumlah organisasi umat Buddha, antara lain Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia, Wanita Theravada Indonesia, dan Pemuda Theravada Indonesia.(red)










