Transformasi Pendidikan Digital Jadi Perhatian, Komdigi dan DPR RI Tekankan SDM hingga Keamanan Siber

Avatar photo
Transformasi Pendidikan Digital Jadi Perhatian, Komdigi dan DPR RI Tekankan SDM hingga Keamanan Siber
Diskusi publik bertema “Transformasi Pendidikan di Era Digital” yang diselenggarakan Kementerian Komdigi) bersama DPR RI, Kamis (7/5/2026).(Foto; Dok. Komdigi)

JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID – Transformasi pendidikan di era digital menjadi perhatian pemerintah dan legislatif di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Penguatan sumber daya manusia (SDM), literasi digital, hingga keamanan siber dinilai menjadi aspek penting dalam pengembangan sistem pendidikan nasional.

Hal tersebut mengemuka dalam diskusi publik bertema “Transformasi Pendidikan di Era Digital” yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) bersama DPR RI, Kamis (7/5/2026).

Anggota Komisi I DPR RI, Mahfudz Abdurrahman, mengatakan, pemerintah terus memperkuat sektor pendidikan melalui peningkatan anggaran pendidikan nasional.

“Pendidikan merupakan hak dasar warga negara sebagaimana amanat Pasal 31 UUD 1945. Karena itu pemerintah wajib memastikan pembiayaan pendidikan terus diperkuat,” ujar Mahfudz dalam keterangan tertulis yang diterima Minggu (10/5/2026).

Ia menyebut proyeksi anggaran pendidikan tahun 2026 mencapai Rp 757,8 triliun untuk mendukung visi pembangunan nasional Asta Cita 2024-2029.

BACA JUGA  Wakil Bupati Asahan Hadiri Seminar Pendidikan

Menurut Mahfudz, anggaran tersebut akan difokuskan pada peningkatan kesejahteraan guru, program beasiswa seperti Program Indonesia Pintar (PIP), KIP Kuliah, dan LPDP, hingga rehabilitasi fasilitas pendidikan.

“Pemerintah juga menghadirkan program Makan Bergizi Gratis untuk menunjang kualitas belajar siswa,” katanya.

Pembelajaran Digital

Dalam forum tersebut, pakar keamanan siber Alfons Tanujaya menilai pola pendidikan saat ini mengalami perubahan dari sistem pembelajaran pasif menuju pembelajaran digital yang lebih adaptif.

“AI ke depan bisa menjadi tutor personal bagi siswa. Tetapi kesiapan SDM, terutama guru, juga harus ditingkatkan,” ujar Alfons.

Ia mengatakan penetrasi internet di Indonesia telah mencapai 79,5 persen. Namun, kemampuan literasi digital tenaga pendidik dinilai masih perlu diperkuat.

“Literasi digital guru saat ini masih berada di skor 3,49 dari 5. Ini menjadi tantangan serius dalam transformasi pendidikan digital,” katanya.

BACA JUGA  Empat Pelajar Indonesia Raih Medali di Olimpiade Kecerdasan Buatan IOAI 2025

Selain literasi digital, Alfons juga menyoroti ancaman keamanan siber di sektor pendidikan, termasuk serangan ransomware dan kebocoran data pribadi.

“Sekolah dan institusi pendidikan harus mulai serius membangun sistem perlindungan data dan keamanan digital,” ujarnya.

Ia menambahkan pemerataan akses internet di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) masih menjadi tantangan dalam percepatan transformasi pendidikan digital.

Penguatan Karakter

Sementara itu, praktisi pendidikan Hammad mengatakan transformasi pendidikan tidak hanya berkaitan dengan pemanfaatan teknologi, tetapi juga penguatan karakter dan kualitas tenaga pendidik.

“Guru saat ini tidak hanya mengajar, tetapi harus menjadi moderator kebenaran di tengah derasnya arus informasi media sosial,” katanya.

Ia juga menyoroti pentingnya pemerataan mutu pendidikan melalui program Sekolah Rakyat serta target wajib belajar 13 tahun yang mencakup integrasi pendidikan anak usia dini (PAUD) ke dalam pendidikan dasar pada 2029.

BACA JUGA  Polemik Video Amien Rais: Komdigi Ambil Tindakan, Hendropriyono dan Pigai Buka Suara

Diskusi publik tersebut menjadi forum kolaborasi antara pemerintah, legislatif, akademisi, dan praktisi pendidikan dalam membahas arah pengembangan pendidikan nasional yang dinilai lebih inklusif dan adaptif di era digital.(PR/01)