“Selamat jalan, Wina. Kita sahabat selamanya.”
Catatan Hendry Ch Bangun
Terakhir saya bertemu Wina Armada pada 13 Juni 2025 lalu di Gedung Dewan Pers, sehabis salat Jumat. Ceritanya, saya sebagai Ketua Umum PWI Pusat, bersama Zulmansyah (Ketua PWI KLB) dan Wina Armada sebagai Sekjen PWI KLB, berjumpa dengan Ketua Dewan Pers Prof. Komaruddin Hidayat, Wakil Ketua Totok Suryanto, serta anggota Dahlan Dahi dan Yogi Hadi Ismanto.
Agenda utama saat itu adalah menandatangani naskah kesepakatan berisi Steering Committee (SC) dan Organizing Committee (OC) pelaksanaan Kongres Persatuan PWI.
Saat bertemu di lantai 7, di ruang pertemuan, dia mendatangi saya.
“Kapan nih, Ndri, kita ngopi-ngopi, katanya.”
“Atur saja, saya sih ikut saja,” begitu balasan saya. Kami lalu bersalaman, berpelukan, dan berciuman pipi kiri dan kanan.
Saya dan Wina berteman sejak lama, katakanlah sejak sama-sama terjun di pers kampus. Saya angkatan 1977 di FSUI, dia angkatan 1978 di FHUI, kampus UI Rawamangun. Dia waktu itu aktif di SKK Salemba, yang dipimpin Antoni Zeidra Abidin. Saya sendiri di media internal SMFSUI Corat Coret dan majalah Tifa Sastra yang diterbitkan teman-teman Fakultas Sastra.
Wina sudah menulis di media umum, termasuk Horison, saya menulis sejak 1978 di Sinar Harapan, Suara Karya, Angkatan Bersenjata. Kami saling kenal dan saling menghargai.
Belakangan, dia masuk ke Prioritas, saya ke Kompas. Banyak sekali kiprah Wina, termasuk ketika dia menjadi salah satu yang aktif dalam proses terbentuknya Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999 yang monumental itu. Dia terkenal sebagai ahli hukum pers, dan saat menjadi Ketua Komisi Hukum di Dewan Pers, Wina adalah pelopor terbitnya Peraturan Dewan Pers tentang Standar Kompetensi Wartawan, menyusul terbitnya Piagam Palembang pada Hari Pers Nasional tahun 2010.
Baru belakangan, urusan Uji Kompetensi Wartawan ditangani Komisi Pendidikan.
Wina juga aktif di Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Karena ketertarikannya, dia aktif di Seksi Budaya dan Film, dan saya di Seksi Wartawan Olahraga, di lingkungan PWI Jakarta Raya. Dia menjadi Sekretaris Jenderal PWI Pusat di periode kedua Ketua Umum Tarman Azzam, yakni 2003 – 2008, menggantikan Bambang Sadono.
Saya menjadi Sekjen PWI Pusat tahun 2008 – 2013, dan 2013 – 2018, dengan Ketua Umum Margiono. Belakangan saya terpilih sebagai Ketua Umum PWI Pusat periode 2023–2028, dan Wina Armada menjadi Sekretaris Dewan Penasehat.
Ketika terjadi “badai’ di PWI Pusat, saya dan Wina berseberangan karena dia bergabung dengan Ilham Bintang, Sasongko Tedjo, Zulmansyah, dan lain-lain yang agak mengherankan saya.
Sebab, dia sebelumnya berusaha menjadi mediator perselisihan saya selaku Ketua Umum PWI dan Sasongko Tedjo selaku Ketua Dewan Kehormatan. Dia mengundang kami makan malam di sebuah restoran Jepang di Pondok Indah Mall 3, padahal sebenarnya saya kecapaian karena ada acara di Mojokerto. Jadi, dari Bandara Soekarno-Hatta saya mengarungi kemacetan hampir dua jam, agar tidak mengecewakan Wina. Pertemuan sendiri tidak membuahkan hasil sesuai harapan.
Saya kembali terhenyak ketika Wina malah menerima jabatan Sekjen, sesuatu yang sebenarnya sudah kurang cocok untuk orang seusia dia. Mungkin dia ada pertimbangan, jadi saya anggap itu hak pribadinya.
Pertemanan selama lebih dari 40 tahun membuat saya tidak bisa marah atau membenci Wina Armada, seberapa besar pun perbedaan kami. Beda boleh, persahabatan terus berjalan. Apalagi kami sama-sama bergerak di pers kampus di masa-masa perlawanan terhadap pemerintahan otoriter Orde Baru.
Menjadi wartawan di media mainstream yang jelas filosofinya. Wartawan kan intelektual biasa berbeda pandangan, dan biasa hidup dalam keberagaman pandangan. Hidup di dunia kan tidak sempurna, jadi normal saja ada perbedaan pendapat.
Ketika bertemu di acara berbuka puasa yang digagas PT Astra International di Hotel Fairmont, Senayan, 10 Maret 2025, dia malah mendatangi meja saya dan bersalaman dengan hangat. Dia bilang waktu itu,
“Ndri, kapan-kapan kita ngopi ya. Ngobrol saja. Jangan ngomongin PWI.”
Saya menjawab, “Oke, siap. Aturlah waktunya.”
Waktu bertemu di lobi, dia mengingatkan lagi, dan saya mengacungkan jempol.
Seperti ketika kami bertemu di Gedung Dewan Pers tanggal 13 Juni itu, ngopi itu tidak pernah terjadi. Tapi saya masih merasakan hangat pelukan Wina Armada, dan cium pipi kiri-kanan serasa masih membekas.
Bukan hanya tersenyum, dia pun tertawa lepas. Terus terang, saya agak tertegun dengan sikap Wina yang begitu hangat kok sampai segitunya. Baru belakangan saya dapat kabar, Wina masuk rumah sakit di kawasan Kebayoran karena serangan jantung. Dan tadi, sekitar pukul 16.20 WIB dari Grup WhatsApp “Persahabatan UI”, saya menerima kabar dukacita.
Selamat jalan, Wina. Kita sahabat selamanya.
Ciputat, 17.30 WIB.










