SUDUTPANDANG.ID – Pemerintah Tiongkok mulai menata ulang konten drama pendek atau dracin bertema romansa CEO di ruang digital. Kebijakan ini ditempuh untuk mengarahkan industri hiburan daring agar menghadirkan narasi yang lebih realistis dan selaras dengan nilai sosial yang ingin dibangun negara.
Melalui Administrasi Radio dan Televisi Nasional, otoritas Tiongkok resmi membatasi produksi serta penayangan microdrama yang menampilkan kisah klise hubungan antara tokoh CEO kaya dengan perempuan miskin. Genre tersebut dinilai kerap mempromosikan gambaran hidup instan, materialisme, serta relasi sosial yang tidak mencerminkan realitas masyarakat secara utuh.
Dalam pedoman baru yang diterbitkan pada akhir 2025, pemerintah meminta para kreator dan platform digital untuk lebih mengedepankan cerita yang berakar pada kehidupan nyata. Otoritas juga menekankan pentingnya membangun karakter yang kuat melalui kerja keras, proses, dan dinamika sosial yang wajar, alih-alih mengglorifikasi kekayaan atau kekuasaan semata.
Regulasi ini secara khusus menyasar dracin yang banyak beredar di platform digital seperti Douyin serta berbagai layanan streaming lokal. Selain membatasi tema tertentu, pemerintah juga mendorong pengurangan jumlah produksi drama bertema CEO yang dinilai terlalu dominan dalam beberapa tahun terakhir.
Otoritas turut mengingatkan agar judul dan materi promosi drama tidak bersifat provokatif atau menyesatkan. Penekanan diberikan pada peningkatan kualitas naskah, kedalaman konflik, serta karakterisasi tokoh utama yang mencerminkan keberagaman kondisi sosial di Tiongkok.
Kebijakan tersebut memantik perhatian publik, mengingat dracin bertema romansa CEO selama ini memiliki basis penonton yang besar, terutama di kalangan generasi muda. Pemerintah menilai popularitas genre tersebut berpotensi membentuk ekspektasi yang tidak realistis mengenai kesuksesan, hubungan sosial, dan mobilitas ekonomi.
Melalui penataan ulang ini, pemerintah Tiongkok berharap ekosistem hiburan digital dapat berkembang secara lebih sehat. Konten yang dihasilkan diharapkan tidak hanya menghibur, tetapi juga memperkuat nilai kerja keras, etika sosial, dan realisme kehidupan, sejalan dengan arah kebijakan budaya nasional di era digital.
Udin, warga Klender, Jakarta Timur, yang mengaku sebagai penggemar dracin di media sosial TikTok, menyayangkan kebijakan tersebut.
Ia mengatakan selama ini menonton dracin semata sebagai hiburan ringan. “Ya, sayang juga. Jadi enggak ada lagi, deh, CEO Grup Laguna, pengusaha Tiongkok,” ujarnya sambil tertawa.(01)









