Towel Kritik Sikap Sumardji Soal Komunikasi dan Framing Publik

Towel
Towel Kritik Sikap Sumardji Soal Komunikasi dan Framing Publik (Foto: SP)

JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID – Pengamat sepak bola nasional Tommy Welly, atau yang akrab disapa Towel menyoroti langkah Manajer Timnas Indonesia, Sumardji yang membeberkan kondisi internal tim usai kekalahan Garuda dari Arab Saudi pada lanjutan Kualifikasi Piala Dunia 2026. Menurut Towel, langkah tersebut tidak tepat secara etika komunikasi tim, terlebih saat skuad tengah membutuhkan suasana yang kondusif.

“Pernyataan publik tentang perdebatan di ruang ganti atau taktik tiga bek itu tidak bijak diungkapkan oleh seorang manajer. Seharusnya hal seperti ini cukup diselesaikan di internal,” ujar Towel dalam wawancara dengan salah satu televisi swasta, Sabtu (13/10/2025).

Towel menilai, tugas utama seorang manajer adalah menjaga stabilitas dan keharmonisan tim, bukan justru membuka persoalan taktis ke ruang publik. Ia khawatir pernyataan seperti itu justru bisa memunculkan persepsi negatif terhadap pelatih dan pemain, yang pada akhirnya memperkeruh suasana.

BACA JUGA  Shin Tae-yong: Pemain Harus Tampil Agresif Saat Lawan Vietnam

“Ketika manajer bicara tentang taktik dan perbedaan pendapat, publik bisa salah paham. Padahal, urusan teknis sepenuhnya menjadi wewenang pelatih kepala,” jelas Towel.

Menurutnya, komunikasi publik dari seorang manajer seharusnya berfungsi untuk menenangkan situasi dan memperkuat kepercayaan publik, bukan menimbulkan spekulasi baru.

Selain menyinggung manajer, Towel juga menyoroti maraknya konten media dan podcast pemain yang muncul setelah kekalahan dari Arab Saudi. Ia menilai situasi tersebut justru memperkeruh fokus tim di tengah periode penting.

Lebih jauh, Towel menilai munculnya narasi “coba-coba” terhadap pelatih Patrick Kluivert sebagai bentuk framing yang keliru.

“Istilah ‘coba-coba’ itu framing yang tidak adil. Tidak mungkin pelatih di level seperti ini bereksperimen asal-asalan. Semua keputusan formasi tentu berdasarkan analisis dan kebutuhan strategi,” tegasnya.

Menurut Towel, perbedaan skema tiga atau empat bek adalah bagian dari fleksibilitas taktik. Ia mencontohkan bahwa dalam beberapa laga uji coba sebelumnya, Timnas juga sempat memainkan formasi empat bek dengan Jay Idzes, Kevin Diks, dan Rizky Ridho sebagai duet di lini belakang.

BACA JUGA  Spasojevic Buktikan Keganasannya

Towel juga menilai kritik publik terhadap pemain sering kali tidak proporsional. Ia mencontohkan Yakob Sayuri, yang sempat dipuji saat tampil apik melawan Bahrain dan China, namun kemudian dihujat saat bermain kurang maksimal.

“Hal yang sama juga terjadi pada Marc Klok, Beckham Putra, Rizky Ridho, atau Jay Idzes. Semua pemain pasti bisa melakukan kesalahan, tapi jangan sampai kritik berubah jadi hujatan,” katanya.

Menurut Towel, masyarakat perlu menunjukkan kedewasaan dalam mencintai sepak bola, terutama saat Timnas sedang berada dalam fase penting menuju Piala Dunia.

Towel menegaskan bahwa mayoritas pemain Indonesia belum memiliki pengalaman bermain di fase krusial seperti kualifikasi Piala Dunia, sehingga dukungan publik menjadi kunci penting untuk menjaga mental mereka.

BACA JUGA  Skuad Garuda ke Piala Asia 2023, Tae-yong Sudah Yakin Sejak Awal

“Semua pemain ingin tampil di Piala Dunia, tapi mereka masih belajar menghadapi tekanan di level ini. Justru sekarang waktunya kita memperkuat dukungan, bukan memperlemah semangat mereka,” tutup Towel.(PR/04)