Tragedi Kanjuruhan Mirip dengan Kasus Estadio Nacional Peru 1964

Doa untuk tragedi Kanjuruhan
Doa untuk tragedi Kanjuruhan

JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID – Tragedi Kanjuruhan yang menyebabkan 125 orang meninggal akibat kerusuhan pasca pertandingan pekan sebelas Liga 1 2022/2023 awal Oktober ini memiliki kesamaan penyebab dengan peristiwa yang terjadi di Estadio Nacional Peru pada tahun 1964.

Penyebab utamanya adalah penembakan gas air mata yang menyebabkan kepanikan dalam stadion. Sebab gas air mata memiliki efek mata perih dan sesak nafas dengan kondisi stadion yang padat suporter.

IMG-20220125-WA0002

Sebagai informasi tambahan, gas air mata adalah senyawa kimia yang untuk sementara dapat membuat orang kehilangan kemampuannya melihat. Gas ini juga bisa menyebabkan iritasi pada mata, mulut, gangguan kesehatan tenggorokan, paru-paru dan kulit.

Petugas kepolisian biasa menggunakan gas air mata untuk membubarkan massa saat terjadinya kerumuman orang yang ingin melakukan kericuhan.

Laga antara Arema FC menghadapi Persebaya Surabaya dengan skor 2-3 untuk kemenangan tim tamu tersebut menyebabkan massa kubu tuan rumah marah dan turun ke dalam lapangan. Hal ini pun direspons pihak kepolisian dengan menembakkan gas air mata hingga ke arah tribun. Hal tersebut ternyata memiliki dampak yang tidak diinginkan hingga banyak memakan korban di stadion.

Menurut Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Muhadjir Effendy mengatakan sebanyak 125 orang dilaporkan kehilangan nyawa di Stadion Kanjuruhan, Malang. Itu belum termasuk dengan total 302 orang mengalami luka ringan dan 21 orang mengalami luka berat.

“Semoga para korban yang berpulang diterima di tempat terbaik bersama Tuhan Yang Maha Esa. Keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan ini menjadi peristiwa terakhir di sepak bola Indonesia dan lebih baik lagi kedepannya,” ujar kapten Bali United, Fadil.

Catatan kematian yang terjadi di sepak bola Indonesia ini pun mendapat perhatian seluruh dunia. Tragedi Kanjuruhan menempati urutan ketiga di bawah Estadio Nasional Peru tahun 1964 dengan jumlah 328 korban meninggal dunia dan Accra Ghana tahun 2001 dengan total 126 korban meregang nyawa.

Dikutip dari BBC, tragedi Estadio Nacional Peru menjadi tragedi sepak bola terburuk di dunia. Kejadian bermula saat tuan rumah tertinggal 0-1 dari Argentina dalam babak kualifikasi untuk turnamen sepak bola Olimpiade Tokyo.

Tuan rumah kemudian menyamakan kedudukan, namun gol dianulir oleh wasit asal Uruguay Ángel Eduardo Pazos. Keputusan dari wasit itu membuat marah para penggemar Peru, yang memutuskan untuk menyerbu lapangan.

Polisi membalas dengan menembakkan gas air mata ke kerumunan untuk mencegah lebih banyak suporter menyerbu lapangan permainan. Namun hal itu justru menyebabkan kepanikan hingga kematian.

Mereka yang meninggal dunia menderita pendarahan internal atau sesak napas akibat berdesak-desakan saat berusaha untuk keluar stadion.

Dilaporkan pertandingan tersebut disaksikan sekitar 53.000 penonton atau 5 persen populasi Ibu Kota Lima. Penonton yang panik menuruni tangga dan pintu yang tertutup. Semua yang meninggal terbunuh di tangga hingga ke permukaan jalan, sebagian besar karena pendarahan internal atau asfiksia.

Jumlah korban tewas resmi adalah 328, tetapi ini mungkin terlalu rendah karena kematian akibat tembakan tidak dihitung dalam perkiraan resmi.

Sudah saatnya Indonesia berbenah akibat perisitiwa duka yang melukai Kanjuruhan bahkan sepak bola Indonesia di mata dunia.

Akibat tragedi ini, kompetisi Liga 1 2022/2023 sementara dihentikan oleh operator Liga selama dua pekan kedepan dan berpotensi bertambah tergantung hasil investigasi yang dilakukan dalam permasalahan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.