TANGERANG SELATAN – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kota Tangerang Selatan (Tangsel) menyampaikan permohonan maaf atas insiden pengusiran sejumlah wartawan oleh petugas keamanan saat hendak meliput perkembangan kasus perundungan di SMPN 19, Senin (17/11).
Kepala Dinas Dikbud Tangsel, Deden Deni, mengakui pihak sekolah tengah berada dalam tekanan setelah kasus perundungan tersebut menyita perhatian publik.
“Iya, kami mohon maaf. Mohon dimaklumi, situasi sekolah memang sedang tertekan,” ujar Deden saat ditemui di SMPN 19 Tangsel, Selasa (18/11).
Deden menjelaskan, insiden pengusiran wartawan diduga terjadi akibat miskomunikasi antara petugas sekolah dan awak media.
“Insiden itu mohon dimaklumi. Mungkin ada miskomunikasi di lokasi antara teman-teman wartawan dan pihak sekolah. Kami minta maaf, termasuk dari pihak sekolah,” katanya.
Dinas Dikbud memastikan, ke depan akses informasi bagi wartawan akan lebih terbuka. Deden menegaskan bahwa jurnalis dapat langsung menghubungi pihak sekolah apabila membutuhkan klarifikasi atau wawancara.
“Mudah-mudahan ke depan informasi yang teman-teman butuhkan bisa lebih mudah diakses melalui pihak sekolah,” ujarnya.
Deden juga meminta wartawan memahami kondisi sekolah yang kini terguncang setelah kasus perundungan yang mengakibatkan seorang siswa meninggal dunia. Ia mempersilakan media datang langsung ke sekolah untuk melakukan wawancara, namun tetap memperhatikan waktu belajar.
“Silakan kalau ada yang mau ditanyakan ke sekolah, mungkin saat jam istirahat saja, jangan saat jam belajar,” tuturnya.(tim)










