Pameran Otomotif: Bertambahnya Merek Mobil dan Sinyal Ekonomi ‘Rojali’

Pameran Otomotif: Bertambahnya Merek Mobil dan Sinyal Ekonomi 'Rojali'
Herry Sinamarata.(Foto: Dok. Pribadi)

“Fenomena ‘Rojali’, rombongan jarang beli menjadi sinyal bahwa daya beli masyarakat kelas menengah ke atas masih selektif, memengaruhi pertumbuhan pasar otomotif dan ekonomi nasional.”

Oleh Herry Sinamarata

“Kebanyakan merek mobil justru membuat bingung konsumen,” ujar seorang pengunjung pameran otomotif Indonesia International Motor Show (IIMS) 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita membuka IIMS 2026, Kamis (5/2/2026). Pameran tahunan ini diikuti 35 merek mobil, 26 merek motor, dan ratusan merek industri pendukung. IIMS akan berlangsung selama sepuluh hari, hingga 15 Februari 2026.

Bertambahnya merek mobil membuat konsumen bingung memilih kendaraan idaman, sekaligus menambah tantangan bagi eksekutif perusahaan otomotif.

“Sekarang jualan mobil lebih sulit. Persaingan makin ketat dengan kehadiran merek Korea dan China yang ekspansif,” kata seorang praktisi industri otomotif.

Penurunan daya beli masyarakat, ditambah sikap wait and see”dari kelas menengah ke atas, turut menekan penjualan. Beberapa eksekutif bahkan memilih mengundurkan diri karena sulit memenuhi target.

BACA JUGA  Peradilan Jalanan dan Peradilan Hukum

Penurunan Penjualan dan Efek Konsolidasi

Data Gaikindo menunjukkan total penjualan mobil nasional pada 2025 mencapai 803.687 unit secara wholesale dan 833.692 unit secara ritel. Penjualan ritel turun 6,3 persen dibandingkan tahun 2024.

Penurunan ini mendorong perusahaan otomotif melakukan konsolidasi dan efisiensi besar-besaran. Brand besar tidak hanya mengalami penurunan volume penjualan, tetapi juga pangsa pasar dan keuntungan. Stok mobil menumpuk, dan beberapa prinsipal bahkan memanggil eksekutif kembali ke negara asal karena dinilai gagal memenuhi target.

Meski pasar masih dikuasai merek Jepang, tren mobil listrik meningkat, didorong insentif pemerintah. Produsen mobil listrik asal China pun memperluas ekspansi di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, dengan booth besar dan produk futuristik. Harga mobil listrik berkisar antara Rp 200 juta hingga Rp 1 miliar.

Sinyal Ekonomi ‘Rojali’

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi 2025 sebesar 5,11 persen. Pemerintah menargetkan pertumbuhan 6 persen pada 2026, salah satunya melalui peningkatan daya beli masyarakat.

BACA JUGA  Adakah Prospek Perkembangan Ekonomi Islam di Bawah Pemerintahan Prabowo?

Fenomena window shopping dan perilaku “rombongan jarang beli” (Rojali) menjadi perhatian ekonom. Jika masyarakat kelas menengah ke atas terlalu selektif dalam membelanjakan uang, pertumbuhan ekonomi diperkirakan stagnan di kisaran 5 persen.

Bank-bank besar telah menyiapkan strategi mendorong konsumsi, termasuk melalui penyaluran kredit kendaraan bermotor dan rumah. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita optimistis pasar domestik akan pulih, dengan proyeksi penjualan mobil nasional mencapai sekitar 850.000 unit pada 2026 atau naik 5,4 persen dibandingkan 2025.

Momentum Menjelang Ramadan

IIMS 2026 ditutup menjelang Ramadan, periode yang strategis karena banyak konsumen membeli mobil untuk mudik. Berbagai jenis mobil ditawarkan, mulai dari compact, MPV keluarga, hingga mobil mewah. Hampir semua booth menawarkan diskon dan teknologi terbaru, baik dari merek lokal maupun impor, termasuk mobil listrik China dan mobil Eropa seperti Citroen C3.

Kesepakatan dagang dengan Uni Eropa dan Amerika Serikat juga memungkinkan diskon bea masuk untuk beberapa mobil impor, mendorong harga lebih kompetitif.

BACA JUGA  Politik yang Menyatukan dan Pemilu yang Menggembirakan

Tantangan dan Peran Pemerintah

Meski potensi pasar otomotif Indonesia besar, terlalu banyak merek yang bersaing bisa membuat industri tidak efisien. Pemerintah berperan penting sebagai regulator untuk menentukan arah pengembangan industri otomotif nasional, dengan aturan yang jelas, transparan, dan konsisten. Presiden Prabowo juga menekankan pentingnya keberadaan mobil nasional buatan Indonesia.

*Penulis adalah wartawan senior yang lama berkarier di Harian Kompas, anggota Forum Wartawan Kebangsaan